Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Savitri dan Imelda


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Savitri tampak tidak bisa konsentrasi bekerja apalagi mendengar sepupunya kena tembak meskipun itu hanya keserempet tapi tetap saja! Kakak ipar Duncan Blair itu memang bekerja sebagai detektif di NYPD dan tentu saja resiko terkena tembak itu ada.


"Kamu nggak papa Sav?" tanya Anita.


"Kepikiran saudara ku yang menjadi polisi. Kena tembak di bahunya" jawab Savitri.


"Astaghfirullah. Tapi nggak papa kan?" tanya Dina.


"Nggak papa sih, kan pacarnya dokter meskipun dokter mayat" gumam Savitri.


"Hah?! Dokter mayat? Maksudnya dokter forensik gitu?" Anita menatap sahabatnya.


"Ho oh!"


"Udah yuk kerja. Semester genap ini harus banyak kita persiapkan apalagi buat anak-anak kelas tiga." Bu Titi kembali berkonsentrasi dengan laptopnya.


Savitri pun mengikuti jejak rekan-rekannya mulai bekerja. Hari ini jadwal Savitri adalah mengkonseling para siswi yang menjadi korban pak Safri. Gadis itu bersama dengan Dina berusaha membuat trauma anak didiknya terkikis sedikit demi sedikit.


***


Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta


"Kamu jadi konselor setiap hari dong Sav" ucap Imelda, teman Savitri yang berprofesi sebagai psikolog di rumah sakit PKU Muhammadiyah. Savitri dan Imelda adalah teman seangkatan waktu di Universitas Indonesia.


"Iyalah, mereka lebih nyamannya sama aku jadi ya semampu aku kan, Mel" jawab Savitri yang sedang berada di rumah makan di depan rumah sakit. Siang tadi Imelda mengajak bertemu usai pulang kerja.


"Ada beberapa siswimu yang konseling ke aku, Sav. Katanya rekomendasi dari kamu."


"Habis, aku cuman ingat kamu. Kan gaya konseling kamu sama aku hampir sama tapi kamu nggak sepedas aku kalau ngomel" kekeh Savitri.


"Kamu tuh brutal! Sampai dosen kamu bantai soal filsafat... Padahal kamu masih kalah ilmu." Imelda menggelengkan kepalanya teringat Savitri berdebat dengan dosen filsafatnya tentang ajaran Socrates padahal dia masih mahasiswi semester tiga.


"Lha dia salah, ya aku benerin dong!" balas Savitri judes.


"Aku tahu kamu pintar, Sav. Ada kalanya kamu itu harus ngerem cara kamu protes."


"Mel, kalau ada guru yang memblasukkan ( salah ) apa ya kudu diem saja?! Guru juga bisa salah dan harus mau menerima kritik dong! Aku begitu dengan murid-muridku. Aku salah, mereka protes, ya ta Tampa ( terima ) karena aku posisi salah. Tapi nek aku benar, sampai kiamat aku pertahankan argumen aku!"


Imelda hanya tersenyum sambil menyesap minumannya. "Anaknya pak Reza Pratomo ya gini deh!"


Ayah Imelda adalah salah satu pengusaha rekan bisnis PRC Group jadi Imelda tahu seperti apa keluarga Pratomo bahkan ayahnya pernah bercerita bagaimana Adrian Pratomo berani menghajar pengusaha yang hendak mencurangi kontrak. Nggak heran kalau bisa besanan sama mafia Inggris. Imelda meringis saat mendengar Tante Nabila menikah dengan Mike Cahill, putra mafia Duncan McGregor.


"Memang kenapa anaknya pak Reza?" tanya Savitri polos.


"Sama brutalnya sama bapaknya dan opanya!"


"Berarti aku nggak salah gen dan DNA dong!" gelak Savitri durjana.

__ADS_1


Imelda memegang pangkal hidungnya. "Benar-benar deh keluarga kalian itu!"


Suara ponsel Savitri membuat dirinya menoleh. Tampak di layar tulisan 'Ahjussi Depan Rumah' disana.


"Pacar depan rumah elu?" tanya Imelda.


"Ho oh. Bentar. Assalamualaikum Ahjussi..." cengir Savitri yang hanya mendapatkan gelengan kepala Imelda.


Benar-benar pasangan Membagongkan! Imelda sudah beberapa kali bertemu dengan Jaehyun dan hanya bisa mengelus dada melihat kerusuhan pasangan itu.


"Aku ketemuan sama Imelda, Oppa... Bahas kerjaan... Iyaaa yang konseling itu ... Oke Oppa. Wa'alaikum salam."


