Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Tiga Wanita Menikmati Hari


__ADS_3

RR's Meal Mega Kuningan Jakarta


Ketiga wanita itu pun duduk di sebuah meja yang memang khusus dipakai keluarga Pratomo saat ingin makan bukan di ruang VIP. Ada aturan baku, ruang VIP hanya untuk privacy keluarga besar saja dan anggota keluarga baru yang sudah resmi masuk Keluarga Pratomo.


"Beneran deh kamu nona keluarga Pratomo" celetuk Santi.


"Lha kamu masih meragukannya? Astoge Santi! Hidup lu kok ga asyik!" sungut Savitri.


"Tapi tadi kenapa nggak kamu hajar saja San, si Dani?" tanya Aisyah ke Santi yang sedang memblokir Dani dari semua platform sosial medianya.


"Aku nggak mau lah nanti dituntut penganiayaan padahal posisi aku dianggap pelakor padahal sumpah aku tidak tahu kalau dia sudah menikah! Makanya aku guyur juice jeruk saja... Lengket, lengket deh!"


"Aku sebenarnya juga gatal pengen hajar! Pria celutak macam begitu kan belum kapok kalau hidden gem nya bonyok!" timpal Savitri yang membuat dua sahabatnya menatap horor.


"Sav, aku curiga. Kamu sudah hajar berapa orang? Kok ngomongnya santai banget!" Aisyah menatap Savitri gemas.


"Hidden gem patah saja aku pernah lihat!"


Santi dan Aisyah memekik heboh. "Yang benar?"


Savitri pun bercerita soal Herman, soal Safri dan beberapa kasus di sekolahnya yang membuat dua sahabatnya memandang guru bar-bar itu tidak percaya.


"Ya Allah, Sav. Terus gimana itu Herman?" tanya Aisyah.


"Aku gak tahu dan gak urus. Salahe nggak sopan dia punya burung! Celup sana sini!"


Santi memegang pelipisnya. "Tuhanku, kok bisa cewek brutal begini jadi guru bimbingan konseling pulak!"


"Hei, justru sikap brutalku dibutuhkan untuk menghadapi para siswa SMK yang bandel-bandel! Kalau aku lemah, mereka akan semakin ngelunjak!" jawab Savitri cuek.


"Ngomong-ngomong, ini makanannya enak banget! Oom kamu itu Ryu Reeves kan yang jadi chef?" tanya Santi sambil memakan lamb chop nya.


"Yup. Oom aku yang sudah dapat Michelin dan diakui chef internasional."


"Oom kamu punya anak cowok nggak? Lumayan punya camer chef" gelak Santi.


"Sorry Jack! Anak oom gue cewek! Mau jadi lesbong lu?"


Santi mengeplak bahu Savitri. "Ih! Sorry ya! Aku masih doyan laki!"


Aisyah cekikikan mendengar ucapan Santi. "Tapi San, apa kamu nggak patah hati bubaran sama Dani?"


"Sedih sih ada, tapi aku lebih menjurus bersyukur karena aku tahu sebelum semakin serius. Asal kalian tahu, kami baru pacaran enam bulan."


"Sejak bulan ke berapa dia menjadi sok posesif dan stalking begitu?" tanya Savitri.

__ADS_1


"Bulan kedua. Awalnya aku menganggap it's so sweet dia sangat perhatian sama aku tapi makin kesini kok makin menyebalkan..."


"Itu sudah red flag ( pertanda ) bahwa ada yang gak benar. Pengalaman aku sama mas Jae, setahun kami pacaran itu meskipun pacar depan rumah, komunikasi tetap tiap hari walaupun cuma bilang how's your day atau makan siang dimana pas jam maksi. Nggak ada tuh tanya detail karena kami saling percaya satu sama lain. Toh juga tahu kerjaannya gimana." Savitri menatap Santi serius.


"Kamu sama mas Jae itu tampaknya kompak satu sama lain ya. Savitri" senyum Aisyah. "Semoga kalian berdua segera menikah ya."


"Aamiin."


Suara ponsel Savitri berbunyi membuat gadis itu mengambil benda pipih dengan casing pink hello Kitty lengkap dengan aksesoris nya.



Santi dan Aisyah hanya menggelengkan kepalanya melihat guru satu ini tampak cuek menerima teleponnya dengan style abegeh sekali.


