Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Kalau Ada Bapaknya, Ngapain Aku Yang Hajar


__ADS_3

Sore Sebelumnya


Jaehyun merasa bingung ketika membaca pesan dari kekasihnya untuk menjemput dirinya di sekolah tempat dia bekerja. Pria berdarah Korea Selatan dan Indonesia itu sekarang berada dipabriknya area Sukoharjo.


“Yudha, kamu bisa kesini?” panggil Jaehyun dari intercomnya.


“Baik Mr Kim.”


Tak lama Yudha pun masuk ke ruangan Jaehyun. “Ada apa Mr Kim?”


“Yud, saya mau pulang cepat soalnya Savitri-ya minta dijemput karena tadi pagi dia naik vespanya mungkin bermasalah. Jadi tolong kamu handle semuanya ya.”


“Baik Mr Kim.”


Jaehyun pun bergegas mengambil jas dan tas Prada nya lalu menelpon pak Harto untuk membawa mobil di depan pintu masuk kantor pabrik.


***


SMKN 11 Surakarta


Jaehyun turun dari mobil dan melihat Savitri sudah menunggu bersama dengan salah satu siswinya yang dia tahu adalah salah satu dari empat anak perempuan yang ditemuinya bersama dengan Neil dan Aurora di cafe Cold N Brew Manahan hari Sabtu lalu.


“Ada apa Savitri-ya?” tanya Jaehyun.


“Oppa. Oppa kenal wakapolsek Sragen Iptu Salman nggak?” tanya Savitri.


“Kenal baik malahan. Kenapa?”


“Dia ayahnya Melati.” Jaehyun melongo.


“Why don’t you say to your father ( Kenapa kamun tidak bilang sama papamu )?” tanya Jaehyun.


“Because i don’t want my father shoot them both ( sebab aku tidak mau papa menembak mereka berdua )” jawab Melati.


“Apa rencanamu Savitri-ya?” tanya Jaehyun ke Savitri dengan bahasa Korea.


“Bertemu dengan pak Salman ke Sragen. Melati disini tinggal sama tantenya dan aku rasa aku punya skenario yang bagus” seringai Savitri.


***


Kediaman Iptu Salman di Sragen

__ADS_1


Kedatangan Jaehyun dan Savitri disambut hangat kedua orang tua Melati, bapak dan ibu Salman. Awalnya mendengar putrinya pulang dengan diantar gurunya dan CEO pabrik tekstil Kim, membuat mereka bertanya-tanya apakah putri mereka melakukan kesalahan.


“Saya terkejut lho bu Savitri menelpon saya tadi. Apalagi Pak Kim juga menghubungi saya juga” sapa Iptu Salman dengan bahasa Inggris fasih. “Putri saya tidak melakukan kenakalan di sekolah kan bu?”


“Oh tidak pak cuma saya hanya ingin menyampaikan dan saya minta bapak dan ibu Salman jangan emosi karena ini sedang dalam proses…”


“Proses apa bu Savitri?” tanya Iptu Salman yang banyak mendengar cerita dari putrinya kalau guru bimbingan konseling cantik ini adalah guru favorit di sekolahnya dan tahu kalau Kim Jaehyun yang memiliki pabrik di area nya adalah kekasih Savitri.


Savitri menghela nafas panjang sebelum bercerita dengan ditimpali oleh Melati. Wajah Iptu Salman tampak murka sedangkan bu Salman hanya bisa beristghfar.


“Tapi kamu belum sempat direkam kan Mel?” tanya Iptu Salman ke putrinya.


“Belum Ayah, Mel masih nunggu giliran kamar mandi, si Saundra baru merekam Dilara yang masuk duluan dan dipergoki Anisa yang masuk berikutnya” jawab Melati.


“Jadi si Ahmad itu tidak mau mengakui kalau anaknya berbuat asusila dan malah melaporkan ke instansi saya? Siapa yang bertugas sebagai penyidik?” Iptu Salman menatap Savitri.


“Iptu Damar.”


“Saya harus menyewa pengacara…”


“Tidak perlu Pak Salman, saya sudah ada pengacara yang akan membela kami semua” jawab Savitri. “Pak Salman… Maukah anda bermain drama?”


Savitri tersenyum licik dan Jaehyun hanya melengos melihat kekasihnya sama kacaunya dengan sepupunya Eiji Reeves.


