Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Weekend Sendiri Sendiri


__ADS_3

Sabtu, Jakarta


Savitri memutuskan untuk berkumpul dengan teman-teman SMP seangkatannya tanpa Jaehyun. Pria Korea itu sendiri memilih pergi bersama Ryoma atas undangannya.


Kini Ryoma bersama dengan Jaehyun berada di Starbucks dekat gedung PRC Group. Keduanya tampak santai mengobrol dan Ryoma mengakui pria pilihan sepupunya itu sama-sama rusuhnya dengan Savitri.


"Jadi sepupuku yang bar-bar itu sampai detik ini kalian pacaran setahun lebih, tidak tahu kalau kamu bisa bahasa Indonesia?" gelak Ryoma terbahak-bahak.


"Aku selalu membuat Savitri-ya percaya bahwa aku tidak paham bahasa Indonesia. Padahal dia juga tahu mamaku orang Indonesia tapi aku selalu bilang lebih kuat darah Koreanya."


"Astagaaa anak itu! Pintar, cerdas tapi polosnya minta ampun! Dia benar-benar percaya padamu ya Jae."


"Mungkin karena kami sama-sama Membagongkan?" senyum Jaehyun sambil minum kopinya.


"Kalian berdua memang deh!" Ryoma menggelengkan kepalanya. "Mood booster benar, selain Eiji sih."


"Apakah Eiji rusuh?"


"Kamu akan tahu jika bertemu dengan kakak sepupuku itu. Ayahnya sendiri, Oom Alex, sampai tobat punya anak ajaib macam dia. Padahal Oom Alex itu kakunya minta ampun!"


"Mungkin karena Eiji lelah melihat kekakuan ayahnya, makanya dia ingin membuat mood booster semua orang terutama ayahnya lebih santai" gumam Jaehyun.


"Really Jae?! Yang sarjana psikologi perasaan itu Savitri tapi kenapa kamu menjadi sama dengan dia? Sok menjadi psikoanalisis?" Ryoma terkejut mendengar ucapan kekasih sepupunya.


"Terlalu sering bersama Savitri-ya jadi aku kebawa lagipula aku juga suka membaca buku-buku psikologi. Dan aku banyak mengobrol dengan Savitri-ya tentang kehidupannya sebagai guru bimbingan konseling. Kamu tahu, Ryoma, sampai sekarang, Savitri-ya masih menkonseling siswi-siswi yang mengalami pelecehan meskipun mereka sudah lulus dari sekolah."


"Oh yang kasus itu sampai Oom Stephen Blair datang ke Solo? Savitri menendang hidden gem nya?"


Jaehyun mengangguk.


"Kabarnya dia juga mengajak debat pengacara si pelaku di ruang sidang?"


Jaehyun mengangguk lagi.


"Astaghfirullah! Anak satu itu!" Ryoma mengacak-acak rambutnya. "Benar-benar gabungan antara Eiji, bang Duncan dan Javier ! Salah suhu dia!"


Jaehyun terbahak. "Mungkin karena panutannya sepupu rusuh dan brutal macam mereka. Oh Ryoma, apa benar kalian hobi ikut hell week Navy Seals?"


Ryoma menatap Jaehyun. "Kamu mau ikut? Ayo lah! Kami mau daftar lagi tahun depan!"


Jaehyun melongo. "Siapa saja?"


"Aku, Javier, Eiji dan Masayuki."


"Serius? Duncan, Joshua dan Gozali tidak ikut?"

__ADS_1


Ryoma menggelengkan kepalanya. "Bang Duncan dan Bang Joshua sudah dilarang Rhea dan Mbak Miki. Kalau Gozali, karena sempat cedera kena tembak, lebih baik tidak."


"Kalian itu memang adrenalin junkie ya?"


"Kamu tidak tahu rasanya waktu menyelamatkan Rain. Aku kena tembak, Rain tertembak dan hampir kehilangan nyawanya, Jeremy pun sama. Yang paling terpukul adalah Ghani, karena dia yang memimpin operasi penyelamatan Rain. Dia bahkan sempat bilang bisa mati karena serangan jantung jika terjadi apa-apa dengan Rain."


Jaehyun mengangguk. "Savitri-ya sudah menceritakan tentang Rain dan Jeremy."


"Tapi kamu dan Savitri mendukung Rain dan Jeremy?" Ryoma menatap pria keturunan Korea itu.


