
"Apaan?" Savitri menatap Jaehyun dengan wajah sebal.
"Kakangmas..."
"Ya ampun Oppa, aku panggil mas Jae or mas Jaehyun aja sudah ogah, kok sekarang minta dipanggil kakangmas! Ogah! Soalnya bakalan ikutan pianis durjana kalau membahasakan dirinya sebagai 'Kakangmas Eiji' ke Diajeng Aya-aya nya. Males banget! Tar dikira aku ga kreatif terus ikut-ikutan... Woooo ya nehi!"
Reza dan Andira hanya melongo mendengar argumen putrinya sedangkan Jaehyun hanya terbahak.
Sabar ya Jae...
"Astaghfirullah! Savitriii! Kamu tuh bisa nggak sih ngomong nya pakai jeda?" Andira memegang pelipisnya pusing dengan putri bungsunya yang super receh ini.
"Eh? Remnya blong mom..." cengir Savitri tanpa dosa.
***
Reza dan Jaehyun sekarang berada di ruang kerja keluarga Pratomo. Keduanya menikmati teh wasgitel buatan Mbok Mar.
"So, sampai detik ini Savitri tidak tahu kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Reza.
"Tidak tahu Oom."
"Padahal dia tahu mamamu orang Indonesia kan?"
"Itulah yang membuat saya gemas, Oom Reza. Entah Savitri nggak ngeh atau memang dia berpikir karena saya lahir dan besar di Seoul, saya tidak bisa bahasa Indonesia" kekeh Jaehyun.
"Biarkan saja. Kalau saya lihat, Savitri sudah mendapatkan pasangan yang sesuai dengan keinginannya..." Reza tersenyum.
"Apakah saya Membagongkan?" Jaehyun menatap ayah Savitri dan Panji itu.
"Menurut mu?"
Sabar ya Pak Reza
***
Andira dan Savitri sedang berada di ruang tengah sambil memakan popcorn. Kedua ibu dan anak itu memilih menonton film horor. Andira dan Savitri sebenarnya penakut kalau nonton film horor apalagi horor Indonesia tapi jiwa penasaran binti penisirinnya sangat tinggi.
"Mom, yakin kita nonton pengabdi setan?" bisik Savitri.
"Kata Rain gimana?"
"Rain mah nggak nonton mom, yang nonton pegawainya."
"Sav, kalau serem, dimatiin ya..." Andira melirik ke arah putrinya.
"Iyalah! Mom enak ada Daddy bobok tar malam. Lha aku apa kabar? Masa tidur sama Oppa?"
Andira langsung mengeplak kepala putrinya. "Belum halal Savitriiii ! Ih kamu tuh!! Memang kamu serius sama Jaehyun?"
"Insyaallah mom soalnya cuma dia yang bisa tabah menghadapi aku. Lagipula, Tante Kirana sudah suka aku duluan" cengir Savitri.
"Pede sekali kamu Nak" kekeh Andira sambil merangkul putrinya.
"Mom sendiri gimana? Setelah melihat sendiri Oppa?"
Andira meletakkan kepala Savitri di bahunya. "Dia pria yang baik Sav. Setidaknya dia cukup Membagongkan juga seperti maumu."
"Aku juga nyaman dengan Oppa mom. Setidaknya dia hanya bisa tabah kalau melihat aku makan dengan brutal" senyum Savitri.
"Astaghfirullah anak mommy satu ini..."
__ADS_1
Keduanya pun asyik nonton film sampai ke adegan tokoh ibu datang.
"Aaaaaahhhh!" Keduanya teriak heboh.
***
Reza dan Jaehyun saling berpandangan mendengar teriakan dua wanita yang mereka sayangi dan bergegas membuka pintu ruang kerja. Keduanya melongo melihat popcorn berantakan dan dua wanita itu heboh menutup wajah mereka dengan tangannya.
Kedua pria itu menoleh ke arah tv yang memperlihatkan adegan horor film pengabdi setan.
"Astaghfirullah! Andira! Kan aku sudah bilang bolak balik! Jangan suka nonton film horor!" omel Reza sambil mengambil remote hendak mematikan tv nya.
"Eh jangan! Penasaran tahu!" cegah Andira.
"Ya tapi lihat! Popcorn kalian sampai berantakan begini!" Reza menunjuk karpet yang sudah bertebaran popcorn.
"Kita kaget Dad! Tahu-tahu setannya nongol!" bela Savitri.
"Kamu sama mommymu sama saja! Nanti kalau sudah, gak bisa tidur!" Reza menatap tajam ke kedua wanita kesayangannya.
