
Ruangan Bimbingan Konseling
Savitri melongo melihat cowok Korea yang tinggi itu masuk dengan santainya ke ruang kerjanya. Kalau tadi gue merinding karena takut datang demit... tapi kalau demitnya macam begini, ya kagak takut lah gue.
"Thank you pak Yahya for your help" senyum Jaehyun manis ke penjaga sekolah itu.
"Sami-sami pak. Mbak Savitri Kulo pareng rumiyin ( saya permisi dulu )." Pak Yahya pun meninggalkan Savitri bersama Jaehyun.
*mereka berdua ngobrol pakai bahasa Inggris Yaaa.*
"So, apa hal Mr Korea kemari? Mau tanya jadi beli mobil mu apa nggak?" tanya Savitri tanpa mempersilahkan Jaehyun duduk.
"Mr Korea?" kekeh Jaehyun geli sambil duduk di hadapan Savitri macam muridnya yang sedang berkonsultasi.
"Kan aku tidak tahu namamu hanya tahu kamu orang korea doang" ujar Savitri cuek.
Jaehyun mengulurkan tangannya. "Kim Jaehyun."
Savitri pun menyambut tangan pria itu. "Emaknya Saki."
Jaehyun menaikkan sebelah alisnya. "Emaknya Saki?"
"Nama motorku. Saki. Aku kan emaknya."
Jaehyun tertawa. "Really miss Savitri Pratomo?"
Savitri melongo. "Siapa itu Savitri Pratomo?"
"Kamu lah! Apa kamu lupa bahwa kamu memakai tag nama di baju kamu?" Jaehyun mengedikkan dagunya ke arah dada Savitri yang di baju dinasnya ada tag namanya selain pin korpri dan id card disana.
"Disini cuma ada 'Savitri Putri' tidak ada nama 'Pratomo' nya."
Jaehyun memberikan map kepada Savitri yang membuat gadis itu memicingkan matanya. "Apaan ini? Kontrak jual beli mobil?"
Jaehyun hanya menggelengkan kepalanya. "Really, Savitri? Serius kamu mau beli mobil aku?"
"Ogah lah! Mobil bapak-bapak dan aku bukan bapak-bapak. Beda sama kamu kayaknya yang sudah mau 40 tapi tetap kelihatan muda karena operasi plastik. Bukankah Korea dikenal negara operasi plastik sama dengan Thailand?" ucap Savitri sambil membuka map.
Apa? 40? Ini cewek benar - benar deh!
"Sorry, Savitri. Mukaku ini asli dan aku anti operasi plastik ditambah aku baru 26 tahun!" Jaehyun menatap Savitri tajam.
"Meneketehe!" sahut Savitri cuek.
"Apa itu?" Jaehyun merasa geli mendengar istilah aneh-aneh dari bibir guru cantik itu.
"Mana aku tahu." Savitri menatap isi map itu dengan wajah bingung. "Kok kamu dapat info orang mirip aku? Ini kan doppelganger aku."
"What?"
"Ini orang yang mirip aku." Savitri menatap Jaehyun polos.
"She's you, Savitri. Don't playing around!" Jaehyun merasa gemas dengan sikap Savitri yang tidak mau mengakui bahwa didata itu adalah dirinya.
"Look Mr Kim, saya tidak mau ada orang lain tahu siapa saya sebenarnya." Savitri menatap tajam ke arah Jaehyun.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena saya ingin menjadi diri saya sendiri tanpa membawa-bawa nama keluarga saya, meskipun tadi pagi saya kebablasan ingin membeli mobil anda tapi itu hanyalah pelampiasan emosi saya saja karena sopirnya sangat-sangat idiota!"
Jaehyun memajukan tubuhnya. "Apakah kamu selalu bar-bar dan seenaknya sendiri?"
"Itu adalah sifat jelek saya" cengir Savitri.
"Saya tahu ayah kamu yang bukan tipe orang macam kamu, Savitri..."
"Papa saya saja juga sudah pusing dengan tingkah laku saya..."
"Kok bisa kamu menjadi anak Reza Pratomo dan cucu Adrian Pratomo yang dikenal santun dan kalem..."
"Saya lahir di keluarga yang salah?"
"Sepertinya Allah salah bikin blueprint pas buat kamu..."
"Allah sedang ngantuk pas bikin blueprint saya..."
"Bagaimana bisa seorang Adrian Pratomo memiliki cucu seperti kamu?"
"Anda belum tahu saja bagaimana sepak terjangnya budhe Nabila dan Tante Shanum."
"Apakah mereka istri dokter Mike Cahill dan Hiroshi Al Jordan?"
"Anda mengenal mereka juga?"
"Mike Cahill pernah membantu mengoperasi kakekku..."
"Ahjussi..."
"Tapi kamu mirip Ahjussi..."
"Oppa, Savitri! Harusnya kamu memanggil aku Oppa!"
