Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Dipanggil Polisi


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Senin pagi ini, sekolah tempat Savitri bekerja terjadi gegeran. Pak Ahmad membuktikan omongannya dengan menuntut Savitri, Dina, pak Felix dan empat siswa yang melaporkan pada Savitri itu ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan fitnah.


Empat anggota kepolisian memanggil Savitri, Dina dan pak Felix di ruang meeting dekat ruang kepala sekolah. Salah satu anggota kepolisian itu ada Damar yang merupakan kakak Davi, alumnus SMKN 11 yang sekarang sudah kuliah di UMS.


"Bu Savitri, Bu Dina, kenapa kita selalu sering bertemu ya?" kekeh Damar ke arah Savitri dan Dina yang tampak santai.


"Bosen ya pak Damar. Kena kasus melulu dengan kami" goda Savitri yang membuat Damar dan anggota kepolisian lainnya tersenyum mendengar ucapan guru cantik itu.


"So, apa yang dilaporkan oleh pak Ahmad, bapak-bapak?" tanya pak Felix.


"Pak Ahmad dan putranya mas Saundra melaporkan anda semua dan empat siswi SMKN 11 bernama Dilara, Melati, Putri dan Anisa, telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan fitnah. Mereka bilang, empat siswi itu menuduh mas Saundra sudah melakukan pelecehan dengan merekam mereka saat buang hajat di kamar mandi. Mas Saundra dan Pak Ahmad menolak tuduhan itu." Damar membacakan berita acara yang dibuat Pak Ahmad dan Saundra. "Disini juga ada nama jaksa Handri dan hakim Imam sebagai penjamin mereka."


"Hah! Mana ada maling ngaku!" sungut Savitri.


"Bu Savitri menolak tuduhan itu?"


"Jelas lah pak. Sekarang dinalar saja. Bayangkan anda sebagai seorang siswi yang sedang masuk kamar mandi, hendak pipis tapi melihat tangan yang merekamnya. Apakah anda akan diam saja? Kecuali anda seorang eksibisionisme yang main pamer barang pribadi anda, itu beda cerita. Dan orang itu berbalik menuduh korban fitnah dia? Kalau satu orang, okelah boleh tidak percaya. Sampai empat orang itu kan bukan fitnah!"


"Dan juga mereka melakukan teror ke kami" sambung Pak Felix. "Ini buktinya kalau anda semua tidak percaya." Koordinator guru itu memberikan ponselnya dan disana ada banyak pesan dari pak Ahmad kedirinya.


Sampeyan wani lapor ke polisi, aku sing laporan disik ( anda berani lapor polisi, aku yang laporan duluan ).


Anakku Dudu wong jahat! Kalian wanine fitnah anakku! ( Anakku bukan orang jahat! Kalian beraninya fitnah anakku ).


"Bu Savitri dan Bu Dina juga mendapatkan teror yang sama?" tanya rekan Damar.


"Ohya. Dan semua sudah kami arsipkan dan simpan sebagai barang bukti" jawab Savitri tenang. "Begitu juga dengan ancaman ke para siswi kami."


"Bapak - bapak sekalian. Saya tahu anda hanya menjalankan tugas tapi mari kita bermain logika disini. Keempat siswi kami tidak mengenal saudara Saundra jadi buat apa mereka memfitnah dia? Orang membuat fitnah karena benci dan ada pasalnya, tapi ini mereka tidak ada masalah sebelumnya tapi mereka yang jadi korban malah dituduh melakukan fitnah. Biasanya ya bapak-bapak yang pengalaman di dunia perkriminalitasan..."


Savitri dan pak Felix menoleh ke arah Dina. "Enthuk kata Seko Endi kuwi Bu ( dapat kata dari mana itu Bu )?" tanya Pak Felix.

__ADS_1


"Pokoke maksud lah, Ojo mbok laporke karo Bu Shinta, guru bahasa Indonesia. Iso diceramahi aku ora nganggo EYD ( Pokoknya maksud lah. Jangan dilaporkan ke Bu Shinta, bisa diceramahi aku tidak pakai EYD - Ejaan Yang Disempurnakan )" lirik Bu Dina judes membuat semua orang disana tertawa.


"Saya lanjutkan ya bapak-bapak. Jadi gini, biasanya orang yang bersalah itu jauh lebih berisik dan berusaha menutupi kesalahannya dengan menggunakan segala cara. Benar tidak?" Dina menatap ke keempat anggota kepolisian disana.


