
Savitri dan Anita hanya bisa menghela nafas panjang mendengar keributan antara Dina dan Felix sebagai koordinator dengan Ahmad dan Saundra yang mengeyel akan membawa ke ranah hukum.
Melihat dua belah pihak ribut, akhirnya Savitri menengahi.
"Sudah! Begini saja! Pak Ahmad dan mas Saundra tetap mengeyel tidak bersalah, tidak merasa melakukan hal seperti itu dan akan membawa ke ranah hukum, saya jabani!" bentak Savitri gemas. "Kamu ingat kata-kata saya ya mas Saundra kalau nanti anda kalah, jangan melepaskan tanggung jawab atas perbuatan tidak senonoh anda dan berlindung di balik ketiak bapakmu! Kamu sudah dewasa! Grown up! Dan jangan nangis kalau nantinya anda dipenjara karena perbuatan asusila!"
"Bu Savitri! Memangnya kamu berani melawan saya? Saya punya teman pengacara banyak di Solo! Dan saya yakin anda yang akan menangis nanti!" Pak Ahmad menatap judes ke Savitri begitu juga dengan Saundra.
"Silahkan! Saya tidak takut!" Savitri menoleh saat Dina dan Anita menowel dirinya. "Kami tidak takut! Dan jika nantinya terbukti, saya minta pak Ahmad melakukan permintaan maaf terbuka di hadapan semua guru dan para siswa dan orangtuanya yang anak-anaknya dilecehkan oleh anakmu! Sanggup?" tantang Savitri.
"Jika anak saya tidak bersalah?"
"Saya akan melakukan permintaan maaf terbuka di depan semua orang di sekolah!" balas Savitri gagah.
Pak Felix menatap kagum ke guru muda cantik itu. Benar-benar berani!
"Baik! Saya terima tantangan anda! Dan sekarang saya akan menuntut Anda ke hukum!" Pak Ahmad lalu menyeret Saundra keluar.
Setelah bapak dan anak itu keluar dari ruang meeting, tiga rekan Savitri langsung mengerubungi gadis itu.
"Kowe kiiee kewanen Sav ( Kamu itu terlalu berani )! Piyee nek awake dhewe sing kalah ( Gimana kalau kita yang kalah )? Kowe apa sanggup njaluk ngapuro Ning wong akeh ( Kamu apa sanggup minta maaf ke orang banyak )?" cecar Dina yang sekarang ikut panik.
"Ora pateken ( Tidak perduli )! Wong anake salah kok kakehan cangkem plus alasan ora Cetho ( Anaknya yang salah kok kebanyakan omong plus alasan nggak jelas )! Aku ora wedhi ( aku nggak takut )! Wong aku sing bener!" balas Savitri judes. "Belum tahu saja kalau Savitri ngamuk!"
"Aku uwis Bu ( aku sudah Bu )" kekeh pak Felix. "Jamannya Pak Safri."
Dina terbahak. "Pak Ahmad Karo Saundra durung tau rasakno keno sun karo dengkul ( Pak Ahmad dan Saundra belum tahu merasakan kena cium sama dengkul )!"
"Ih aku sing durung ndelok ( Ih aku yang belum lihat )!" cebik Anita.
"Telak Nit" gelak Dina.
"Wis gini kalau pak Ahmad atau Saundra macem-macem, bilang anak-anak itu merekamnya diam-diam agar kita semua punya bukti." Savitri menatap para rekan-rekannya.
***
Dan apa yang ditakutkan Savitri serta Dina terjadi. Pak Ahmad dengan tidak tahu malunya mulai meneror keempat siswi yang melaporkan pada Savitri beberapa hari ini. Mereka pun meminta untuk bertemu dengan Savitri di luar sekolah karena merasa tidak nyaman jika ketahuan menemui guru cantik itu di ruang bimbingan konseling.
"Gini saja, kalian tahu cafe yang dekat dengan stadion Manahan? Cold n Brew?" Savitri sedang melakukan panggilan video call di kamarnya bersama dengan empat siswinya itu.
"Tahu Bu!" jawab mereka berempat.
__ADS_1
"Kita bertemu di sana hari Sabtu jam sepuluh pagi. Kan libur tuh. Gimana? Tenang ibu yang traktir."