"Assalamualaikum Oppa" sapa Savitri riang. "Aku? Aku di RR's Meal Mega Kuningan... Iya yang kemarin sama Rain dan Ryoma... Ini masih sama Santi dan Aisyah... Hah? ... Nggak yaaa, aku nggak brutal Oppa... Nggak bikin perkara... Iyaaa. Sampai ketemu di rumah Oom Abi... Wa'alaikum salam."


"Kamu ngobrol pakai bahasa Korea? Aku nggak paham meskipun hobinya nonton Drakor" gelak Aisyah.


"Kan biar bahasa Korea aku tetap terasah lah!" kekeh Savitri. "Kalian mau pesan apalagi? Kita merayakan kebebasan Santi dari pengibulan pria celutak minus akhlak!"


"Serius?" tanya Santi.


"Tenang, aku yang bayar!"


"Boleh, asal dihabiskan! Mamaku bilang, tidak baik membuang-buang makanan karena masih banyak orang yang susah untuk bisa makan sehari tiga kali."


Santi dan Aisyah pun mengangguk.


***


Menjelang jam lima sore, mereka bertiga pun selesai menikmati hidangan lezat dari RR's Meal dan kedua sahabatnya melihat Savitri membayar dengan kartu platinum.


"Kamu punya kartu hitam?" tanya Santi.


"Punya. Tapi aku simpan di brankas rumah aku di Solo soalnya aku bisa khilaf beli sebuah Ferarri nanti..." gelak Savitri dengan cueknya.


"Astagaaa!"


"Aisyah!" Seorang pria tampan dengan kaos hitam, jeans belel dan jaket kulit datang menghampiri rombongan wanita itu.


"Mas Azzam" senyum Aisyah menyambut suaminya. "Savitri, Santi, perkenalkan ini mas Azzam suamiku. Mas, ini sahabat aku waktu SMP."


Azzam menangkupkan kedua tangannya. "Salam ke... nal. Savitri? Savitri Putri?"


"Hah?" Savitri menatap Azzam bingung. "Iya saya Savitri Putri. Kenapa ya mas?"

__ADS_1


"Kamu kan yang tanding judo tingkat universitas seluruh Indonesia tujuh tahun lalu? Mewakili Universitas Indonesia? Benar? Yang berdebat sama juri karena kamu merasa pukulanmu masuk tapi wasit menganulir?"


"Haaaaahhh? Memang mas Azzam ikut tanding?"


"Aku bagian putra, mewakili Universitas Padjadjaran. Aku cuma geli saja lihat kamu dengan berani protes..."


"Dan akhirnya aku didiskualifikasi" sungut Savitri manyun.


"Mas Azzam sempat berkenalan sama Savitri?" tanya Aisyah.


"Mas nggak sempat Aisyah sayang soalnya setelah Savitri marah-marah, mas bertanding dan dia sudah pergi dari tempat pertandingan. Kabarnya kamu merusak tong sampah ya?"


"Daripada aku hajar si juri picek matanya itu!" sahut Savitri cuek yang membuat semua orang tertawa.


"Senang bertemu kembali dengan kamu Savitri. Karena kamu bukan satu-satunya yang berani melawan juri tolol itu!" gelak Azzam.


"Apa ada kejadian lain setelah aku hajar tong sampah di luar arena pertandingan?"


"Ohya. Pejudo dari Universitas Airlangga kena juga dan kali ini dia tidak menahan diri macam kamu. Dia menghajarnya."


"Noooo!" Savitri menatap Azzam tidak percaya.


"Yup, dan hidungnya patah" gelak Azzam.


"Harusnya aku hajar lebih dulu ya tapi aku ingat pesan Daddyku untuk menahan keinginan ku paling dasar untuk membanting orang diluar lawan pertandingan" gumam Savitri.


"Aku yakin kalau kamu yang hajar, pasti auto pingsan dengan banyak patah tulang" gelak Santi.


"Absolutely!"


Azzam dan Aisyah hanya tertawa melihat wajah Savitri yang tampak serius.


"Terimakasih sudah datang ke Jakarta dan bisa bersilahturahmi" ucap Aisyah sambil memeluk Savitri.


"Kapan kalian main ke Solo, kabari saja. Kita bakalan kulineran sampai pagi dan jangan memikirkan jarum timbangan yang bakalan geser ke kanan tanpa sopan santun." Savitri memeluk kedua sahabatnya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2