Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Kasus Lagi


__ADS_3

The Next Morning


Savitri bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah dan sudah membawa bekal martabak telor dengan nasi dan saus sambal serta martabak manis buat camilan pagi ini.


Mbok Mar yang menyiapkan pagi-pagi tampak senang, nona nya sudah kembali mood nya. Punya pacar ganteng dan Membagongkan sesuai dengan permintaan mbak Savitri, akhirnya kelakon ( kesampaian ) juga.


"Mbok Maaarr, aku mangkat ( berangkat ) sek!" teriak Savitri seperti biasanya yang membuat bik Mar dan pak Dewo tersenyum. Akhirnya moodnya sudah kembali.


"Iya mbak!"


Savitri sudah bersiap diatas Vespanya dan pak Dewo sudah membuka pagar rumah ketika melihat Jaehyun sudah siap berangkat ke pabriknya.


"Pagi pacar sebrang rumah" goda Jaehyun.


"Pagi Oppa."


"Hati - hati Savitri-ya. Kalau ada sesuatu yang membuat hatimu tidak nyaman, telpon aku saja." Jaehyun menatap serius ke Savitri.


"Iya Oppa. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


***


SMKN 11 Surakarta


Savitri tiba di parkiran bersamaan dengan Anita. Keduanya saling tersenyum saat memarkir motor mereka masing-masing berjejeran.


"Udah balik mood kamu, Sav?"


"Alhamdulillah. Oppa semalam bikin mood aku baik."


Keduanya pun berjalan menuju ruang kerja mereka.


"Oppa ngapain sama kamu?"


"Bawain martabak. Nih masih banyak. Kita maem dulu ya buat ganjal perut!" Savitri memperlihatkan tas bekalnya.


"Aseekkk. Martabak mana Sav?"


"Martabak Jakarta."


"Yang dekat gedung Bank Indonesia itu?"


"Iya." Savitri meletakkan helm dan jaketnya ke lemari belakang.


"Pagi" sapa Dina dan Bu Titi berbarengan.


"Pagi. Ayo Bu ada martabak nih! Lumayan buat ganjel perut."


"Alhamdulillah, rejeki Bu BK" kekeh Dina.


"Amunisi buat ngawasi orientasi pagi ini." Savitri tersenyum.


***


Savitri menyaksikan bagaimana proses orientasi berlangsung dengan pengawasan ketat dari pihak sekolah karena dilarang melakukan kekerasan fisik.

__ADS_1


"Bu Savitri..."


Savitri menoleh dan tampak seorang siswi menunjukkan wajah ketakutan.


"Ada apa Tania?"


"Bisa bicara pribadi Bu?"


"Bisa. Ayo ke ruangan BK." Savitri memberikan kode kepada Anita jika dia harus bersama Tania.


Savitri merangkul gadis belia itu dan tampak dirinya tubuh Tania gemetar. Guru cantik itu mengerenyitkan dahinya karena merasa sesuatu yang berat menimpa muridnya yang tahun ini naik kelas 3 atau kelas XII.


***


Ruang Bimbingan Konseling ruang meeting


"Duduk, Tania. Kamu mau martabak? Ibu bawa banyak." Savitri memberikan botol air mineral utuh ke arah Tania yang sudah duduk di kursi.


"Mboten Bu ( nggak Bu )."


Savitri lalu duduk di hadapan Tania. "Ada apa, Tania. Apa yang bisa ibu bantu?"


Tania hanya terdiam dan tak lama menangis yang di telinga Savitri sangat menyedihkan. Guru cantik itu menunggu sampai Tania menyelesaikan tangisnya.


"Bu... Kalau ada... Guru yang... pegang - pegang barang pribadi... saya harus laporan kemana?"


Savitri terkejut. Apa lagi ini?


"Kamu dipegang apanya?" tanya Savitri lembut.


Tania hanya memberikan ponselnya dan Savitri melihat sebuah rekaman video bagaimana sebuah tangan pria meremas dada seorang gadis remaja berseragam. Gadis itu sudah berusaha menolak tapi pria itu tetap memaksa bahkan merembet hingga ke pahanya.


"Di ruang kelas, Bu. Waktu itu saya tidak ikut karena saya sedang dapat dan perut saya sakit..." Tania menghela nafas panjang. "Guru itu masuk dan..."


Savitri langsung memeluk Tania yang menangis kencang.


"Ya Allah anak cantik. Siapa yang melakukannya?" Savitri mengenali suaranya tapi dia takut salah.


"Pak Sarif, guru olahraga."


Tubuh Savitri menegang. Beraninya satu lagi pria celutak!


"Berapa kali kamu dilecehkan?"


