Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Guru Bar-bar


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Savitri tiba ke sekolah menggunakan Vespanya dan seperti biasa dia berjalan menuju ruang kerjanya ketika Ekadanta menghampiri dirinya. Dirinya baru saja melakukan kunjungan ke rumah salah satu muridnya.


"Selamat siang dik Savitri" sapa Ekadanta.


Jiaaahh! Siang-siang kok ada penampakan demit tho Yaaa. Apa gara-gara semalam mimpi dicium Ji Chang Wook jadinya apes aku hari ini?


"Siang pak Ekadanta."


"Dik Savitri rumahnya dimana?"


"Nggak saya bawa pak. Berat! Dan saya bukan kura-kura atau siput yang bawa rumahnya kemana-mana" cengir Savitri dengan wajah polos.


Ekadanta tersenyum. "Dik Savitri tuh lucu deh."


"Maap pak, saya bukan badut dan pelawak jadi jangan diajak stand up comedy."


Ekadanta hendak membuka mulutnya ketika terdengar ribut-ribut di ruangan kepala sekolah tempat mereka hendak menuju ruangan masing-masing.


"Ada apa mbak Yuni?" tanya Savitri ke sekretaris kepala sekolahnya.


"Pak Herman marah-marah karena mendapatkan surat peringatan dari Dinas" jawab Yuni.


"Soal apa?" tanya Ekadanta.


"Kabarnya pak Herman yang menghamili Nina Triana. Pak Agus mendapatkan bukti-bukti dan sudah melaporkan ke Cabag Dinas Pendidikan dan Badan Kepegawaian Daerah."


"Astaghfirullah" ucap Ekadanta sedangkan Savitri diam saja. "Bisa dipecat tuh mbak Yuni, apalagi dia kan sudah menikah. Kok ya nekad banget main sama muridnya sendiri."


"Lho pak Ekadanta tahu pak Herman sudah menikah?" tanya Savitri.


"Tahu lah. Wong kita semua datang ke acara nikahan nya setahun lalu." Ekadanta berbisik di sisi telinga Savitri. "Tapi sudah DP duluan sih pak Hermannya."


"Berarti memang wong Lanang ora Ceto ( tidak jelas )! Senjatane mung Kon***!" umpat Savitri gemas membuat kedua orang disana melongo mendengar kata kasar dari guru cantik itu.


"Astaghfirullah dik! Bahasamu..."


"Lha pancen iya kok!" Savitri pun menatap judes ke Yuni dan Ekadanta.


Tak lama pintu ruang kerja pak Agus terbuka dan tampak wajah Herman yang memerah menahan amarah.


"Bu Savitri! Kamu kan yang melaporkan saya ke pak Agus!" bentak Herman ke Savitri yang hanya menatap pria itu dengan tenang.


"Kalau iya kenapa pak? Saya memang melaporkan bapak ke pak Agus karena Nina adalah anak asuh saya! Saya yang harus bertanggung jawab kepada orang tua Nina!" Savitri menatap ke Herman dengan galak. "Tapi anda! Anda malah merusak gadis itu ! Eling pak! Sampeyan punya anak istri!"


"Kamu memang tukang ikut campur!"


"Wong Lanang kok celutak! Ora iso bersyukur!" balas Savitri judes.

__ADS_1


"Kowe memang kudu dihajar!"


"Banci Kowe! Wanine Karo wong wedhok!" Savitri memasang kuda-kuda bersiap menghadapi Herman yang kalap.


Pria itu hendak menampar Savitri tapi sebelum tangan itu mengenai wajah cantiknya, gadis itu langsung membogem wajah Herman. Pria itu terhuyung dan langsung menerjang Savitri yang sudah siap dan langsung mencengkeram baju Herman lalu membantingnya ala judo.


Herman terkapar dan merasakan pusing setelah mendapatkan bantingan dan bogem dari guru cantik itu. Pak Agus, Yuni dan Ekadanta hanya bisa melongo melihat Savitri mengibaskan baju dan celana kerjanya dengan santai.


Gadis itu pun langsung berjongkok di sisi Herman. "Beruntung kamu hanya aku bogem dan banting. Padahal aku sudah berencana mengebiri manuk mu terus ta uncal Ning Bengawan Solo! Ojo mikir arep balas dendam sama aku pak, karena aku bisa membuat kamu tidak melihat matahari besok dalam sekejap!"


