
Hotel Dana Slamet Riyadi Surakarta
Abian masih mengobrol dengan Savitri, sepupu angkatnya. Dalam hatinya pria itu sebenarnya menyukai Savitri yang bar-bar tanpa jaim tapi janjinya dengan Joshua dan Duncan untuk melindungi semua sepupu perempuannya, membuat Abian membuang rasa itu.
Savitri sendiri juga tidak ada perasaan dengannya jadi lebih mempermudah mengalihkan perasaan Abian dari jatuh cinta menjadi menyayangi sebagai kakak ke adiknya. Apalagi dirinya tidak masuk syarat gadis itu, kurang membagongkan.
"Titania apa kabar mas?" tanya Savitri ke Abian yang memang sedang menjalin hubungan dengan seorang artis.
"Bubaran."
"Lho kok? Mas, elu tuh udah 25 tahun. Harusnya udah mau nikah macam pianis durjana itu."
"Mau gimana Sav, memang tidak cocok. Sudahlah, aku nikmati kejombloan ini" ucap Abian dramatis.
Savitri tersenyum sok prihatin. " Jodohmu masih on the spot."
"On the way, cumiii."
"Yang penting maksud." Savitri menyesap minumannya.
"Habis ini mau kemana?" tanya Abian.
"Terserah pak turis lah!"
"Kemarin Neil ngapain ke Solo?"
"Kok tahu bang Neil kemari?"
"Gozali cerita kalau Neil ngedumel harus ke Solo pagi-pagi urus masalah kamu."
"Kasih pelajaran sama buaya celutak meskipun buaya aslinya binatang setia. Harusnya kucing garong ya?" gumam Savitri.
"Savitriii..." Abian menatap gemas ke adik cantiknya.
"Habis kurang ajar mas. Bisa-bisanya berani mau mukul aku! Belum tahu saja aku juara judo tingkat SMP dan SMA dia. Jadi sebelum dia gampar aku, ta bogem duluan lah!"
"Ampun deh adikku satu ini."
Suara notifikasi di ponsel Savitri membuat dirinya manyun.
"Kampreeettt!" umpat Savitri.
"Kenapa?"
"Muridku hampir mati melakukan aborsi!" Savitri yang bergegas untuk pergi dari tempat kondangan itu. "Kita ke rumah sakit mas!"
"Aku yang nyetir Savitri. Kamu kasih ancer-ancer nya." Abian meminta kunci mobil Savitri yang diberikan gadis itu.
Kepergian keduanya yang tampak terburu-buru membuat Ekadanta mengerenyitkan dahinya. Pria itu hendak menyusul Savitri tapi tangan ibunya menahannya.
"Kamu mau kemana? Arep nyusul cah wedhok mau ( Mau nyusul gadis itu )? Nggo opo ( buat apa )? Rak perlu ( Tidak perlu )! Dia sudah ada pacarnya!" bentak ibu Ekadanta.
"Tapi Bu..."
"Sampai kapan pun ibu tidak kasih restu ke kamu kalau masih ngeyel sama cewek murahan itu!"
Ekadanta hanya menatap sendu ke ibunya. "Savitri tidak murahan Bu!"
"Buktinya dekne dicium sama bule itu di depan orang banyak tidak mengelak! Opo ora murahan itu!"
Ekadanta terdiam. Apa benar dia tidak ada bedanya dengan Herman ? Tapi Savitri kan single jadi bebas sama siapa saja. Nggak, Savitri tidak murahan.
Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang. Susahnya karena aku tidak tahu siapa dirimu aslinya Savitri.
__ADS_1
***
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta
Savitri dan Abian bergegas menuju IGD setelah mendapatkan informasi dari ibu Nina bahwa putrinya meminum cairan obat nyamuk untuk bunuh diri dan menggugurkan kandungannya.
"Pak Santo! Bu Santo!" panggil Savitri ke kedua orang tua Nina Triana yang sedang berpelukan bertangisan.
"Bu Savitriii..." Ibunda Nina itu langsung menghambur memeluk Savitri.
"Bagaimana dengan Nina?" tanya Savitri sambil memeluk Bu Santo.
"Tidak baik, Bu Savitri. Eh maaf ini..."
"Saya Abian, kakak sepupunya Savitri. Saya ikut prihatin" Abian mengulurkan tangannya yang disambut pak Santo.
"Iya mas Abian. Eh? Kok bisa bahasa Indonesia?"
"Saya ada keturunan Indonesia dan keluarga kami meskipun bule, tetap bisa bahasa Indonesia."
"Kronologis nya gimana?" Savitri menatap Bu Santo.