"Itu yang ketiga kalinya Bu... Saya harus ada bukti kan Bu?" Tania menatap guru cantiknya.


"Anak pintar kamu! Apa cuma dipegang gitu atau lebih dari itu?" tanya Savitri sambil masih memeluk dan mengelus kepala Tania.


"Saya Alhamdulillah cuma itu tapi ada teman yang sudah lebih... Tapi saya tetap trauma kalau pelajaran olahraga Bu."


"Ta gundul sisan manuke!" umpat Savitri marah. "Tania, coba kamu hubungi siapa saja yang menjadi korban pelecehan si bang*sat itu. Suruh temui ibu disini, sekarang juga. Ibu tidak bisa diam saja kalau begini!"


"Tapi nanti karier ibu yang jadi korban..."


"Ora pateken ( Tidak masalah )! Yang penting ibu melindungi murid-murid ibu! Tapi soal pelaku pelecehan, harus ibu hajar nganti ora iso tangi manuke ( sampai tidak bisa bangun burungnya )!" geram Savitri.


***

__ADS_1


Siang ini Savitri berhasil mengumpulkan sepuluh siswi yang menjadi korban kebejatan seorang guru olahraga.


Setelah mendapatkan semua bukti-bukti dan meminta pada Abian untuk membuat duplikat jejak digital untuk dipakai menuntut Sarif.


"Kalian semua disini dulu. Biar ibu menghadap Pak Agus, kepala sekolah."


"Tapi kami takut Bu..." bisik salah seorang muridnya.


"Ada apa kamu manggil kami Sav?"


Sebuah suara membuat Savitri menoleh. "Alhamdulillah kalian datang. Aku minta tolong jaga mereka selama aku menghadap kepala sekolah" pinta Savitri ke Ricky dan Sofyan.


Kedua pengawal Yudhi, ayah kandung Joshua Akandra, memang sedang berada di rumah Rudy Akandra atas undangan makan siang Fyneen dan Rudy. Savitri meminta dua pengawal tampan itu berjaga di ruang bimbingan konseling.


Sofyan dan Ricky hanya mendapatkan informasi sekilas dari guru cantik itu. Mereka berdua hanya menyanggupi karena tahu, jika Savitri meminta tolong seperti itu berarti memang urgent.


"Anak-anak, ini saudara sepupu ibu namanya Bang Sofyan dan Bang Ricky. Kalian akan dijaga keduanya selama ibu menghadap pak Agus. Jadi jangan takut ya."


Kesepuluh remaja itu hanya mengangguk dan sebagian tampak terpesona melihat wajah tampan dua pengawal itu.


"Kita berjaga saja di kursi mu saja Sav. Biar enak" ucap Ricky.


"Nanti makan siang aku ganti. Kan kalian batal makan masakan Tante Fyneen" seringai Savitri.


"Dobel ya Sav!" kekeh Sofyan.


"Gampang lah!" sahut Savitri sambil keluar ruang kerjanya.


***


Ruang Kepala Sekolah


Pak Agus menatap Savitri dengan wajah shock berat. Setelah kasus Herman, ternyata ada kasus lain dan timingnya hampir bersamaan dengan Herman.


"Sepuluh Bu Savitri?" tanya Pak Agus dengan nada gemetar.


"Sepuluh pak yang laporan ke saya. Bukti - bukti juga ada termasuk pesan dari pak Sarif ke anak-anak itu. Tenang pak, sudah saya buat duplikat nya."


"Padahal Pak Sarif itu juga aktif di banyak kegiatan Pramuka dan keagamaan lho Bu..." Pak Agus tampak menyesali kejadian ini terulang kembali. Hanya saja korban Herman hanya Nina, tapi korban Sarif banyak. Yang melaporkan baru sepuluh tapi berapa banyak korban lainnya yang tidak mau lapor.


"Pak, semua itu tidak menjamin. Seorang sosiopat bisa hidup normal seperti orang biasa tapi dia akan melakukan kejahatannya jika ada kesempatan dan mengintimidasi korban untuk tidak melaporkan dengan berbagai ancaman."


"Baik Bu Savitri. Saya akan mempelajari semuanya lalu besok kita akan mengadakan pertemuan internal dengan pihak kesiswaan, pihak perwakilan guru."


"Saya akan meminta semua anak-anak mengijinkan untuk penyadapan di ponsel masing-masing agar ada tambahan bukti disana pak."


"Setuju Bu Savitri. Oh, jika ibu bertemu dengan pak Safri, saya minta ibu tahan emosi ya."


Savitri menatap judes ke kepala sekolahnya. "Saya tidak menjamin untuk tidak menendang manuknya sampai tidak berfungsi lagi!"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Maap baru pulang dari dokter.


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2