
Ruang Kepala Sekolah
"Memangnya ada apa di hari Selasa Bu?" tanya Pak Agus penasaran.
"Pak Agus mau ikut? Monggo. Bu Ita, saya sarankan kalau ibu penasaran, hayuk besok Selasa jam sebelas malam ikut dengan saya. Pak Agus juga meskipun besok paginya ada upacara bendera. Gimana? Oh, anak ibu sebaiknya dititipkan saja sama neneknya karena tidak mungkin ikut." Savitri tersenyum manis.
"Bagaimana Bu Herman? Penasaran? Saya sih penasaran banget" kompor Pak Agus yang memang dia sungguh mati penisirin.
"Baik pak. Saya ingin tahu apa yang Bu Savitri ketahui." Ita Listiyo menatap mantan boss suaminya.
"Bagus! Besok malam jam sepuluh kalian tunggu saja di halte dekat solo square, saya akan jemput kalian semua. Oke?" kerling Savitri.
***
Ruang Bimbingan Konseling SMKN 11 Surakarta
Savitri masuk ke ruangannya setelah menyelesaikan permasalahan di ruangan Pak Agus. Ketiga rekannya pun kepo namun dengan bijak gadis itu bilang sudah clear masalahnya dan tidak ada pertumpahan darah maupun patah tulang.
Ketiga rekannya hanya melengos mendengar ucapan Savitri dan harus gigit jari karena jiwa kepopers mereka tidak mendapatkan hasil sesuai ekspektasi.
Savitri sendiri memilih untuk menjaga nama Ita Listiyo karena jika dilihat dari sisi perempuan, dia juga termasuk korban rayuan pulau kelapa gundul yang bejat.
Dan seharian ini, Savitri melanjutkan pekerjaannya, menatar murid-muridnya yang bandel.
***
"Arisaaaa! Masyaallah! Ibu kudu piyeee Iki?" omel Savitri gemas dengan muridnya yang bernama Arisa. Cantik sih cantik, tapi onengnya juga bikin orang gemas pengen cekek-cekek.
"Lha duko ( nggak tahu ). Ibu maunya gimana?" tanya Arisa dengan muka polos.
"Bijimu kok elek Kabeh terus kepriben kiyeee ( Nilaimu kok jelek semua terus gimana ini )? Bu Savitri ora iso rewangi Kowe lho nek ngene ( Bu Savitri tidak bisa bantu kamu lho kalau begini )!"
"Nggak naik kelas ya nggak papa Bu..." jawab Arisa santai.
"Allahuakbar! Bapak ibumu njuk piyeee perasaan ne tho nduuuukkk!" ucap Savitri gemas. "Arisa, ora ono bocah sing bodo, onone bocah sing malas Karo Oneng! Kowe milih Endi?"
"Oneng mawon Bu. Kayaknya gemesin ya?"
Savitri menepuk jidatnya. "Ya Allah Gusti Nun Agung, ngimpi apa aku semalam ketemu Kowe tho cah ayu..."
"Ngimpi dapat lotere Bu?" Arisa mengerjapkan matanya.
Savitri mendelik. judes. "Wis ibu nggak mau tanggung jawab lho ya soale Kowe dhewe yang minta nggak naik kelas! Nek bapak ibumu tanya sama ibu, ibu jawab apa adanya!"
"Njih Bu. Matur nuwun." Arisa pun berpamitan dari Savitri yang membuat guru cantik itu melongo.
"Sek, aku penasaran. Pasti ada alasan Arisa sumringah nggak naik kelas!" gumam Savitri.
"Kowe ngerti Sav, soale Ono bocah sing ditaksir Arisa besok tahun ajaran baru naik ke kelas dua. Anak multi jadi maunya Arisa Ben iso bareng terus" sahut Anita. "Ndilalah Kuwi bocahku."
"Astaghfirullah Al Adzim! ABG oh ABG!" keluh Savitri. "Ta omonganne Karo wong tuwone!" Gadis itu langsung menelpon kedua orang tua Arisa dan akan bertemu dengannya besok siang. "Eman-eman nunggak. Iya kalau lanangannya gelem Karo Arisa, nek ora? Rugi bandar lah!"
"Namanya orang jatuh cinta itu terkadang ga pakai nalar, Sav" kekeh Titi.
__ADS_1
"Kayak pak Ekadanta tuh sing ngoyak Kowe. Wis ngerti Kowe gadha perasaan sama dia, kok malah nekad!" timpal Dina.
"Lha iya tho Bu Dina, aku ya gumun ( heran )" sahut Anita. "Tadi sudah jelas-jelas Savitri emoh ya jek Rai tembok ( muka tembok )!"
"Wis Wis... Wayahe makan siang chuy! Yuk makan aku lapar!" ajak Savitri yang memang jam sudah menunjukkan pukul 11.59.
"Maem opo Sav?" tanya Anita.
"Nasi rames warung depan nggone Bu Midi yuk! Aku kangen ayam gorengnya."
"Mangkat!"