"Jadi kakek-kakek dong?" balas Savitri cuek.
"Dobel P bukan single P!"
"Double penetration? Eeeww!" Savitri mengerenyitkan dahinya.
"Double pe... What? Kamu itu! Diam - diam meshum juga ya Savitri!" gelak Jaehyun.
"Siapa yang meshum?" Savitri menatap polos ke Jaehyun.
"Kamu! Astagaaa! Percakapan macam apa ini?" Jaehyun memegang pelipisnya. "Oppa itu tulisannya dobel P di huruf P nya sedangkan Opa hanya satu huruf P nya. Paham?"
"Ooohhh..." Savitri hanya ber 'Oh' ria.
"Astagaaa! Kok bisa sih gadis macam kamu jadi guru? Bimbingan konseling lagi!"
"Lha kan sesuai dengan bidang studi aku. Tidak mungkin kan aku yang lulusan psikologi menjadi guru matematika? Yang ada ubanku nongol sebelum waktunya." balas Savitri.
Jaehyun memandangi rambut coklat Savitri. "Nggak ada ubannya. Ngomong-ngomong, warna rambut kamu asli?"
"Asli lah! Guru itu tidak boleh mewarnai rambutnya tapi ini coklat aku asli. Mau gimana lagi? Aku tidak mau mengecat nya hitam karena nanti merusak rambutku."
"Lagipula kalau kamu tidak cocok rambut hitam..."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Savitri.
"Mukamu jadi tua dan aku bakal memanggil mu Ajumma."
Savitri terbahak. "Ternyata ada dendam untuk membalas perkataan ku sebelumnya."
Jaehyun terpana melihat wajah Savitri yang tampak cantik saat tertawa. "Ada saatnya aku ingin membalas ucapan mu, Savitri."
"Seriously, Ahjussi..."
"Oppa, Savitri. Oppa!" Jaehyun menatap gemas ke guru cuek itu.
"Mr Kim ..."
"Astagaaa Savitri!" kekeh Jaehyun. "Terserah kamu deh!"
"Kalau terserah aku..."
"Not Ahjussi!"
Savitri tertawa. "Jaehyun Oppa..."
"That's much better, Savitri-ya."
"Sebenarnya anda mau apa kemari?"
"Membuktikan bahwa kamu memang anggota keluarga Pratomo itu yang pertama. Kedua, apa kamu jadi membeli mobilku seperti omonganmu. Ketiga, aku heran kenapa kamu tidak menjadi bagian perusahaan keluarga mu?"
Savitri berdiri dan mengambil dua botol air mineral lalu memberikan satunya ke Jaehyun. "Sorry, hanya ada air mineral karena kantin sudah tutup" ucap Savitri yang duduk kembali di kursinya. "Aku jawab ya Oppa. Satu, iya aku anggota keluarga itu tapi aku tidak mau rekan kerjaku tahu karena tidak mau mereka tidak nyaman aku anak konglomerat. Kedua, aku tidak akan membeli mobilmu. Buat apa? Ketiga, aku suka kehidupan aku sekarang. Bertemu dengan para murid dengan berbagai drama dan problematika masing-masing itu membuat aku semakin tertantang untuk bisa membantu mereka."
Jaehyun menatap Savitri. "Apakah itu membuat kamu menyukai pekerjaan mu?"
"Apanya? Membantu murid-murid aku? Sejujurnya aku bersyukur aku dilahirkan di lingkungan yang hangat dan saling menyayangi satu sama lain di luar keabsurdan yang haqiqi. Banyak muridku yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung afeksinya dalam berhubungan dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya." Savitri menghela nafas panjang. "Enam bulan aku bekerja disini Oppa, tapi semua ilmu yang aku dapat dari bangku kuliah, akhirnya hanya sebagai basic aku konseling, sisanya bagaimana logika dan perasaan aku bekerja."
Jaehyun tersenyum menghargai bagaimana pekerjaan gadis itu. "Meskipun pekerjaan kamu seperti ini, tapi aku bisa melihat darah Pratomo yang sangat kental di dirimu Savitri-ya. You're very tough and smart."
"Aku rasa kamu juga smart, Jaehyun-oppa. Hanya saja, sopirmu sangat bodoh!"
Jaehyun terbahak. "Kalau sopirku tidak ceroboh, aku tidak bisa mengenalmu, Savitri. Kamu tahu, saat aku melihat motormu, kukira yang naik, banci atau g@y karena warnanya sangat mencolok."
"Haaaaahhh?"
***
Note
Afeksi adalah sebuah istilah psikologis yang digunakan untuk menjabarkan tentang suatu perasaan. Afeksi termasuk kebutuhan manusia untuk mendapatkan respons yang baik atau perlakuan hangat dari orang lain dalam bentuk kasih sayang dengan prinsip dasar perasaan untuk dicintai dengan unsur memberi dan menerima.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1