Savitri pun berdiri. "Jangan lupa nikahi Nina. Urusan Karo bojomu, Kuwi karepmu. Wong Kowe dhewe sing nggolek molo ( kamu sendiri yang mencari penyakit )! Wong Lanang ora mutu Kowe!"


"Rumangsamu Kowe ayu! Ora bakalan Ono wong Lanang gelem Karo Kowe! Wedhok kok bar-bar!" balas Herman.


Savitri tersenyum. "Setidaknya aku ora celutak kayak dirimu. Insyaallah, ada pria yang mau sama aku dan menerima kebar-baranku."


Gadis itu lalu menghadap pak Agus. "Nuwun Sewu pak, tapi saya membela diri saya."


"Tenang saja Bu Savitri. Kan ada CCTV disana" ucap pak Agus sambil menunjuk dua CCTV di depan ruang kepala sekolah.


"Oh pak Herman, saya akan melakukan tuntutan kepada anda karena berusaha melakukan kekerasan pada saya. Bukti dan saksi banyak. Jadi, makan hasil perbuatan kau!" Savitri berpamitan kepada semua orang disana lalu melenggang santai menuju ruangannya.


Ekadanta membantu Herman untuk bangun.


"Akan aku balas cewek sombong itu!" geramnya marah.


Pak Agus lalu menarik tangan Herman dan berbisik di sisi telinga pria itu. "Jika saya menjadi anda, saya tidak akan melakukan itu. Karena Bu Savitri adalah putri Reza Pratomo CEO PRC Group dan keponakan Rudy Akandra, CEO AJ Corp Solo. Anda akan habis kalau berani macam-macam."


***


Ruang Bimbingan Konseling SMKN 11 Surakarta


Savitri menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Sudah lama tidak melakukan acara banting membanting, membuatnya sedikit pegal. Apa pulang dari sekolah aku manjain diri dulu Yaaa?


"Eh Bu ibu ... Apa sudah dengar?" tiba-tiba Bu Titi datang dengan heboh.


*nama rekan2 Savitri aku ganti*


"Opo Bu Titi?" tanya Dina.


"Pak Herman jarene diundang Dinas dan BKD karena kasus menghamili Nina."


Semua orang menoleh ke arah Savitri.


"Kowe ngerti Vit?" tanya Anita.


"Ngerti. Makanya aku yang melaporkan ke pak Agus. Karena sebagai guru BK, aku ada tanggungjawab moral."


"Nina cerita sama kamu?" tanya Dina.

__ADS_1


"Iya. Aku korek lah!"


"Terus piyee Kuwi?" tanya Anita. "Iso dipecat lak an. Opo maneh dekne Wis PNS."


"Resikone Nit. Salahe ora iso ngerem manuke" balas Savitri cuek.


"Astaghfirullah! Savitriiiii!" jerit Dina mendengar ucapan unfiltered Savitri.


Guru cantik itu hanya nyengir.


***


MB Enterprise New York


Abian bersiap untuk pergi ke Solo karena dia rindu dengan Savitri. Pria berkacamata dan bertattoo itu sudah meminta ijin kepada sang ayah Bryan untuk liburan ke Solo.


"Kamu mau kemana Bian?" tanya Duncan Blair saat melihat sepupu angkatnya membawa koper dan tas ranselnya.


"Ke Solo D. Aku kangen si centil" kekeh Abian.


"Savitri? Atau Sabrina?" goda Duncan.


"Savitri lah D. Sabrina bisa diamuk Sofyan dan Joshua aku" gelak Abian.


Duncan hanya tersenyum. "Hati-hati Bian. Salam buat Sabrina dan Savitri ya."


"Thanks D!" Abian memeluk suami Rhea Giandra itu. "Aku pergi dulu."


"Kamu naik apa?" tanya Duncan.


"Garuda lah! Aku sudah memberikan semuanya ke George. Lalu Yuki yang akan membantu mu di sini." Abian Smith mengambil ranselnya dan menyeret kopernya. "Nanti aku bawakan daster yang banyak buat Rhea dan Tante Yuna."


Duncan terbahak. "Malah yang diingat bawa daster!"


***



Siapa kangen Duncan Blair?



Opanya Benjiro Smith


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2