
Ruang Meeting Utama SMK 11 Surakarta
Savitri benar-benar ingin mengganjal matanya dengan korek api karena saking ngantuknya. Dimana cari korek api ya? Savitri celingukan mencari guru pria yang merokok tapi tak ada satu pun yang membawa korek api tradisional. Rata - rata pada membawa korek gas.
Masa pesan Starbucks pakai online? Mana meeting nya belum selesai pula! Ah ngapain Starbucks, pesan kopi tubruk tempat Bu Midi saja lah! Eh Bu Midi punya kamu Brotowali nggak ya? Kan super pahit tuh! Bisa bikin melek! Savitri sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kopinya dik."
Savitri menoleh. Tampak Ekadanta memberikan secangkir kopi yang memang tersedia di ruang meeting, ada teh dan kopi.
"Terima kasih pak." Savitri memberi anggukan sopan. Ini kagak dikasih obat macam-macam model di novel kan? Atau sianida mungkin?
"Belum aku kasih gula tapi karena aku tidak tahu seberapa ukuran gula selera kamu."
"Nggak papa pak. Pahit juga oke." Savitri mengangguk namun disaat hendak minum kopinya, dirinya mendapatkan pesan '911' dari siswanya. Sudah menjadi kesepakatan jika anak didiknya ada masalah urgent dan tidak bisa ditinggal, harus memberikan kode 911.
"Maaf pak Ekadanta, saya harus ke ruangan saya. Permisi." Savitri pun berdiri sambil membawa ponsel dan notesnya. "Pak Agus, nyuwun Sewu, saya harus kembali ke ruangan saya karena ada urusan urgent."
"Oh iya Bu Savitri. Monggo diurus dulu, nanti kan bisa diinfokan oleh Bu Anita dan Bu Dina."
"Njih pak. Permisi." Savitri pun mengangguk hormat lalu keluar dari ruang meeting menuju ruang kerjanya.
Tampak disana empat siswinya sudah duduk di sofa dengan wajah gusar.
"Ada apa ini? Dilara? Anisa? Melati? Putri?" tanya Savitri bingung.
"Bu... Ada kejadian."
Savitri langsung waspada. "Ayo masuk ke ruang meeting."
***
Ruang Meeting Bimbingan Konseling
"Ada apa kalian sampai harus mengirimkan kode 911 ke ibu?" tanya Savitri.
"Bu, hari Jumat kemarin kan libur dan kami ada kegiatan ekstrakurikuler. Dan saat kami mau sholat duhur, entah kenapa airnya di mesjid nggak mengalir jadi kami memilih ke kamar mandi dekat kelas multi." Dilara menoleh ke teman-temannya.
"Terus Bu, saya kan tadinya mau wudhu tapi saya kebelet pipis jadi saya pipis dulu" sambung Putri. "Nah habis saya pipis terus wudhu, saya panggil Anisa buat gantian."
"Saya masuk Bu. Ibu kan tahu kamar mandi dekat kelas multi itu ada dua bilik kan? Dan ada pembatas tembok yang nggak sampai full Eternit. Saya tuh lagi betulkan hijab saya terus saya mendongak tiba-tiba diatas dinding pemisah itu ada tangan pegang hp." Anisa menatap Savitri serius.
"Lalu?" Rahang Savitri langsung mengeras mendengar cerita pelecehan lainnya.
__ADS_1
"Saya teriak. 'Siapa itu?' Tangannya langsung ditarik dan saya keluar dari kamar mandi dan bilang sama teman-teman. Dan kami menunggu sampai orang di dalam itu keluar."
"Pas dia keluar, kami langsung menginterogasi dan dia bilang tidak merekam kami. Dia juga memperlihatkan ponselnya dengan tangan gemetar, Bu. Kami kan anak multimedia, jadi langsung membuka ponselnya tapi rekaman kami tidak ada" sambung Putri.
"Dia juga bilang kami hanya mengada-ada tapi kami tahu kami direkam dan orang itu peeping Tom!" timpal Melati.
Note Istilah Peeping Tom
Jika si perekam mengidap kelainan sek*sual, kelainan itu disebut peeping tom. Yaitu, terpuaskan hasrat seksualnya dengan mengintip orang telan*jang, berhubungan in*tim dan sebagainya yang berbau por*nogra*fi. Dulu hanya mengintip tapi sekarang ditambah merekam..