"Ada apa dengan cowok Korea mu?"


"Tanya aku sudah pulang belum soalnya takut aku sakit kena hujan."


"Kamu tuh macam Superman atau Luffy. Kalau mereka itu kelemahannya kryptonite sama air laut, kamu malah air hujan."


"Hei, Gatotkaca juga punya kelemahan, Mel! Doi mokat gara-gara panah Kontawijaya yang dilepaskan sama Basukarna. Asal kamu tahu, waktu Gatotkaca brojol, itu tali pusar kagak mau putus chuy! Baru dipotong sama ujung Kontawijaya, baru deh copot. Ironisnya, doi juga mokat kena senjata yang sama yang dipakai memotong tali pusarnya."


Imelda melongo. "Kok elu tahu cerita perwayangan?"


"Gue demen baca Mel, apalagi Opa Adrian jawani banget biarpun kalau sudah keluar mafianya gedubrakan gitu. Nama gue kan juga dari perwayangan. Savitri atau Sawitri itu dikenal perempuan cerdas dan bisa melawan dewa pencabut nyawa yang membawa suaminya sampai akhirnya suaminya dibalikin hidup. Hidup beneran bukan jadi zombie!"


Imelda terbahak. "Gue tiwas serius dengerin, endingnya malah Zombie! Rusuh lu! Gue heran si oppa Korea betah ya sama elu."


"Gue limited edition, Mel. Coba, mana ada cewek Bagong macam aku?"


"Namanya Jawa banget."


"Siapa?" Imelda penasaran.


"Setiawan."


Imelda terbahak. "Gak cocok sama elu Sav!"


"Ntu dia!" ucap Savitri sambil manyun.


***


Kediaman Keluarga Pratomo Manahan Solo


Reza dan Andira menaikkan sebelah alisnya saat melihat putrinya baru pulang jam sembilan malam.


"Habis dari mana Sav?" tanya Andira sang mommy.


"Ketemu sama Imelda. Bahas pekerjaan" jawab Savitri sambil mencium pipi kedua orangtuanya.


"Imelda anaknya Matt Simmons?" tanya Reza. Imelda memang blasteran Amerika dan Indonesia.

__ADS_1


"Iya. Kan dia kerja disini sebagai psikolog di rumah sakit PKU Muhammadiyah." Savitri mengganti sepatu boot karetnya ke sandal rumah.


"Hebat! Tapi kalian berdua memang sama - sama pintar sih!" senyum Andira.


"Bedanya aku kerja di sekolah, dia di rumah sakit. Kebetulan beberapa muridku yang jadi korban pelecehan itu menjadi kliennya."


"Kamu yang rekomendasi?" tanya Reza.


"Iya Dad, soalnya gaya konseling aku sama Melda hampir sama."


"Ya sudah, mommy senang kamu masih berteman baik dengan Imelda. Anaknya baik kok" sahut Andira yang kenal bagaimana keluarga Imelda. Bahkan dulu gadis blasteran itu sering ke rumah keluarga Pratomo untuk belajar bersama.


"Iya mommy."


"Ohya. Tadi pacar depan rumah kamu kesini" celetuk Reza.


"Ngapain? Kan aku sudah bilang aku ketemuan sama Imelda."


"Minta makan." Reza pun ngeloyor masuk ke kamarnya.


Savitri melongo. Astagaaa Oppa satu itu! Benar-benar nggak tahu malu!


***


Keesokan harinya, Jaehyun pun sudah datang pagi-pagi dengan dandanan rapi dan disambut muka judes pacar depan rumahnya.


"Oppa! Kalau nggak ada aku, jangan minta makan lah!" gerutu Savitri.


Jaehyun mencium pipi gadisnya. "Tapi aku kan sudah bayar catering sama Mbok Mar. Harus dihitung dong Savitri-ya."


Savitri mencebik. "Dasar tukang perhitungan!"


"Lho harus dong Sav. Sebagai pengusaha harus dihitung supaya nggak rugi. Kita keluar berapa harus mendapatkan pemasukan dua kali lipat atau lebih dong!" Jaehyun merangkul bahu gadisnya menuju ruang makan.


"Pagi Jaehyun" sapa Andira yang sedang membawa piring berisikan sandwich.


"Pagi Tante Andira" balas Jaehyun sambil mencium punggung tangan ibu Savitri itu.


"Pagi Jae" suara Reza membuat semua orang menoleh.


"Pagi Oom Reza."


"Yuk sarapan" ajak Andira.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2