
SMKN 11 Surakarta
Pagi ini Savitri memanyunkan bibirnya ketika mendapatkan email berupa undangan reuni SMP nya di Jakarta. Undangan untuk satu dekade angkatan nya dan dua angkatan diatas nya yang membuatnya kesal.
Alamat ketemu si gerombolan rusuh binti reseh! Ingat Sav, kamu lebih baik memakai celana panjang, diusahakan jeans jadi kalau kejadian gelut lagi, enak nendangnya! Savitri hanya bisa menghela nafas panjang. Enaknya bawa si Ahjussi nggak ya?
Anita dan Dina yang melihat rekannya hanya inhale exhale tidak jelas dengan wajah manyun binti galau, akhirnya terkepo juga.
"Kamu kenapa Sav? Berantem sama Oppa Korea mu?" tanya Anita penasaran.
"Hah?" Savitri menatap Anita. "Siapa yang berantem? Wong kami lagi mesra-mesranya dan anget-angetnya macam wedang ronde, kok dikira gelut!"
"Lha kamu kayak gitu sih, inhale exhale, macam wong meh babaran ( macam orang mau lahiran )" ucap Dina yang sudah memiliki anak remaja.
"Ora Popo, Bu Dina, mung galau wae ( Tidak apa-apa Bu Dina, cuma galau saja )" jawab Savitri.
"Tumben galau sampai kayak gitu. Ayo, sini-sini, cerita sama Bu Anita yang baik hati tapi doyan makan" ujar Anita dengan bergaya sok memberikan konseling.
"Idiihhh! Kok kayak aku muridmu wae tho Nit!" cebik Savitri sambil manyun.
"Lha Wis piyeee. Aku kan dadi rak mudeng karepmu opo ( Habis gimana. Aku kan jadi tidak paham maumu apa )" balas Anita.
"Aku tuh ada reuni SMP di Jakarta" jawab Savitri akhirnya.
"Terus?" Dina ikutan kepo. Kali ini mereka hanya bertiga di ruangan karena Bu Titi sedang mendatangi rumah wali murid.
"Alamat bertemu dengan musuh jaman SMP yang sempat aku hajar!"
Dina dan Anita hanya melengos. "Ternyata kamu sudah bar-bar sejak orok!" komentar Dina.
"Aku yakin, di dalam perut ibumu dulu, sudah mulai latihan pukul dinding rahim" timpal Anita.
"Kok kamu tahu Nita? Jangan-jangan pengalaman pribadi" kekeh Savitri.
"Lha habis kamunya brojol bentukannya begini, brutal dan bar-bar" balas Anita judes.
"Masa sih? Aku anaknya kalem lho..." gumam Savitri.
"Kalelembut iya!" sahut Anita.
"Apaan tuh kalelembut?"
"Kayak lelembut!"
Savitri melongo. "Lu kira gue setan apa?"
"Kadang elu kalau ngamuk kan ngalahi setan!" gelak Anita yang diikuti Dina.
"Reseh lu!"
__ADS_1
***
Kediaman Keluarga Pratomo Manahan Solo
"Jadi kamu ada reuni bulan depan di Jakarta?" tanya Jaehyun saat makan malam bersama dengan Savitri. Kedua orang tua Savitri sudah kembali ke Jakarta untuk bekerja di PRC Group.
"Iya. Benarnya malas kesana tapi aku penasaran..." jawab Savitri sambil memakan tempe gembus goreng tepung.
"Apa perlu aku temani? Jujur aku juga penasaran seperti apa orang-orang yang dulu membully gadisku." Jaehyun menatap serius ke Savitri.
"Yakin Oppa? Nggak malu kalau mendengar cerita buruk tentang aku?"
"So? Toh itu masa lalu. Kalau kamu masih terpancang dengan masa lalu, berarti kamu tidak mampu untuk melangkah di masa depan. Karena selalu mengingat masa lalu yang buruk, hanya akan jadi penghalang kamu untuk berubah menjadi lebih baik."
Savitri tersenyum ke pria yang meskipun Membagongkan tapi sikap dewasanya mampu membuat Savitri ayem. Selama setahun terakhir ini mereka pacaran, boleh dibilang dirinya dan Jaehyun jarang bertengkar hebat. Mungkin karena kami tahu posisi dan porsi kami masing-masing.
"Apa Oppa mau menemani aku?" tanya Savitri.
"No problemo. Lagipula, aku juga bisa bertemu dengan beberapa anggota keluarga kamu yang ada di Jakarta kan?"
