Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Savitri, Rain dan Elang


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Pagi ini Savitri datang bersama dengan nona Saki kesayangannya, apalagi ini hari Senin dimana harus mengikuti upacara bendera. Kedatangan guru cantik bar-bar dengan motor gonjrengnya tetap saja menarik perhatian banyak murid disana meskipun sudah sering melihatnya. Gadis cantik itu melepaskan helm full facenya dengan diiringi suara ‘ooooohhhhh’ para siswa prianya yang terkesima melihat gurunya itu.


“Ono opo cah?” tanya Savitri ke arah gerombolan murid-muridnya yang baru saja datang.


“Nikmat mana yang kau dustakan ya Allah. Pagi-pagi diparingi ( dikasih ) pemandangan yang membuat adem mata” ucap salah satu siswanya.


“Eh? Awas nek kowe ( kalau kamu ) mikir aneh-aneh!” ancam Savitri.


“Nggak berani buuu, daripada digundul anunya” teriak para muridnya heboh.


Savitri terbahak. “Sudah, kalian siap-siap upacara sana!”


“Asyiiiaaapppp!”


***


Ruang Bimbingan Konseling


Savitri mulai melepaskann jaket dan menyimpannya bersama dengan helm mahalnya lalu mengambil tas berisikan rok yang harus dikenakan pagi ini. Anita sendiri menunggu sahabatnya berganti pakaian setelah sebelumnya memakai celana jeans hitam dan sepatu boot kesayangannya.


“Yuk upacara” ajak Savitri setelah menyimpan semua barang-barangnya.


“Kira-kira hari ini ada drama nggak ya?” gumam Anita.


“Drama apaan?”


“Si Ahmad lah! Berani nggak dia punya malu, mengakui bahwa anaknya memang memiliki gangguan karakter. Suka peeping tom.”


“Kayaknya nggak punya nyali, balls apalagi.” Savitri menatap Anita.


“Kalau dia berani datang?”


“Salut gue!” Suara notifikasi di ponselnya berbunyi. “Ya ampun! Rain!”


“Kenapa Sav?”


“Nggak papa. Urusan keluarga.”


Keduanya pun menuju lapangan upacara untuk mengikuti upacara hari ini.


***

__ADS_1


“Pagi ini, saya sebagai kepala sekolah akan mengumumkan bahwa guru anda, Pak Ahmad resmi mengundurkan diri dari sekolah kita. Anda semua tahu kan pada akhirnya terjadi peristiwa yang membuat tiga guru kita dipanggil kepolisian. Dan sebelum pak Ahmad berpisah dengan kita, beliau ingin menyampaikan sesuatu kepada anda semua. Silahkan pak Ahmad.” Pak Agus memberikan tempat kepada pak Ahmad yang membuat Savitri, Dina dan Pak Felix melongo. Ketiganya tidak percaya bahwa guru itu berani menepati janjinya pada mereka.


Para siswa dan siswi yang baru saja melaksanakan upacara bendera pun tampak kasak kusuk setelah mendengar slentingan bahwa anak pak Ahmad akhirnya ditahan karena perbuatan asusila merekam siswi perempuan yang sedang melakukan buang hajat di kamar mandi.


“Assalam mualaikum. Selamat pagi semuanya. Sebenarnya saya berat melakukannya tapi saya harus karena saya sudah berjanji. Saya Ahmad, sebagai ayah dari Saundra yang anda semua sudah dengar kabarnya. Ya benar, putra saya sudah melakukan kesalahan dan benar saya melindungi putra saya dengan sedemikian rupa karena saya tidak mau… Yah, namanya orang tua meskipun anak salah tetap dibela.”


Savitri dan Anita saling berpandangan.


“Di kesempatan ini, saya dengan lubuk hati terdalam, atas nama putra saya yang sekarang berada di tahanan, saya meminta maaf kepada para korban dan saya sudah mendatangi orang tua mereka satu persatu kemarin tapi saya juga berkewajiban meminta maaf kepada seluruh rekan guru terutama bu Savitri, bu Dina dan pak Felix dan juga kepada pak Agus sebagai kepala sekolah. Saya sadar bahwa sebagai orang tua, ada waktunya kita membiarkan mereka bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dilakukan apalagi jika perbuatan itu sangat salah. Dan… saya memutuskan untuk mengundurkan diri bekerja di SMKN 11 ini meskipun dengan berat hati. Saya sudah tidak memiliki muka berhadapan dengan anda sekalian. Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas semua kesalahan saya selama saya mengajar disini. Terima kasih.” Pak Ahmad menundukkan kepalanya lalu turun dari tempat inspektur upacara dan mendatangi pak Agus sembari membungkuk minta maaf.


