
SMKN 11 Surakarta
Abian mengantarkan Savitri ke sekolah tempat dia bekerja dan seperti biasa gadis itu mencium pipi sepupunya. Suatu hal yang biasa di keluarga besarnya, mereka selalu memeluk dan mencium pipi sepupunya yang berbeda gender.
"Aku nanti ke bang Joshua ya. Urus pekerjaan seperti biasa" senyum Abian.
"Yoi mas. Aku natar anak-anak dulu yaaa" pamit Savitri.
"Hati-hati. Jangan judes-judes!" kekeh Abian.
Savitri tersenyum sambil membuka pintu mobilnya. Disana dia sudah ditunggu Anita yang diantar oleh keponakannya dan keduanya pun masuk ke dalam sekolah sedangkan Abian melajukan mobilnya menuju area Solo Baru.
***
Rumah Al Jordan Solo Baru
Abian hanya bisa melongo ketika masuk ke dalam rumah melihat Miki dengan manjanya minta pangku Joshua.
"Kamu nggak lagi hamil kan mbak?" tanya Abian melihat tingkah Miki yang tidak pernah berubah selalu manja dengan Joshua.
"Eh nggak lah! Aku menikmati seperti ini mumpung nggak ada anak-anak. Kalau ada mereka, aku nggak bisa manja sama bang Joshua" kekeh Miki centil.
"Udah kepala tiga masih saja lebay" gerutu Abian.
"Makanya cari jodoh, Bian. Titania gimana?" tanya Joshua yang 11-12 dengan istrinya tampak tidak peduli bermesraan di depan adik sepupunya.
"Bubaran. Tidak cocok jadwalnya." Abian menghembuskan nafasnya. "Dia terlalu menikmati dunia musiknya." Titania adalah seorang penyanyi yang menjadi backing vokal banyak grup band terkenal.
"Bukan karena dia ada yang lain kan Bian?" tanya Miki dengan nada prihatin.
"Untungnya tidak. Kami berpisah baik-baik."
"Semoga kalian masih ada jodoh karena aku suka gadis itu" senyum Miki.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Joshua.
"Sudah tadi di rumah Savitri."
"Yuk temani kita sarapan. Kalau masih kenyang kan kamu bisa ngopi saja" Miki pun bangun dari pangkuan Joshua menuju meja makan.
***
Ruang Bimbingan Konseling SMKN 11 Surakarta
Savitri tampak berkonsentrasi untuk menyelesaikan tugasnya sebelum ke Tokyo bulan depan. Pengajuan cuti gadis itu sudah turun dan pak Agus pun sudah memberikan ijin karena Savitri tidak lama ke Jepang nya namun dengan syarat semua log untuk tahun ajaran baru sudah selesai semuanya.
Tak heran wajah guru cantik itu tampak serius membuat ketiga rekannya menatapnya tidak percaya.
"Vit! Savitri!" panggil Anita.
"Hhhmmm!" balas Savitri yang masih mengetik laptop nya.
"Kamu masih buat log? Bukannya batasnya sampai tanggal 15 Juni ya?" Kali ini Dina yang bersuara.
"Kan aku mau minggat!" sahut Savitri cuek.
__ADS_1
"Haaah? Kowe arep minggat Ning Endi?" tanya Titi.
"Diajak dulurku kondangan ke Tokyo" jawab Savitri.
"Wuuuiiihhh enake... Melu enthuk ( ikut boleh )?" tanya Dina.
"Bayar dhewe akomodasi nya pulang pergi nek gelem ( kalau mau )."
Anita tertawa terbahak-bahak. "Kapok lu Nyah!"
"Dih, mbok dulurmu bayari aku sisan..." Dina memasang wajah sok imut.
"Nyah Dina, nduwe pasport ora?" Savitri menatap Koordinator nya.
"Gawe kan iso. Cepet."
"Wis ngejoke ( ngajuin ) cuti? Kowe koordinator lho Nyah!" seringai Savitri licik.
"Aduh! Apes tenan! Aku ora iso Ning endi-endi ( aku nggak bisa kemana-mana )!" keluh Dina.
Savitri hanya memberikan senyum menyebalkan.
"Assalamualaikum.."
Sebuah suara membuat keempat guru bimbingan konseling itu menghentikan tawanya. Tampak seorang wanita paruh baya dan seorang pria tampan yang mungkin sebaya Savitri dan Anita datang ke ruang bimbingan konseling.
