
SMKN 11 Surakarta
Savitri tampak termenung di warung Bu Midi sedangkan Indomie rebus pesanannya baru berkurang dua sendok. Anita dan Bu Titi yang sedang bersamanya hanya bisa memandang guru cantik itu dengan perasaan bingung sebab baru kali ini Savitri tampak speechless.
"Sav? Are you okay?" tanya Anita.
"Nggak Nit..."
"Berantem sama pacar?" tanya Bu Titi, yang usianya paling senior dari keempat guru bimbingan konseling.
"Nggak, Oppa dan aku baik-baik saja."
"Terus kenapa?" Anita memperhatikan mie rebus milik Savitri sampai lodrok ( aku nggak tahu bahasa Jawa lainnya tapi setahuku ini yang biasa mamiku bilang kalau mie rebus sampai kematangan atau lembek kelamaan dimasak ).
"Aku nggak habis pikir sama anak jaman sekarang..." Savitri menghela nafas panjang. "Astaghfirullah Al Adzim... Mau dibawa kemana generasi kita selanjutnya."
"Memangnya ada apa sih?" tanya Bu Titi.
"Aku ceritain kalau kita sudah sampai di ruang BK. Langsung ke ruang meeting. Okay?"
***
Diamond Restaurant Slamet Riyadi Solo
Jaehyun dan Yudha mendatangi restauran yang terkenal dengan Chinese Food dan dimsum nya. Apalagi restauran ini buka 24 jam membuat semakin banyak pecinta kuliner bisa menikmati hidangan lezat malam sekalipun.
Mereka masuk ke area tengah dan melihat Rudy Akandra bersama dengan asistennya disana. Ayah Joshua dan Sabrina itu melambaikan tangannya ke Jaehyun.
"Mr Akandra" sapa Jaehyun ramah.
"Jaehyun. Apa kabar?"
"Baik Mr Akandra. Kabarnya anda baru datang dari Tokyo?" Jaehyun pun duduk bersebelahan dengan mantan asisten Hiroshi Al Jordan.
"Iya, nikahnya keponakan aku. Eiji Reeves. Kenal?"
Jaehyun menggelengkan kepalanya. "Saya tidak kenal, Sir tapi saya lebih mengenal Joshua Akandra."
Rudy terbahak. "Tentu saja kamu kenal dengan putra saya. Bukankah kalian mengenal dari Savitri. Ngomong-ngomong, bagaimana hubungan mu dengan keponakan ku itu?"
Percakapan mereka terhenti ketika seorang pelayan memberikan menu dan mereka pun memesan makanan. Setelah pelayan itu pergi, keduanya pun melanjutkan percakapan.
Rudy Akandra
Babang Jae
"Savitri? Well, kami lebih mirip saya berlangganan catering di rumahnya" kekeh Jaehyun.
"Catering?" Rudy menaikkan sebelah alisnya.
"Kata Savitri begitu karena setiap malam saya makan malam ke rumahnya."
Rudy tertawa. "Owalaahhh, Savitri... Savitri."
"Begitulah."
"Apa kalian pacaran?" tanya Rudy.
__ADS_1
"Saya tidak bisa bilang kami berpacaran tapi lebih ke teman yang saling membutuhkan. Anda pasti sudah mendengar kalau Savitri kena stalking. Dan saya membantu Savitri agar tidak diganggu."
"Apakah kamu ada perasaan khusus dengan anak bar-bar itu?"
"Well, saya tidak berani takabur bahwa kami tidak akan memiliki hubungan tapi kami lebih nyaman dengan persahabatan kami."
"Just enjoy your friendship with Savitri."
"Of course."
***
SMKN 11 Surakarta
Anita dan Bu Titi menatap Savitri dengan tatapan tidak percaya tentang siswa yang diseretnya tadi pagi.
"Astaghfirullah Al Adzim. Yang benar?" Anita menyelidiki wajah sahabatnya.
"Aku rasa anak itu tidak berbohong."
"Tapi... " Bu Titi harus menghela nafasnya berulang kali. "Aku tidak tahu siapa yang bisa disalahkan. Apakah ibu tirinya atau hormon remaja."
"Dari sisi manapun, pihak yang adult yang harusnya sadar bahwa itu salah. Anak usia 13-14 tahun adalah fase ingin tahu yang sangat besar. Apalagi kegiatan sek*sual yang something new, something curiosity dan sesuatu yang enak-enak." gumam Savitri. "Jujur hari ini aku benar-benar jelek moodnya."