"Tadi pagi sepertinya Nina jalan - jalan cari jajanan pasar dan ternyata pulang - pulang kok tampak sedih. Lalu masuk kamar, jajanannya ditinggal di atas meja makan. Habis itu tidak keluar-keluar sekitar sejaman terus bapaknya ketuk-ketuk pintu buat ajak makan tapi tidak ada jawaban... Pintu kamarnya untungnya nggak dikunci dan Nina...Nina..." Bu Santo menangis lagi.
"Nina sudah terkapar dengan mulut berbusa... Kami teriak-teriak dan tetangga heboh. Pak RT langsung mencari air kelapa muda buat netralisir racun. Dan kami segera bawa ke rumah sakit..." sambung Pak Santo.
Savitri menatap kedua orangtuanya Nina itu. "Apakah Nina dibully tetangga atau apa?"
"Kami kurang tahu Bu" jawab Pak Santo.
"Bisa jadi kena omongan seseorang yang membuat..."
"Maaf, bapak ibu orangtuanya mbak Nina..." suara seorang dokter membuat keempatnya menoleh.
"Saya minta maaf Bu, janinnya tidak dapat diselamatkan tapi mbak Nina, masih bisa kita selamatkan..."
Kedua orangtua Nina itu tampak lega tapi juga sedih luar biasa karena kabar kehilangan calon cucunya.
"Ini muridmu yang dihamili sama rekan gurumu?" bisik Abian ke Savitri.
"Iya."
"Aku rasa, kamu harus lebih melakukan pendekatan psikologis ke muridmu. Bukan tidak mungkin dia mengalami trauma dan depresi."
Savitri menatap Abian. "Aku akan bantu Nina semampu aku, mas. Tapi kalau aku tidak mampu maka aku akan limpahkan ke teman aku yang psikolog di rumah sakit sini."
"Aku tahu karena kamu tugasnya harus dilakukan di sekolah sedangkan Nina sudah bukan muridmu kan?"
"Mas Abian tahu dari siapa?"
"Neil lah!"
"Hadddeeehhh..."
***
Abian dan Savitri masih menunggu di rumah sakit PKU Muhammadiyah jalan Yosodipuro sambil memakan camilan yang dibelikan pria itu. Beruntung hari ini adalah hari Minggu jadi rumah sakit pun lebih lengang.
Ponsel Savitri berbunyi dan tampak nama 'Ahjussi' disana.
"Ahjussi? Kamu punya kenalan Oom-oom Korea?" ledek Abian.
"Dia memang ahjussi. Halo Jaehyun Oppa" sapa Savitri.
__ADS_1
Abian hanya tersenyum.
"Aku di rumah sakit, Oppa... Bukan... Aku nggak papa... Hah? RS PKU Muhammadiyah... Iya aku kirim lokasinya... Oke" Savitri menutup ponselnya.
"Siapa Sav?"
"Pria Korea. Namanya Kim Jaehyun."
"Pekerjaan?" Abian menatap adiknya.
Savitri mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan kartu nama Jaehyun.
"Dia anaknya Kim Young-ji? Pemilik pabrik tekstil Korea Selatan dan beberapa di Indonesia. Dia punya pabrik di Sukoharjo dan Sragen."
"Kok mas Abian tahu?" Savitri membolak-balik kartu nama itu.
"Kan AJ Corp ada kerjasama dengan mereka soal kain."
"Ooohh..." Savitri pun meletakkan kepalanya di bahu Abian. "Aku lelah sekali mas. Kasus Nina benar-benar menyebalkan!"
"Apa kamu penasaran apa yang membuat Nina pulang dengan membuat dirinya berpikir seperti itu?" Abian menatap wajah cantik itu.
Savitri mengangkat kepalanya. "Yuk kita selidiki!"
"Butuh pernyataan Nina dulu cantik!"
Savitri pun manyun.
"Savitri-ya."
Savitri dan Abian pun menoleh ke arah suara dimana Jaehyun berdiri disana mengenakan hoodie hitam.
"Oppa... Ngapain kesini?" tanya Savitri bingung.
"Katanya kamu masuk rumah sakit."
"Issshh bukan aku tapi muridku!"
Jaehyun tidak menjawab tapi langsung duduk di sebelah Savitri membuat gadis itu berada diantara dua pria tampan.
"Siapa ini Savitri-ya?"
"Oppa, ini Abian Smith, kakak sepupu aku. Mas Abian, ini Jaehyun Oppa."
Kedua pria itu saling berjabat tangan di depan Savitri.
"Kamu apanya Duncan Blair?" tanya Jaehyun.
"Aku tim IT nya. Kamu putranya Kim Young-ji kan?"
"Ternyat dunia sempit ya..." senyum Jaehyun.
Savitri hanya menatap keduanya bergantian.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift comment
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️