Savitri tersenyum manis. Ini yang aku suka dari pacar depan rumah. Tidak takut bertemu dengan anggota keluarga aku!
***
"Jadi kamu mau ke Jakarta?" tanya Dara Giandra ke keponakannya. Usai Jaehyun pulang, Savitri melakukan panggilan video ke tantenya itu.
"Iya Tante. Yang di Jakarta kan Tante Dara, Tante Naina, Maira, bang Gozali, Rain. Opa kadang kabur ketemu besan di London" jawab Savitri.
"Nasib deh punya keluarga hobinya minggat ke luar Indonesia jadi jauh-jauhan" sungut Savitri.
"Nggak papa, Sav, namanya juga mereka kerjanya disana" ucap Dara lembut. "Kamu sama siapa ke Jakartanya? Apa pakai pesawat milik keluarga Pratomo?"
"Sama pacar aku Tan, pacar depan rumah. Beneran depan rumah! Kami naik pesawat komersial kok Tan, nggak pakai pesawat Daddy."
"Biar nanti Gozali yang jemput kamu ya Sav. Nginap sini saja, kalau mas Reza dan mbak Andira nggak ada di Jakarta."
"Tante Dara sepi ya pada kabur ke Amerika" gelak Savitri.
"Iya lho Sav. Cuma berduaan sama Oom Abi, jadi balik jaman awal nikah dulu dan kamu tahu, Oom Abi mu itu makin mbocahi, macam anak kecil" gelak Dara.
"Adaraaaa! Aku dengar lhoooo!"
Dara dan Savitri cekikikan mendengar protes Abimanyu Giandra yang juga ayah Ghani dan Rhea Giandra.
"Padahal Oom Abi sudah jadi Opa, kok Soyo kayak cah cilik ya ( kok makin seperti anak kecil )" kekeh Savitri.
"Maklum lah, baru bisa ngompeni Tante lagi setelah sebelumnya kan Tante dikompeni sama Ghani, Gozali dan Rhea."
"Owalaahhh, Oom Abi, Oom Abi. Tan, apa masih suka ribut sama Oom Edward? Soalnya kata bang Duncan, berdua itu biangnya Julid, ngalah - ngalahin pakdhe Mike dan Oom Manggala."
__ADS_1
"Kamu bakalan lihat sendiri lah nanti kalau kamu disini. Pusing lho denger mereka ribut sampai-sampai aku sama mbak Yuna itu mikir, mereka berdua macam pasutri saja" gelak Dara.
"Adaraaaa! Aku masih normal lho! Masih doyan punya kamu!" teriak Abi.
"Astaghfirullah! Oom Abiiiii!" jerit Savitri gemas.
"Mas Abiiiii! Itu mulut mbok ya direm kenapa sih!" omel Dara ke suaminya.
"Halah! Savitri udah gedhe juga! Paham lah apalagi dia anak psikologi" sahut Abi cuek.
Savitri hanya memegang pelipisnya.
Pantas Bang Duncan suka kesal dengan mertuanya, wong kacau begitu juga!
***
SMKN 11 Surakarta
Savitri menghadap pak Agus untuk mengajukan cuti bulan depan selama empat hari untuk menghadiri acara reuni SMP nya di Jakarta.
"Cuti Bu Savitri tahun ini sisa sepuluh hari lho" ucap Pak Agus.
"Iya pak. Kalau bukan ada sesuatu, saya gak bakalan datang pak ke acara reuni itu."
"Apa Bu Savitri ada sangkutan ke teman-teman SMP?" tanya Pak Agus.
"Sangkutan hutang, insyaallah nggak ada sih pak tapi saya penasaran tentang kehidupan orang-orang yang dulunya membully saya. Apakah membaik atau makin menjadi hingga merusak populasi bumi" jawab Savitri asal.
"Kalau mereka kehidupannya tidak baik?"
"Berarti saya wajib bersyukur bahwasanya Allah baik dengan saya."
"Kalau mereka kehidupannya baik?"
Savitri tersenyum. "Saya juga bersyukur mereka tidak kesulitan."
"Tapi memang kita itu hidup Wang sinawang Bu Savitri" ucap pak Agus.
"Itu saya setuju. Makanya kita itu wajib bersyukur dengan apa yang kita dapat."
***
Sawang sinawang (bahasa Indonesia: memandang dipandang/saling memandang) adalah sebuah ungkapan bahasa Jawa tentang perilaku membanding-bandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain. Pepatah ini mengandung ajaran untuk tidak membanding-bandingkan kehidupan seseorang dengan orang lain, karena apa yang dipandang belum tentu seindah atau semudah yang tampak.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️