"Beneran Bu? Boleh apa saja?" tanya Putri yang memang paling gercep soal traktiran.
"Boleeeehhh!" kekeh Savitri.
"Asyiiik!"
Sengaja Savitri mengajak mereka menikmati acara seperti itu agar mereka tidak merasa terlalu trauma.
***
Jumat malam, acara makan malam di kediaman keluarga Pratomo
Jaehyun melongo mendengar penjelasan Savitri kenapa dirinya akan menemui para siswinya di cafe dekat kediaman mereka.
"Mereka direkam di kamar mandi?" Jaehyun tidak habis pikir dengan pola orang-orang dengan kelainan pola pikir seperti itu.
"Yup."
Sepulang mereka dari Jakarta, Jaehyun memang harus pergi ke Kuala Lumpur untuk urusan bisnis disana dan baru pulang Kamis malam jadi keduanya belum sempat bercerita banyak.
"Apa yang akan kamu lakukan? Mereka sudah main ancam siswi-siswi kamu terus sekarang kamu kena ancam sama si Ahmad?"
Jaehyun terkejut. "Kok berani banget?"
"Berani lah! Karena pak Ahmad merasa bakalan dilindungi hukum. Kamu tahu, kakak iparnya adalah jaksa di pengadilan tinggi, kakak kandungnya adalah seorang hakim, jadi dia merasa akan melenggang lepas dari jeratan hukum. Tapi kami tidak bodoh, Oppa. Semua bukti ancaman secara verbal dan digital, direkam semua oleh kami semua. Dan sudah disimpan sama mas Abian yang akan diberikan sebagai bukti ke bang Neil" cengir Savitri.
"Bagaimana tanggapan Neil?"
"Cuma komentar 'Kalau ini nggak cuma soto gading dan adem ayem lho ya. Tambah makan di diamond, oleh-oleh di Orient, soto widuran, martabak Jakarta dan dawet pasar Gedhe'. Ya aku jabani lah! Wong ramah di dompet aku!"
Jaehyun terbahak. "Baru kali ini ada pengacara yang mau dibayar dengan kuliner."
"Hanya bang Neil Blair yang gitu sama aku."
***
Sabtu Pagi
Savitri terkejut ketika melihat Neil Blair sudah berada di depan rumahnya bersama dengan Aurora, sang istri.
__ADS_1
"Whoah! What a surprise!" Savitri langsung memeluk keduanya.
"Ada yang pengen kuliner di Solo nih" kekeh Neil ke istrinya. Neil dan Aurora menikah mendadak di Las Vegas hanya gara-gara tantangan dari rekan pengacaranya disana. Acara resepsi dilakukan di New York tapi Savitri tidak bisa datang karena padatnya pekerjaan di sekolah.
"Mana pacar depan rumah kamu?" goda Aurora.
"Sebentar lagi datang buat sarapan disini" jawab Savitri cuek.
"Segera diresmikan lah Sav" goda Neil.
"Kata Oppa menunggu aku pas dua tahun jadi PNS jadi kemungkinan akhir tahun ini atau tahun depan."
"Assalamualaikum" sapa Jaehyun.
"Wa'alaikum salam" balas semua orang di dalam.
"Lho ada tamu?"
"Kim Jaehyun? Neil Blair" sapa Neil sambil mengulurkan tangannya yang disambut Jaehyun.
"Aku sudah bertemu dengan ayahmu, Oom Stephen Blair."
"Ohya, dia banyak cerita tentang kamu. Oh, perkenalkan ini istriku, Aurora." Neil memperkenalkan istrinya.
"Halo. Akhirnya bertemu juga pacar depan rumah Savitri" senyum Aurora yang blasteran Indonesia dan Inggris.
"Savitri-ya, ini yang acara respesi di New York yang kita tidak bisa datang ya?" Jaehyun menoleh ke arah gadisnya.
"Iya. Lagian nikah mendadak di Las Vegas! Apa kalian sudah DP duluan?" kerling Savitri usil.
"Enak saja!" Neil langsung menoyor kepala sepupunya. "Nggak lah! Bisa dibuang ke samudera Hindia sama Daddy !"
Savitri dan Jaehyun tertawa.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️