***


Present Day


Pak Ahmad dan Saundra tampak memucat setelah mengetahui bahwa ayah Melati adalah wakapolsek Sragen. Tampak wajah Iptu Salman seperti hendak membunuh orang.


“Ini kah Damar? Dua orang pecundang, pelaku pelecehan putriku? JAWAB DAMAR!” bentak Iptu Salman.


“Iya pak Salman” jawab Damar kalem.


“Yang mana yang namanya Saundra?” Iptu Salman menghampiri kedua orang yang tampak ketakutan. “Kalau anda tidak mungkin, anda terlalu tua!” tuding Iptu Salman. “Berarti anda yang bernama Saundra?”


Neil dan Aurora hanya menatap keributan di depan mereka dengan wajah datar.


Iptu Salman lalu menarik kerah baju Saundra dan menyeretnya keluar ruangan Damar membuat Pak Ahmad melongo tidak percaya putranya dibawa sedemikian rupa.


“Pak Damar! Tolonglah putra saya! Saya tidak terima!” ucap Pak Ahmad panik.

__ADS_1


“Saya kira wajar seorang ayah akan membela martabat putrinya yang dilecehkan oleh anak anda. Coba bagaimana posisi anda dibalik? Apa yang akan anda lakukan jika ada seorang pria melecehkan putri Anda?” Damar menatap dingin ke arah Pak Ahmad.


“Saya rasa sudah waktunya anda untuk tidak melindungi putra anda lagi, Pak Ahmad” timpal Neil Blair dengan nada dingin. “Anak anda sudah dewasa, sudah akil baliq dan sudah bisa diproses secara hukum! Dia bukan bayi dan anda tidak akan melindunginya selamanya! Saudara Saundra harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya begitu juga anda yang sudah melakukan tindakan pengancaman kepada saudara Felix, saudari Dina, saudari Savitri dan empat siswi bernama Dilara, Putri, Anisa dan Melati. Bersikaplah gentleman karena seorang pria yang dipegang ucapan dan perbuatannya. Anda tidak mau kan dibilang banci oleh seluruh orang di SMKN 11?”


“Anda… anda tidak tahu berhadapan dengan siapa!” desis Pak Ahmad ke Neil yang hanya menatap dengan tenang.


“Anda mau bawa-bawa saudara anda yang jaksa dan hakim itu? Hah! Jangan dikira saya tidak tahu kalau saudara anda terlibat kasus banyak dan sedang disorot oleh pihak kejaksaan dan kehakiman. Saya tahu karena mereka berdua meminta daddy saya untuk menjadi pengacara mereka.”


“Anda…”


“Neil Blair, pengacara dari Blair and Blair Advocate. Pernah mendengar nama Stephen Blair? Beliau Daddy saya.” Neil tersenyum. “Setelah kasus ini, daddy saya semakin menolak menerima kilen seperti dua saudara anda!”


Wajah pak Ahmad semakin memucat karena dia juga tahu dari istrinya kalau kakaknya sedang ada masalah dan sedang meminta bantuan pengacara terkenal Jakarta bernama Stephen Blair. Dan kini aku berhadapan dengan putranya?


“Oh jangan lupa janji anda di depan Pak Felix, bu Dina dan Savitri untuk melakukan permintaan maaf secara terbuka di hadapan semua guru, para siswa dan semua orangtuanya yang anaknya dilecehkan oleh anakmu!” seringai Neil Blair. “Pak Damar, surat tuntutan dari para korban sudah saya serahkan kan tadi?”


“Sudah pak Neil” jawab Damar.


“Kalau begitu, saya permisi dulu. Tolong jangan lupa berikan updatenya” senyum Neil. “ Ayo, sayang.” Aurora pun mengangguk hormat.


“Kami permisi dulu pak Damar, pak Ahmad” pamit Aurora lembut.


“Saya tunggu janji anda pak Ahmad seperti yang anda tantang ke Savitri” ujar Neil sebelum keluar ruangan Damar.


Pak Ahmad hanya menunduk. “Sebenarnya… apa hubungannya pak Felix, bu Dina dan Bu Savitri dengan pengacara itu?” tanya pak Ahmad ke Damar.


“Hanya dengan Bu Savitri. Apakah pak Ahmad tahu, pak Neil Blair dan Bu Savitri adalah saudara sepupu.” Damar tersenyum smirk.


“Se…sepupu…?”


“Ohya. Stephen Blair adalah Oom Bu Savitri.”


***


Yuuuhuuuuu Up Malam Yaaaa


Thank You for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2