“Aku tidak menduganya” gumam Dina.


“Aku pun. Karena kita tahu kan bagaimana bangsa kita itu sangat sulit untuk meminta maaf meskipun itu sepele? Tapi aku salut dia berani melakukannya.” Savitri menatap pak Ahmad mendatangi rekan gurunya satu persatu sambil membungkuk minta maaf. Hingga ke barisan Savitri, Dina, Anita dan bu Titi.


“Bu Savitri, Bu Dina, saya sungguh minta maaf. “


“Sama-sama pak Ahmad. Saya juga minta maaf jika saya terlalu bar-bar dan ceplas ceplos…” ucap Savitri sambil menerima salaman pak Ahmad.


“Bu Dina, maafkan saya ya bu…” Pak Ahmad berpindah ke Dina.


“Saya juga pak Ahmad. Maaf jika saya terlalu galak.”


“Mboten bu Dina, justru karena kalian semua, saya jadi melek. Anak saya salah dan saya juga salah sampai-sampai saya sombong membawa-bawa keluarga saya padahal saya tidak tahu kalau diatas langit masih ada langit. Tolong sampaikan pada pak Neil Blair, kami tidak jadi memakai jasa ayahnya karena saya akan meminta kepada saudara saya untuk bertanggung jawab atas semua perbuatannya.”


“Njih bu, maturnuwun.”


***


Usai upacara, Savitri bergegas menuju ruang meeting bimbingan konseling untuk menghubungi Rain. Dirinya sangat shock melihat adegan mesra Rain dengan Elang di danau dan mereka berciuman sangat panas. Dasar mafia panasan! Pasti di ranjang hot juga tuh!


PLAK!


Savitri mengeplak jidatnya. Otak lu ngeres amat Savitriiiii! Oppa juga panas kok!


“Wis hop! Jangan kebanyakan pikiran tidak seno*noh Bambaaannggg!” teriak Savitri gemas dengan dirinya sendiri.


“Siapa yang pikiran tidak seno*noh mbak?”


“Gue! Eh Rain! Kamu itu apa-apaan sih? Gila lu ya! Jeremy masih dihukum di London, Inggris! INGGRIS! Bisa-bisanya kabur ke Jakarta? Apa kabar itu gelang kaki kayak reog yang dipasang? Kok bisa dilepas? Kamu tuuuhhhh!” omel Savitri tanpa berhenti.


“Demi bertemu denganku mbak…”


“Allahu Akbar! Bokap lu kan di Jakarta, Rain!”

__ADS_1


“Iya.”


“Tahu?”


“Tahu.”


“Terus?”


“Aku ancam pakai cara mbak.”


Savitri melongo. “Caraku? Caraku yang mana?”


“Aku sama Elang bakalan kawin lari di Senayan sambil jogging.”


Savitri memukul jidatnya. “Nggak harafiah juga Raaaaiiiiiinnnnn! Ya Allah Gustiiii!”


Rain cekikikan.


“Senang tapi kan Rain? Gila itu si Jeremy! Demi ketemu sama kamu… Salut gue!”


“Bang Duncan masih ngamuk.”


“Halah! Biarin saja si hulk blonde ngamuk! Tar aku adu ke Rhea, paling juga mengkeret itu ototnya!” sarkasme Savitri yang membuat Rain terbahak.


“Mbak Sav, kalau aku nikah duluan, nggak papa?” tanya Rain.


“Kamu sudah yakin sama Jeremy?”


“Iya…” jawab Rain malu-malu.


“Jika kamu sudah mendapatkan kebahagiaanmu, ambilah. Mbak Sav kan hanya kakak sepupu kamu, bukan mbak kandung kamu. Kalau kamu mau ngelangkahi mbak Sav, gak masalah. Karena Oppa sudah bilang kami mungkin insyaallah akhir tahun tepat dua tahun mbak Sav jadi PNS.” Savitri menjawab lembut.


“Makasih mbak, Rain sayang mbak Sav.”


“Mbak juga.”


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don’t forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️😊❤️


__ADS_2