"Biasanya sih begitu, Bu Dina."


"Nah, saya mewakili para siswi saya yang dilecehkan akan menuntut balik ke pak Ahmad dan saudara Saundra, karena sudah mencemarkan nama baik saya, Bu Savitri, pak Felix dan empat siswi saya. Silahkan anda semua menanyakan pada kami kronologis nya kepada siswi kami dengan pendampingan dari kami dan pengacara."


"Bu Dina sudah mempersiapkan pengacara?" Damar menoleh ke Savitri. "Apakah pak Stephen Blair yang akan mewakili anda lagi?"


"Oh kali ini bukan beliau, tapi anaknya Neil Blair" seringai Savitri.


***


Neil Blair akhirnya datang ke kantor polisi guna pendampingan ke keempat siswi yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Pria berkacamata itu hanya tersenyum smirk membaca nama jaksa dan hakim yang menjadi backing pak Ahmad dan Saundra.


"Pak Darma, yakin dua orang ini menjadi backing saudara Ahmad dan saudara Saundra?" tanya Neil sinis.


"Apakah kalian pihak kepolisian tidak mengetahui bahwa dua orang ini sedang dalam pengawasan kejaksaan tinggi dan kejaksaan agung karena banyak kasus?" Neil menatap keempat penyidik itu.


"Bagaimana pak Neil tahu?"


"Karena keduanya mengajukan permintaan agar Daddy atau aku menjadi pengacara mereka."


***


Dua hari setelah Savitri, Dina, Pak Felix dan keempat siswinya dipanggil kepolisian, giliran pak Ahmad dan Saundra yang dipanggil untuk pemeriksaan silang. Dalam hal ini, Neil dan Aurora pun datang sebagai pengacara para guru dan siswi yang dituntut oleh Ahmad dan Saundra.


"Pak Ahmad, mas Saundra, ini pak Neil Blair, pengacara orang-orang yang anda tuntut dan ini Bu Aurora, asisten pak Neil. Karena Bu Savitri, Bu Dina dan Pak Felix kemarin sudah memberikan keterangan tertulis begitu juga dengan empat siswi yang anda seret, sekarang giliran anda untuk melakukan keterangan sebagai pemeriksaan silang dan ulang." Damar membacakan kembali tuntutan yang diajukan oleh pak Ahmad dan Saundra.


Neil hanya mendengarkan dengan seksama sedangkan Aurora seperti kebiasaannya membuat catatan di agendanya.


"Benar begitu kan pak Ahmad. Anda menuntut bahwa empat siswi SMKN 11 Surakarta bernama Dilara, Melati, Putri dan Anisa membuat fitnah bahwa putra anda merekam kegiatan mereka di kamar mandi sekolah. Padahal tidak ada bukti pada ponsel saudara Saundra."

__ADS_1


"Benar pak Damar" jawab Ahamd dan dijawab anggukan oleh Saundra.


Neil hanya menatap datar tanpa ada ekspresi begitu juga dengan Aurora yang sudah terbiasa menghadapi klien yang jauh lebih sulit dari ini. Diam-diam wanita cantik itu menuliskan sesuatu di agendanya.


Liar! Full of Bullsh1t!


Neil melirik ke arah istrinya sambil tersenyum samar.


Tiba-tiba terjadi kericuhan di luar ruangan Damar dan pintu pun terbuka dengan keras. Tampak seorang anggota perwira kepolisian wajahnya dipenuhi kemarahan yang semua orang bisa melihatnya.


"SIAPA YANG BERANI MELECEHKAN ANAK SAYA? MANA ORANGNYA?" teriak orang itu.


"Pak Salman! Sabar dulu!" bujuk salah satu rekannya.


"Bilang sama aku Damar! Mana yang namanya Saundra? Aku tidak terima anakku diperlakukan oleh penjahat padahal anakku yang jadi korban pelecehan! Mana Damar?" bentak Pak Salman. "Aku hajar orangnya!"


Pak Ahmad dan Saundra yang sudah terkejut serta gemetaran bertanya pada Damar. "Maaf pak Damar, siapa bapak ini?"


Damar tersenyum smirk. "Perkenalkan ini Iptu Salman, wakapolsek Sragen yang juga ayah kandung saudari Melati."


Wajah pak Ahmad dan Saundra langsung memucat.


Neil dan Aurora saling berpandangan. Savitri pasti bikin perkara.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2