Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Malakor


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Savitri melenggang kangkung dengan wajah berseri-seri membuat aura cantiknya semakin kelihatan dibandingkan aura tomboynya. Gadis itu baru merasakan kalau lagi jatuh cintrong itu berjuta rasanya. Eh masa sih?


Suara ponselnya membuat Savitri mengambil dari dalam tasnya dan tampak pesan dari Stephen Blair kalau dirinya diminta datang ke kantor polisi untuk melengkapi berkas nanti jam sepuluh pagi.


Oke Oom.


Savitri pun masuk ke dalam ruang kerjanya dan terkejut melihat wajah dan tatapan Anita serta Bu Titi tidak bersahabat. Wuaduh! Ada angin lisus tampaknya.


"Good pagi selamat morning rekan-rekan aku yang mukanya lagi pada jutek. Ada apakah?" tanya Savitri tanpa dosa.


"Kamu itu ya! Ada kasus besar seperti itu, kenapa tidak cerita pada kami!" omel Anita.


"Iya lho Bu Savitri! Kami-kami kan juga guru bimbingan konseling!" sambung Bu Titi.


"Lagian ya Sav, kalau kamu bilang, kan kita - kita pasti ikut rapat bareng pak Agus kemarin! Kita bisa lihat aksi kamu nendang si Safri dong! Live! Nggak cuma dari cerita dan selentingan kabar doang!" timpal Anita. "Setidaknya, kan ada yang mewakili emosi kami!"


Savitri melongo. "Tunggu! Kalian berdua itu marah karena aku tidak cerita dan tidak bisa lihat aksi aku secara live?"


"Iyalah!" seru Anita dan Bu Titi bersamaan.


Savitri menepuk jidatnya. "Astaghfirullah! Jadi alasannya karena itu?"


"Kan seru lihat kamu membuat guru bejat itu tersungkur!" seringai Anita.


"Dengkul kamu nggak papa?" tanya Bu Titi.


"Dengkul aku? Fiiiinnneeee pakai banget!" gelak Savitri. "Eh Nit, nanti tolong temani aku ke kantor polisi ya."


"Ngapain?"


"Biasaaaa... tindakan tidak menyenangkan" cengir Savitri cuek.


Anita dan Bu Titi hanya melengos.


***


Savitri dan Anita tiba di kantor polisi setelah mendapatkan ijin dari pak Agus. Keduanya kini bertemu dengan Stephen Blair, selaku pengacara para orangtua siswi dan keponakannya sendiri.


"Sav, ditunggu letnan Damar untuk melengkapi berkas kemarin" ucap Stephen.


"Baik pak Stephen" senyum Savitri yang membuat Stephen melongo tapi begitu melihat rekan kerjanya, pria bermata biru itu paham keponakannya tidak mau terlihat memiliki hubungan saudara dengan keluarga Sultan.


"Sav, pak Stephen itu siapa? Sudah berumur tapi masih ganteng!" bisik Anita sambil berjalan bersama Savitri.


"Itu pengacara yang bakalan membela para orang tua siswi yang dilecehkan."


"Kok bule? Tunggu ... Apa nama belakangnya Blair?"


"Iya. Nama belakangnya Blair."

__ADS_1


"Wuuuiiihhh. Hebat euy! Pengacara kondang kan itu! Dibayar berapa?"


"Pro Bono. Gratis! Gretongan!"


"Serius?" Anita menatap tidak percaya.


"Serius." Savitri menyapa kopral Jono yang bertugas di depan ruang kerja Letnan Damar.


"Pagi pak kopral Jono. Pak letnan Damarnya ada?" sapa Savitri sambil tersenyum manis.


"Ada Bu Savitri. Ibu sudah ditunggu." Kopral Jono membukakan pintu ruang kerja Letnan Damar.


"Yuk masuk!" ajak Savitri sambil menggandeng Anita.


Betapa terkejutnya Anita melihat sosok pria yang duduk di kursi ruang kerjanya.


"Kakaknya Davi?" serunya.


***


"Aku tuh heran. Mas Damar polisi, adiknya kok sontoloyo gitu ya?" gumam Anita.


"Maafkan adik saya ya Bu Anita. Saya sendiri juga tidak tahu kalau di sekolah, Davi sering membuat Bu Anita dan Bu Savitri emosi" senyum Damar setelah Savitri melengkapi semua berkas dan pernyataan.


"Harusnya Davi itu melihat bagaimana kakaknya, bukan malah seenaknya sendiri" ucap Anita dengan aura gurunya.


Damar hanya tersenyum ke guru manis yang sebaya dengan Savitri.


"Ini sudah selesai kan letnan Damar?" tanya Savitri.