"Boleh bawa Oppa ke kamar buat nemenin tidur... Tidur thok Dad! Nggak ngapa-ngapain!"
Reza mendelik. "Kamu mau Daddy coret jadi anak Daddy?"
Jaehyun tertawa terbahak-bahak sedangkan Savitri hanya manyun.
"Sabar ya Savitri-ya. Kamu kan masih setahun jadi PNS" kekeh Jaehyun.
"Eh Oppa serius sama aku?" Savitri langsung menghampiri pria Korea itu.
Jaehyun langsung memeluk gadis cantik itu. "Serius lah! Lagipula kapan lagi aku punya calon istri Membagongkan?" senyum pria berlesung pipi itu.
"Lagian Oppa, kita itu sama-sama berlesung pipi jadi pas kan?" Savitri mendongakkan wajahnya ke pria tinggi itu.
"Why Dad?" Savitri menoleh ke arah ayahnya.
"Restu sudah turun bukan berarti bisa seenaknya!" sungut Reza sebal.
Cup! Jaehyun mencium pipi Savitri. "Bisa tidur nyenyak nanti malam. Yakin!"
"Oh astagaaa!" Reza memegang pelipisnya.
***
Keesokan harinya Savitri berangkat sendirian menggunakan mobil Mazda nya karena hujan turun sejak semalam.
Sepanjang jalan Jaehyun menelponnya sambil mengobrol karena tadi pagi keduanya keluar bersamaan menuju tempat kerja masing-masing.
"Bisa tidur semalam, Savitri-ya?"
"Bisa lah Oppa. Sambil mendengarkan celotehan sepupu durjana ku."
"Pada ngapain mereka?"
"Ghani Giandra, kakak ipar Duncan Blair bercerita mendapatkan kasus mutilasi."
"Dimana? Jakarta?"
"Seriously Oppa. Ghani itu anggota kepolisian NYPD jadi di New York lah!"
"Kok mengerikan begitu sih Sav."
"Kejahatan dimana saja itu hampir sama kejam dan sadisnya tapi berbeda lokasi saja."
"Kamu sudah sampai mana?" tanya Jaehyun.
__ADS_1
"Sebentar lagi sampai dan aku hendak parkir ke halaman parkir mobil khusus guru."
"Selamat bekerja Bu Guru."
"Selamat bekerja pak pemilik pabrik" balas Savitri sambil cekikikan.
"Dasar!" kekeh Jaehyun.
***
SMKN 11 Surakarta
Savitri mengambil jaket parasutnya dan memakainya lalu mengambil payung. Biarpun sepertinya kuat, Savitri punya alergi aneh. Jika terkena hujan, dirinya pasti pilek dan batuk. Jadi dia memakai banyak pencegahan agar tidak terkena air hujan termasuk masker di wajahnya.
Setelah mengunci mobilnya, Savitri pun berjalan menuju ruang kerjanya dengan sedikit berlari kecil. Gadis itu sengaja memakai sepatu boot karet agar tidak licin.
"Ya Allah Sav! Ta pikir siapa!" ucap Anita yang juga baru saja melepaskan jas hujannya di depan pintu masuk ruang bimbingan konseling dan meletakkan di kursi tunggu depan.
"Daripada aku batuk pilek?" balas Savitri sambil menutup payungnya dan meletakkan di tempat payung lalu melepaskan jaket dan sepatu karetnya mengganti dengan sandal jepit yang sudah dibawa di kantong plastik.
"Susah kalau punya alergi hujan" kekeh Anita.
"Mengsedih nggak sih?" Savitri pun masuk ke dalam ruang kerjanya dengan jaket tebal.
"Berarti waktu kecil kamu nggak bisa main hujan-hujanan dong!" ledek Anita.
"Boro-boro! Baru keluar pagar kena hujan saja langsung bersin dengan nada A Flat yang langsung pindah ke D mayor terus ketemu John Mayer" balas Savitri sambil membuka jaketnya.
Dina dan Bu Titi hanya melongo mendengarkan percakapan unfaedah pagi-pagi.
"Kamu memang parah ya alerginya Sav" kekeh Dina.
"Parah banget!" sahut Savitri.
Suara ponsel Savitri berbunyi dan membuat gadis itu mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum" sapa Savitri.
"Wa'alaikum salam. Sav, bang Duncan. Kamu dimana?"
"Di kantor bang. Kenapa?"
"Oom Reza di Solo ya?"
"Iya bang. Memang ada apa?" Entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Ghani kena tembak."
"Astaghfirullah..."
"Doanya ya Sav."
" Iya bang."
( Cerita Ghani bisa dilihat di The Detective and The Doctor )
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1