"Aku dan Savitri-ya melihat bagaimana Rain begitu mencintai Jeremy. Aku pun akan berantakan jika tidak mendengar kabar apapun dari kekasihku. Rain dan Jeremy saling menyakiti diri sendiri, Ryoma. Obatnya? Mereka saling bertemu. Turunkan ego kalian, para saudara Rain. Kesalahan Jeremy adalah menembak Gozali dan jatuh cinta pada adik kalian hingga membuat Rain terluka. Peristiwa itu sudah terjadi, tidak bisa direka ulang. Yang penting masa kini dan masa depan yang masih kita buat. Aku dan Savitri-ya tidak mau kalian semua akan menyesal jika sesuatu terjadi pada Rain maupun Jeremy."


Ryoma memandang Jaehyun sambil tersenyum. "Kamu memang pantas menjadi pasangan Savitri. Karena kalian memiliki chemistry yang sama. Aku doakan kalian berdua berjodoh."


"Aamiin."


***


Restauran Seafood di Mega Kuningan


"Jadi kamu dan cowok Korea itu pacar depan rumah ?" tanya Santi, salah satu teman SMP Savitri.


"Pacar lima langkah dan nyebrang kata Mas Jae" cengir Savitri.


"Astaga, dikira lagu apa ya" celetuk Aisyah, teman Savitri lainnya yang berhijab.


"Aku sih maunya pas aku usia 26 tahun tapi tergantung mas Jae sih. Lagipula kan aku baru mau dua tahun jadi PNS. Nikmati dulu lah!" Savitri merasa geli sendiri. Manggil hari-hari Oppa, bahasain ke orang lain Mas Jae. Apa-apaan sih Sav? Ketularan penyakit perbagongan.


"Ini pacarmu kemana? Kok nggak ikut?" tanya Aisyah.


"Nggak lah, mas Jae membebaskan aku berkumpul dengan teman-temanku lagipula kita kan jarang bertemu."


"Pacarmu pengertian ya. Nggak kayak pacarku, harus laporan setiap saat aku pergi" keluh Santi. Belum selesai gadis itu berbicara, ponselnya berbunyi.


"Ya Sayang... Aku masih di resto... Belum tahu pulang jam berapa... Iya iya... "Santi melengos. "Iya nanti aku kabari."


Aisyah dan Savitri menatap Santi dengan tatapan prihatin.


"Pacarmu memang orang mana? Maksud aku kok kayak anak kecil nyariin emaknya" ucap Savitri kesal.


"Iya lho San. Bukannya sudah tahu kamu ada acara makan-makan disini" sambung Aisyah. "Suami aku hanya tanya sampai jam berapa, soalnya dia akan jemput aku."


"Pacarku itu pegawai pemerintahan kota Jakarta tapi dia obsesi banget."


"Lepaskan dia!" ucap Savitri tegas. "Karena hubungan kalian tidak sehat! Tidak ada kepercayaan diantara kalian. Coba kalau dia di posisi kamu. Pernah nggak kamu balik, gunakan cara dia. Kamu tanyain, kamu kepoin... Gimana reaksinya?"

__ADS_1


"Marah."


"Nggak fair! Kalian baru pacaran, belum menjadi suami istri! Ini baru pacaran San, kamu sudah macam distalking dan aku tidak melihat sisi romantisnya dimana. Aku rasa dia punya kekasih lain dan dia berbuat seperti itu agar kamu tidak curiga." Savitri membuat asumsi berapi-api.


"Sav, kamu kok sadis sih?" protes Santi.


"Look San, kamu saja ditelpon dia, wajah kamu tampak tidak semangat. Biasanya seorang wanita jika ditelpon oleh pria yang mencintai dan dicintainya akan tampak senang tapi kamu nggak. Macam aku harus laporan apalagi."


Aisyah dan Santi menatap guru cantik itu.


"Kamu benar-benar anak psikologi ya?" Aisyah memandang Savitri intens.


"Sekarang aku tanya, pacar kamu dimana posisinya?"


"Di Grand Indonesia."


"Ngapain?" kali ini Aisyah yang bertanya.


"Katanya ketemu teman-temannya SMA."


"Aku penasaran" gumam Savitri.


"Seriously? Kamu mau kesana?" tanya Aisyah.


"Why not? Aku paling nggak suka lihat cowok sok celutak macam itu!"


"Astaghfirullah! Kamu tuh bar-barnya nggak ketulungan dan nggak hilang-hilang dari SMP. Apa mas Jae mu tabah menghadapi kamu?" tanya Aisyah.


"Mas Jae adalah pria paling baik, tabah dan Membagongkan sedunia."


***


Meanwhile


"Haaaattssyyiinnggg!" Jaehyun mengusap hidungnya.


"Kamu kenapa Jae?" tanya Ryoma.


"Nggak papa." Dasar Savitri-ya! Nge pitenah apa lagi dia?


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2