"Kalau begitu, kami kembali ke sekolah karena masih banyak aktivitas disana. Tidak enak kalau meninggalkan lama-lama." Savitri pun berdiri diikuti oleh Anita dan Damar.


"Kami permisi dulu Mas Damar" ucap Anita manis lalu kedua guru itu pun keluar dari ruang kerja Damar.


"Kamu naksir Damar ya Nit?" goda Savitri.


"Nggak papa kan?" Anita balik bertanya.


"Nggak papa selama Damar single bukan laki orang. Jangan jadi pelakor apalagi malakor!" ucap Savitri serius.


Keduanya kini berada di parkiran motor.


"Pelakor aku tahu kepanjangannya, perebut laki orang. Lha kalau malakor?" Anita menatap Savitri sambil memasang helmnya.


"Macari Laki Orang" jawab Savitri kalem.


"Lha?"


***


Pabrik Tekstil Kim Sragen

__ADS_1


Jaehyun bersama Yudha memeriksa pabrik milik keluarganya yang berada di Sragen. Dua pria itu tampak serius mendengarkan penjelasan manajer pabrik nya yang kedua. Jaehyun pun berkeliling memantau pekerjaan semua pegawainya baik dari level buruh sampai manajer, tidak ada yang terlewat olehnya.


Setelahnya memasuki jam makan siang, pria berdarah Korea Selatan dan Indonesia itu, meminta pada Yudha untuk dibelikan ayam goreng kremes.


Jaehyun sedang makan sambil melihat grafik saham dan laporan dua pabriknya ketika sang mommy melakukan FaceTime.


"Hai anak ganteng" sapa Kirana Kim.


"Halo mommy" balas Jaehyun sambil makan.


"Makan apa itu kamu? Lagi dimana nak?"


"Ayam goreng kremes. Sambalnya enak ini mom. Aku lagi inspeksi ke pabrik kita yang di Sragen."


"Jae, kok kamu nggak bilang kalau akhirnya kamu pacaran dengan calon menantu kesayangan mommy?"


Jaehyun melongo. "Hah? Mommy tahu dari siapa?"


"Pak Reza lah! Kemarin ketemu dengan appa dan mommy di Seoul lalu bercerita jika akhirnya kalian pacaran. Duh mommy seneng banget! Akhirnya doa mommy terkabul dapat menantu anak cantik itu!"


"Mom... Kami itu baru pacaran, masih penjajakan. Belum tentu bakalan menikah!"


Kirana menatap judes ke putra semata wayangnya. "Apa! Tidak bisa! Pokoknya Savitri bakalan jadi menantu mommy! Titik nggak pakai koma apalagi tanda tanya!"


"Dih mommy nggak tahu saja kelakuan anak itu!" cebik Jaehyun.


"Lha dia berbuat ulah apa lagi?! Duh tuh anak, berani banget! Mommy suka!" seru Kirana membuat Jaehyun menggelengkan kepalanya.


"Aku ceritain ya mom!" Jaehyun pun bercerita tentang semua kejadian yang dialami oleh Savitri sampai Oomnya Stephen Blair turun tangan.


"Mommy setuju dengan aksi Savitri, Jae. Pria macam itu memang sudah sepatutnya mendapatkan ganjarannya!" ucap Kirana gemas. "Lagian benar Savitri, trauma dibalas trauma!"


"Tapi mom, kalau begitu kan berabe. Hukum rimba dipakai sama Savitri-ya."


"Tapi kamu malah pacaran sama Savitri! Hayooo! Jangan bilang kamu sendiri juga mengagumi anak cantik itu!" goda Kirana membuat Jaehyun manyun.


"Habis, Savitri-ya itu menggemaskan mom!"


Kirana terbahak. "Kan mommy sudah bilang, Savitri itu calon menantu terbaik. Anaknya apa adanya Jae, bukan tipe cewek lamis yang hanya manis di bibir tapi hatinya jelek! Hanya mau uangmu saja!"


"Mom, Savitri itu malah tidak mau diketahui kalau dia anak Reza Pratomo."


"Nah tuh! Malah menutupi siapa dirinya agar orang lain tetap melihatnya low profile dan nyaman berteman dengannya. Jae, kita tahu kan, keluarga Savitri itu memiliki nama besar di dunia bisnis. Savitri sendiri memilih profesi sebagai seorang guru bimbingan konseling dan PNS pula. Bukan tidak mungkin jika orang-orang tahu dia anaknya siapa, akan dikira hanya main-main saja menjadi guru. Padahal kita semua tahu, betapa sukanya dia menjadi seorang guru bimbingan konseling."


Jaehyun hanya terdiam memikirkan ucapan Kirana.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa gaeesss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2