***
Warung Nasi Rames Bu Midi
Anita dan Savitri makan berdua di warung rames itu tanpa Titi dan Dina yang dipanggil pak Agus untuk memberikan data kurikulum tahun ajaran baru. Apalagi Dina sebagai ketua koordinator harus melaporkan semuanya.
"Dan akhirnya berdua lagi deh Sav" kekeh Anita.
"Eh, aku ta telepon tanteku dulu ya. Lali ( lupa ) aku." Savitri yang memang sudah menyelesaikan makannya. "Assalamualaikum Tante Dara."
"Wa'alaikum salam. Savitri, apa kabar?" sapa Dara dari layar ponsel gadis itu yang memang memakai video call.
"Lagi makan siang Tan?" cengir Savitri yang melihat Abimanyu Giandra manyun.
"Menurut mu?" balas Abi judes.
"Astaghfirullah Oom. Maapkan guru satu ini yaaa. Say hello pun tak boleh?"
Savitri terbahak. "Oom nanti tambah banyak kerutan nya lho."
"Enak saja! Kerutan aku sama besan Durjana aku, masih banyak dia!" balas Abi.
"Ya Allah Oom, Oom Edward tuh besan Oom lho. Mbok yang akur ngunu lho..."
"Angel ( susah ) Savitri, Wis ngerti Oom mu siji kan pancen julidan Karo mas Edward" kekeh Dara. "Ada apa keponakannya Tante yang cantik?"
"Hanya ingin tanya kabar Oom dan Tante."
"Alhamdulillah baik. Kamu jadi ke Jepang kan? Menghadiri pernikahan nya Eiji?"
"Insyaallah Tante. Ohya Bang Joshua dan mbak Miki mau datang ke solo. Kayaknya aku barengan sama mereka deh."
"Baguslah."
"Monggo Oom dan Tante dahar rumiyin ( makan dulu ). Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam" balas Dara dan Abi.
Anita melirik ke arah Savitri. "Kamu mau ke Jepang?"
"Iya saudara aku nikah."
__ADS_1
Anita menatap Savitri dan memegang kedua pipinya. "Kamu anak orang kaya ya?"
"Nggak kok ... Cuma kebetulan dibayari" jawab Savitri.
"Ih aku iri sama kamu!" Anita melepaskan tangannya. "Jangan lupa oleh-oleh!"
"Don't worry! Mau apa?"
"Menara Tokyo!" jawab Anita asal.
"Eh Bambang, yang ada gue disuruh harakiri sama warga Tokyo! Minta itu yang wajar lah!" sungut Savitri gemas.
"Dik Savitri mau kemana? Tokyo?"
Sebuah suara membuat Savitri dan Anita saling berpandangan dengan muka malas.
"Memangnya kenapa kalau Savitri ke Tokyo pak? Wong ada acara keluarga juga!" sahut Anita judes.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Ekadanta nekad.
"Maap pak. Ini acara keluarga saja dan bapak tidak diundang." Savitri menatap dingin Ekadanta. Hiiihhh suwi-suwi ta tendang tekan Klaten wong siji kiiieee!
"Kan bisa saja bilang aku akan jadi bagian keluarga" jawab Ekadanta kalem.
Savitri dan Anita melongo.
Seriously?
"Pak Ekadanta, wong Bu Savitri rak gelem Karo sampeyan kok ya jek nekad!" tegur Bu Midi pemilik warung yang tahu gosip semua guru di SMKN 11 Surakarta.
"Tapi kan boleh saya mengejar dik Savitri karena dia masih lajang dan belum ada janur kuning melengkung" balas Ekadanta.
"Pak, dengar ya. Saya tahu ibunya pak Ekadanta tidak suka dengan saya setelah melihat saya dengan mas Abian. Jadi, jika orang tua sudah tidak suka, jalannya abot pak." Savitri menatap Ekadanta serius. "Lagipula, saya masih ingin melajang pak, tanpa diributkan soal pacaran!"
"Pria bernama Abian itu?" nada suara Ekadanta terdengar tidak enak.
"Dia perkecualian! Wis pak, mending bapak cari cewek lain yang jauh lebih dari saya dan mencintai bapak sebab saya tidak ada perasaan apa-apa sama bapak, hanya sebatas rekan kerja." Savitri menoleh ke arah Bu Midi. "Bu, uang yang aku titipkan ke ibu masih cukup kan buat bayar maemku?"
"Bu Savitri dan Bu Anita? Cekap Bu. Tasih turah malahan ( Cukup Bu, masih sisa malah )" jawab Bu Midi.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Pareng" pamit Savitri dan Anita meninggalkan Ekadanta yang masih kesal karena Savitri tidak membalas perasaannya.
"Memangnya Savitri ninggal duit buat apa Bu?" tanya Ekadanta setelah kedua guru wanita itu pergi.
"Bu Savitri memang ninggal uang 500ribu tiap bulannya biar kalau makan tidak usah bayar. Tapi seringnya ya tiap akhir bulan masih sisa lumayan karena Bu Savitri tidak setiap hari makan disini."
Ekadanta hanya manggut-manggut. Susahnya membuat kamu mau menerima perasaan ku, dik.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote gift and comment
Tararengkyu ❤️🙂❤️