"Apa kalian tahu siapa pria celutak itu?" tanya Savitri gemas.
"Dia mengaku namanya Saundra. Anaknya pak Ahmad, guru kimia disini."
Savitri melongo. Anak guru?
"Memangnya dia sekolah disini?" tanya Savitri sebab dia tidak merasa punya siswa bernama itu.
"Nggak Bu..." jawab Dilara.
"Dia sudah dewasa" ucap Melati.
"Umur berapa? Kok bisa masuk ke lingkungan sekolah?" Savitri menatap ke empat siswinya.
Savitri melongo.
***
Usai pertemuan dengan para siswinya, Savitri meminta kepada mereka jika ada sesuatu terjadi pada mereka, harus laporan ke dirinya.
"Kalian jangan takut! Kalian tidak salah disini karena kalian korban! Ibu akan pasang badan buat kalian semua! Oke?"
"Terimakasih Bu" ucap keempatnya.
"Jika perlu kalian siapkan ponsel kalian jadi ada bukti akurat!" pesan Savitri.
"Iya Bu. Kami juga menyesal tidak merekam kejadian itu karena kan ponsel kami di tas dekat ruang latihan menari" sesal Dilara.
"Jaga diri kalian masing-masing. Ibu akan urus masalah ini."
***
Savitri pun langsung menuju ke kantin belakang untuk mencari tahu pria celutak yang berani melecehkan siswi-siswinya. Dan diam-diam dia merekam wajah Saundra yang sedang melayani siswa yang jajan di kantinnya.
__ADS_1
Guru cantik itu pun lalu pergi menuju ke ruang meeting untuk mencari Dina sebagai ketua koordinator bimbingan konseling. Kebetulan meeting baru saja selesai dan Savitri langsung menyeret Dina dan Anita.
Kedua guru bimbingan konseling itu terkejut mendengar cerita Savitri karena kejadian ini benar-benar meresahkan.
"Kita harus ketemu sama pak Ahmad dan anaknya. Sekarang!" ucap Dina dengan nada marah.
***
Ruang Meeting Bimbingan Konseling
Savitri dan Anita menatap Pak Ahmad dan anaknya Saundra yang tampak gugup di hadapan mereka berdua. Selain mereka, juga ada Dina sebagai koordinator bimbingan konseling dan pak Felix sebagai koordinator guru karena menyangkut pak Ahmad sebagai salah satu guru.
"Saundra, apa benar kamu merekam para siswi yang sedang pipis dengan hpmu?" tanya Dina dengan tatapan tajam.
"Bu Dina, Saundra tidak mungkin berbuat seperti itu. Anak saya itu baik" bela pak Ahmad.
"Kalau memang anaknya pak Ahmad orang baik, tidak mungkin kan melakukan hal tercela seperti itu!" balas Dina.
"Saya nggak mungkin melakukannya Bu. Saya sudah punya tunangan." Saundra menatap Dina tapi ketiga wanita yang terbiasa dengan bahasa tubuh manusia tahu jika pria itu gugup dan ketakutan.
"Ohya? Saksi sampai empat orang? Really?" sindir Dina. "Entah berapa banyak lagi korban pengintipan dan perekam kamu yang akan muncul!"
"Bu Dina, saya akan membawa masalah ini ke ranah hukum karena kalian melakukan tindakan tidak menyenangkan" ucap pak Ahmad.
"Bagaimana kalau kami menuntut balik?" balas Dina.
"Saya punya banyak kenalan orang hukum. Anak-anak itu hanya fitnah anak saya!"
"Fitnah? Buat apa anak-anak itu memfitnah anak kamu, pak Ahmad? Kurang kerjaan banget! Lagian mereka kan tidak kenal anak kamu!" balas Dina sengit.
"Lagian ya pak Ahmad, kalau memang anakmu sudah punya tunangan, tinggal buka saja punya pacarnya biar tahu bentuknya macam apa! Yang jelas anakmu salah dan rodho kelainan!" Pak Felix menatap tajam pak Ahmad dan Saundra judes.
Savitri dan Anita melongo mendengar ucapan pak Felix.
Lihat punya pacarnya?
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️