Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Patah Chuy


__ADS_3

Warung Makan Bu Midi


Savitri berpamitan dengan Bu Midi usai makan yang super banyak demi keamanan bersama antara perut, otak dan emosinya. Kelaparan itu bisa mengakibatkan cranky yang tidak berujung hingga membuat emosi naik.


Ketika dirinya berjalan keluar, sebuah suara membuatnya menoleh.


"Dik Savitri..."


Savitri membeku dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa pak Ekadanta?" Savitri berbalik dengan memberikan wajah dingin.


"Aku... aku mau minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman."


"Terang saja pak. Saya harus berkata apa lagi kalau saya tidak memiliki perasaan apapun sama bapak! Bukan karena fisik atau pun pekerjaan bapak, tapi karena saya tidak memiliki chemistry pada bapak. Coba dipikir pak Ekadanta, anda mengikuti saya sedemikian rupa hingga masuk ke gedung bioskop, apa itu tidak keterlaluan?" omel Savitri mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Aku cemburu melihat kamu jalan dengan Abian!"


"Tapi bapak bukan apa-apanya saya! Baru mencoba pdkt dengan saya, anda sudah sedemikian stalking saya. Saya malah takut sama bapak! Paham?"


Ekadanta mendekati Savitri. "Karena saya mencintai kamu, Dik!"


"Tapi saya tidak mencintai bapak! Saya masih ingin bekerja pak! Saya baru enam bulan menjadi guru, menjadi PNS. Saya masih ingin menikmati hidup sebagai guru bimbingan konseling tanpa harus memikirkan kisah asmara yang membuat pening!" balas Savitri judes.


"Kenapa kamu susah sekali menerima perasaan saya?"


"Karena sikap bapak yang membuat saya tidak nyaman. Mungkin gadis lain suka mendapatkan perhatian macam bapak, tapi bukan saya. Jadi tolong pak, tolong sekali lagi, jangan harapkan saya. Karena bapak akan kecewa harus menunggu sesuatu yang tidak pasti. Permisi." Savitri pun meninggalkan Ekadanta yang masih berdiri di depan warung makan Bu Midi.


***


SMKN 11 Surakarta


"Bu Savitri!"


Savitri mengentikan langkahnya dan tampak pak Agus menghampirinya.


"Njih pak Agus?"


"Nanti malam jadi kan Bu?" bisik Pak Agus.


Savitri tersenyum. "Nanti malam saya dan mas Abian akan jemput bapak."


"Oh siap! Sungguh saya penisirin Bu!"


"Penasaran pak."

__ADS_1


"Penisirin ah! Kan beyond penasaran" kekeh Pak Agus.


"Terserah bapak deh!" cengir Savitri. "Saya ke ruangan saya dulu pak."


"Monggo."


***


Malam harinya Savitri dan Abian sudah meluncur ke tempat yang disepakati sebelumnya, halte bis Solo Square. Dan tampak Pak Agus dan Ita Listiyo sudah duduk disana lalu keduanya masuk ke dalam mobil bewarna merah itu.


"Pak Agus, Bu Ita, perkenalkan ini kakak sepupu saya mas Abian. Mas, ini boss aku pak Agus dan ini Bu Ita."


"Senang bertemu dengan anda semua" salam Abian dengan bahasa Indonesia fasih.


"Lho ta kira mas Abian nggak bisa bahasa Indonesia je" celetuk Pak Agus.


"Saya bisa bahasa Indonesia pak Agus" senyum Abian. "Ini benar kesini Sav?" tanya Abian saat melihat map yang diklik oleh Savitri.


"Benar. Kita kesana."


Setengah jam kemudian mobil merah itu tiba di sebuah bangunan yang dipakai karaoke bernama KTV Gold.


"Pak Agus, Bu Ita. Disini lah pak Herman bertemu dengan Nina enam bulan lalu. Nina bekerja sebagai kasir untuk membantu biaya sekolahnya dan pak Herman mengancam Nina untuk dilaporkan ke sekolah. Dan sebagai bayaran nya, anda tahu sendiri kan?" Savitri membalikkan tubuhnya ke arah dua orang di belakang.