"Wa'alaikum salam" spontan keempat guru itu membalas salam keduanya. "Maaf ibu siapa ya?" tanya Dina yang kebetulan mejanya dekat dengan pintu masuk.
"Saya ibunya Davi dan ini kakaknya Damar. Kami mau bertemu dengan Bu Savitri" ucap ibunya Davi itu.
***
"Ya ampun anak itu!" umpat Damar yang kesal dengan adiknya yang beda sepuluh tahun.
"Jadi ya Maap ya Bu, mas Damar, kalau kemarin saya agak judes marahi Davi. Habis bikin gemas saya. Kalau tidak ingat KPAI, sudah saya bejek-bejek tuh pipinya!"
Ibu Davi dan Damar tertawa mendengar ucapan Savitri.
"Tapi memang anak itu hobinya bikin ulah sih Bu" kekeh Damar. Baru tahu kalau guru bimbingan konseling si Davi cantik begini.
"Terus Davi gimana Bu enaknya?" tanya sang ibu.
"Saya minta ibu dan mas Damar banyak ajak Davi ngobrol bahwa bahasa Inggris itu bukan momok. Di jaman sekarang, tidak bisa bahasa Inggris tuh nggak banget!" Savitri menatap serius ke arah kedua tamunya.
"Njih Bu Savitri. Nanti anak nakal itu saya kasih tahu."
Tak lama kedua tamu Savitri pun mengundurkan diri setelah ibu Davi bertukar nomor ponsel agar mempermudah komunikasi antara wali murid dan gurunya.
***
Anita menatap Damar tanpa berkedip sampai pria itu keluar dari ruangan. Ketiga orang disana hanya melihat guru single itu sambil tersenyum.
"Udah ilang Anitaaa..." goda Savitri.
"Ih cakep lho kakaknya Davi. Tapi kok adiknya bahlul gitu" gumam Anita.
__ADS_1
"Kayaknya salah ngadon kaleee" komentar Savitri.
Ketiga orang itu menatap Savitri dengan tatapan sebal.
"Lha piyeee? Salah ora?" Savitri nyengir.
"Dik Savitri..."
Keempat orang itu menatap pintu dan tampak Ekadanta berdiri disana. Savitri menoleh ke arah jam dinding ruangannya.
"Pak Ekadanta tidak ada kelas?" tanya Anita.
"Nanti jam kelima. Dik, bisa bicara sebentar?" wajah Ekadanta tampak serius.
Savitri merasa tidak enak dengan ketiga rekannya lalu mengangguk dan bertekad ini terakhir kalinya aku kasih kesempatan sama si Rai Gedhek siji ini.
"Ke ruang meeting saja pak." Savitri mengajak ke ruang kosong sebelah meja kerja keempat guru itu.
Keduanya pun masuk ke dalam dan karena ruangan itu kaca jadi ketiga rekan Savitri bisa melihat ekspresi keduanya.
***
Ruang Pertemuan
"Pak Ekadanta mau bicara apa? Bukannya sudah jelas kalau saya sudah menolak anda."
"Dik, aku mau minta maaf atas kejadian kemarin yang membuat kamu tidak nyaman."
"Sudah aku maafkan pak." Savitri menatap judes.
"Apa benar-benar tidak ada kesempatan untuk aku?"
Savitri menggelengkan kepalanya. "Maaf."
Ekadanta mencondongkan tubuhnya ke Savitri yang reflek memundurkan tubuhnya ke kursi.
"Apa sih kekurangan Savitri? Apa aku kurang kaya seperti pria - pria yang selama ini bersamamu? Apa karena itu ?"
Savitri menggelengkan kepalanya. "Bukankah saya sudah bilang kalau saya tidak ada perasaan pada anda."
"Sedikit pun?"
"Saya hanya menghormati anda sebagai rekan kerja saja pak. Tidak lebih. Jadi bukan karena anda kaya atau tidak pak, tapi yang namanya perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Coba kalau posisi kita terbalik, bapak di posisi saya, saya di posisi bapak. Apa bapak ya nyaman jika di posisi saya?"
Ekadanta hanya menghela nafas panjang.
"Anggap saja kita memang tidak berjodoh." Savitri menatap serius.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote gift and comment
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️