"Apa kamu mau pulang duluan?" tanya Anita.
Savitri menggelengkan kepalanya. "Kita selesaikan tugas baru kita pulang seperti biasa."
***
Manahan Solo
Jaehyun tiba di rumahnya menjelang Maghrib dan segera membersihkan diri lalu menjalankan ibadahnya. Malam ini dia akan datang ke rumah Savitri sambil membawakan martabak manis dan telor. Apalagi dirinya ingin menikmati makanan manis asin disertai sake.
Pria itu mengganti pakaiannya dengan kaos lengan panjang yang ditariknya hingga ke siku dan celana jeans belel nya.
"Malam pak Dewo" sapa Jaehyun ramah.
"Malam mas Jaehyun. Mbak Savitri ada kok di dalam."
"Ini buat bapak." Jaehyun menyerahkan satu kantong berisi martabak. "Buat teman jaga rumah."
"Wah makasih lho mas." Pak Dewo menerima bungkusan martabak itu.
Jaehyun pun berjalan masuk tapi baru beberapa langkah, dirinya dipanggil oleh Pak Dewo.
"Ada apa pak?" tanya Jaehyun.
"Mas Jaehyun, nanti tolong dihibur ya mbak Savitri nya."
"Memang kenapa?"
"Tadi pas pulang, wajah mbak Savitri tampak mendung. Kayak ada yang dipikir."
"Apa si Ekadanta ganggu dia lagi?"
Pak Dewo menggelengkan kepalanya. "Biasanya kalau dia diganggu oleh guru itu, pulang marah-marah, ngomel nggak jelas. Tapi ini. berbeda."
Jaehyun menatap pintu rumah Savitri. "Mungkin ada masalah di sekolah tapi bukan guru itu."
"Iya mas. Tolong ya. Saya mending lihat mbak Savitri marah-marah nggak jelas daripada diam begitu. Lebih mengerikan."
Jaehyun terbahak. "Diamnya orang receh lebih seram ya pak?"
__ADS_1
"Iya mas. Kan jadi gimana gitu."
Jaehyun mengangguk. "Coba nanti aku coba ngobrol dengan Savitri-ya."
Jaehyun pun berjalan menuju pintu utama rumah Savitri dan memencet bel nya. Gadis itu sendiri yang membukakan pintunya.
"Assalamualaikum." Jaehyun menyapa sambil tersenyum.
"Wa'alaikum salam" jawab Savitri lesu. "Masuk Oppa."
"Are you okay?"
Savitri menggelengkan kepalanya.
"Ini aku bawakan martabak Jakarta. Kamu kan suka tho? Ada manis dan telor."
"Bik Mar, tolong ambilkan piring ceper panjang buat martabak" teriak Savitri yang membuat Jaehyun melongo.
Fix! Ini anak lagi ada masalah!
"Oppa, Oppa makan ya, aku cuma menemani" ucap Savitri sambil duduk di kursinya setelah memindahkan martabak dari kotaknya ke piring besar.
"Kenapa kamu tidak makan bersama?" tanya Jaehyun sambil mengambil nasi. "Ini lauknya enak banget! Sop iga lho."
Savitri menatap sendu Jaehyun.
"Makan sedikit lah, ga usah pakai nasi nggak papa. Tapi temani aku makan."
Savitri akhirnya mengalah dan menggado iga tanpa nasi dan Jaehyun memuji Bik Mar tentang masakannya yang enak.
Usai makan malam, keduanya duduk di ruang tengah sambil membawa piring berisikan martabak dan dua botol minuman.
Savitri lalu menyetel televisi layar besarnya dan menikmati acara musik disana.
"What happened Savitri-ya? Apa Ekadanta mengganggu kamu lagi? Kalau iya, besok kamu aku antar."
Savitri menggelengkan kepalanya.
"Lha terus kenapa?" tanya Jaehyun bingung. "Apa kamu ribut dengan rekan kerjamu? Siapa namanya, Anita atau Titi atau Dina?"
Lagi - lagi Savitri menggelengkan kepalanya.
"Apa dong? Aku kehabisan amunisi. Apa muridmu?"
Savitri mengangguk.
"Muridmu kenapa?"
Savitri tidak menjawab. "Oppa, boleh aku peluk?"
"Ada apa?"
"Hatiku benar-benar nggak enak."
Jaehyun mengangguk dan Savitri memeluk tubuh Jaehyun dan menangis disana. Pria itu lalu memeluk tubuh gadis itu.
"Menangis lah kalau memang bisa melegakan hatimu."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️