"Jadi Nina bekerja disini Bu?" tanya Pak Agus.


Wajah Ita tampak kesal dan marah luar biasa mendengar penjelasan Savitri.


"Makanya saya bilang ke Bu Ita, harusnya pak Herman yang ibu hajar, bukan Nina. Gadis berusia 17 tahun masih labil emosinya dan terkadang fantasi mengalahkan logika dan kenyataan."


"Lalu kenapa kita ibu bawa kemari?" tanya Ita dengan emosi yang ditahan.


"Just wait."


Sepuluh menit kemudian tampak Herman turun dari motornya bersama dengan seorang wanita yang dari dandanan nya adalah bukan wanita baik-baik. Kedua orang yang berada di dalam mobil melongo melihat keduanya masuk ke karaoke itu. Beruntung kaca mobil Savitri gelap ditambah mereka parkir di tempat yang agak temaram, semakin tidak terlihat.


"Astaghfirullah Al Adzim..." Pak Agus beristighfar berulang kali sedangkan Ita mengepalkan tangannya.


"Bu Savitri mengetahui ini bagaimana?" tanya Ita dengan nada bergetar.


"Saya penasaran Bu. Jadi Minggu malam saya dan mas Abian kemari untuk mencari keterangan soal Nina. Tapi kami pun juga terkejut melihat pak Herman mabuk dan maaf, berbuat tidak senonoh dengan salah satu purel. Sayang kami tidak mendapatkan bukti video."


"Apakah saat itu pak Herman pulang ke rumah?" tanya Abian ke Ita.


"Tidak pak Abian. Mas Herman bilang akan menginap di rumah ibunya." Ita menutup wajahnya. "Ya Allah, aku rasa kami akan baik-baik saja tapi kenapa dia masih saja bajingan?"

__ADS_1


Savitri dan Abian saling berpandangan.


"Maksudnya gimana Bu?" tanya Abian.


"Saya kira saya bisa merubahnya menjadi lebih baik ternyata tidak cukup semua di matanya." Wajah Ita tampak sendu dan air mata meleleh di pipinya.


"Maka dari itu, saya bilang buat apa dipertahankan lanangan macam itu!" ucap Savitri geram. "Kalau bisa sih, pengen ta gundul manuke!"


"Hush! Savitriii..." tegur Abian.


"Bu Ita, saya bisa membantu jika ibu ingin berpisah dengan pak Herman. Karena dilihat dari sisi manapun ini sudah melanggar norma juga" sahut pak Agus.


"Bagaimana kalau kita masuk dengan membawa bukti-bukti agar besok saat di persidangan mempermudah prosesnya." Abian menawarkan. "Saya memang membawa body cam yang tidak terlihat."


"Boleh Pak Abian. Saya ingin tahu apa yang dilakukan oleh suami saya di dalam!"


***


Keempat orang itu masuk ke dalam gedung karaoke itu dan manajernya yang sudah mengenal Abian dan Savitri, memberikan kode ruangan mana yang dibooking oleh Herman.


Tanpa basa-basi, keempatnya langsung menuju ruangan itu dan Ita membuka pintunya. Betapa terkejutnya dia melihat si wanita tadi berada diatas pangkuan suaminya dan keduanya sedang bercum*Bu panas.


"Mas Herman!" jerit Ita membuat keduanya terkejut.


Ita yang sudah marah hingga ke ubun-ubun langsung mendorong wanita itu dan tampak mereka rupanya sedang berhubungan intim. Savitri memalingkan wajahnya yang langsung dipeluk oleh Abian karena adegan tidak patut dilihatnya.


"Ngene ya kelakuanmu! Ta kruwes tenan!" Ita langsung meremas milik suaminya penuh emosi dan Herman menjerit kesakitan hingga terdengar suara retakan membuat Pak Agus dan Abian melongo.


"Duh patah deh!" celetuk Abian.


***


Note


Mungkin banyak yang penasaran, benarkah bird bisa patah? Sebagian orang menganggap itu hanya hoax. Namun, faktanya bird bisa patah, meski hal tersebut jarang terjadi. Bird patah bisa terjadi saat ada trauma pada bird yang ere*ksi.


Sumber Halodoc.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2