Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Ketahuan Juga Akhirnya


__ADS_3

Ruang Bimbingan Konseling SMKN 11 Surakarta


Savitri dan Bu Titi melongo mendengar bahwa Anita sudah jalan bareng dengan Damar, seorang iptu polisi yang juga kakak dari bekas anak didiknya, Davi.


"Sejak kapan?" tanya Savitri kepo.


"Enam bulan lalu kami bertemu tidak sengaja di Gramedia Slamet Riyadi terus ngobrol eh kok nyambung. Ya sudah hampir empat bulan ini kami pacaran."


"Davi gimana?" tanya Bu Titi.


"Hanya melengos soalnya aku ceritain aibnya Davi ke ibunya saat aku diajak ke rumahnya sama mas Damar."


"Lha elu juga pakai acara buka aib" gelak Savitri.


"Ibunya tanya Sav. Tadinya mau aku tutupi tapi kan mas Damar tahu aku tahu kebobrokan adiknya. Untungnya tho Sav, sekarang Davi jauh lebih baik dan kuliahnya rajin."


"Alhamdulillah lah tuh bocah bisa insyaf, kagak pingsan melulu!" kekeh Savitri.


"Jadi besok acaranya Pak Ekadanta, berangkat dhewe-dhewe sidhane ( berangkat sendiri-sendiri jadinya ) kan?" Bu Titi menatap ke kedua rekannya.


"Iyalah!"


Tiba-tiba Dina masuk ke ruang bimbingan konseling. "Sav, stalkermu arep rabi ( penguntitmu mau nikah )!" seru Dina heboh.


"Telat Bu! Wis dibahas ( sudah dibahas )!" celetuk Bu Titi.


"Lha aku telat!" Dina lalu duduk di kursi kerjanya.


"Memang dirimu dari mana mbakyu?" tanya Savitri.


"Aku tadi jadi detektif!" ucap Dina jumawa.


"Hah? Detektif Opo?" kepo Bu Titi.


"Kamu tadi sama Bu Anti urus keluarin si Jani Jamilah itu kan? Nah, begitu mereka keluar gerbang, rupanya sudah dijemput sama mobil bagus. Aku, ndilalah nya mau masuk gerbang sekolah tapi jiwa kepo dan Julid aku berkobar kencang jadi aku ikuti lah! Dan kalian tahu hotel baru yang dekat dengan pasar Legi?"


"Tahu. Kenapa memang?" Savitir jadi ikutan kepo.


"Mereka kesana Bu ibu. Karena aku pakai masker dan jaketan plus kita hari ini nggak pakai seragam jadinya kan ga ketahuan kalau aku guru, aku ikutin lah pura-pura ketemu orang disana. Aku parkir motor ku, aku ambil ponselku, sok telpon bergaya mau bertemu di lobby. Sampai sana, aku lihat si Jani ditemukan sama Oom-oom dan ibunya sendiri yang kasih. Ibunya yang pakai baju merah mencolok itu kan?"


"Astaghfirullah! Kok sampeyan tahu ibunya Jani itu?" tanya Bu Titi.


"Ngertilah! Wong aku tahu padu Karo Dekne ( Aku pernah berantem sama dia ) ya gara-gara anaknya satu lagi. Tapi bukan Jani, kakaknya. Kamu sama Anita belum masuk sini Sav. Itu kejadian lima tahun lalu. Jadi Janu itu punya kakak perempuan lebih tua lima tahun, dan ya sama kasusnya sama Jani."


"Sek sek sek... Anake dhewe dipakakke? ( Anaknya sendiri dijual )?" Savitri melongo.


"Iyo! Si Rita punya anak tiga cewek semua. Dan semuanya dipakakke! Untunge sing mbarep, sing beda tujuh tahun sama Jani iso ucul dari emake. Saiki Wis minggat Ning Bali, Urip Karo bojo dan anake. Bejo Dekne enthuk bojo apikan ( Untungnya yang sulung, yang beda tujuh tahun dari Jani, bisa lepas dari ibunya. Sekarang sudah minggat ke Bali, tinggal sama suami dan anaknya. Dia beruntung mendapatkan suami orang baik )."

__ADS_1


"Kok Kowe ngerti Bu Dina?" tanya Anita.


"Soale sing mbarep njaluk Tulung Karo aku pas ndilalah ketemu Ning mall arep ketemu klien ( Soalnya yang sulung minta tolong sama aku pas kebetulan ketemu di mall mau bertemu klien ). Jadi tiga anaknya itu sekolah disini semua, dan aku hapal modus operandi nya. Sekolah cuma setahun dua tahun, langsung disuruh DO."


"Ya Allah Gusti, jadi dia punya tiga anak perempuan hanya dijadikan sapi perah? Iiissshhh, pengen aku bejek-bejek!" geram Savitri. "Assyuuu tenan!"


Ketiga rekannya langsung menoleh ke Savitri. "Woiii lambe dikondisikan!" seru Anita.


"Wong kayak ngunu ora usah diperhalus lah umpatannya ( orang seperti itu tidak usah diperhalus umpatannya )!" sahut Savitri judes.


"Sav, Ojo mbok tambahi kasusmu lho ya. Sangar lho, setahun lebih kamu disini, sudah dipanggil polisi berapa kali coba? Sampai-sampai panggil pengacara dari Jakarta" kekeh Bu Dina.


"Lha kan bukan aku sing nggarai ( yang mulai ). Mereka duluan yang mancing aku! Jadi jangan salahkan aku kalau aku menbalasanya jauh lebih sadis dari mereka" ujar Savitri cuek.


"Astaghfirullah! Savitri... Savitri" gumam Bu Titi.


"So, menurut kalian, apa berani pak Ahmad menunaikan janjinya ke kami bakalan meminta maaf di depan umum?" Dina menatap ke ketiga rekannya.


"Nggaaaakkk!" balas ketiganya sambil tertawa.


"Wong kayak ngunu mana berani ( orang macam itu, mana berani )?" kekeh Anita. "Kakehan cangkem ( kebanyakan omong )."


"Eh tapi Savitri, sepupumu ganteng banget ya? Bule nya minta ampun!" celetuk Bu Titi.


"Bang Neil? Padahal ibunya wong jowo lho tapi memang darah bule Oom Stephen lebih kental."


"Apa-apaan sih, Nit! Main sawat kapur macam di kelas wae!" sungut Savitri yang berhasil mengelak dari lemparan kesal Anita.


"Bu Dina, sadar nggak? Selama setahun ini kita satu ruangan dengan putrinya Reza Pratomo, CEO PRC Group!" seru Anita. "Pantas kamu backingnya top banget! Kampret Kowe!"


"Haaaaahhh?" Dina dan Bu Titi melongo.


"Stephen Blair itu pengacara beken, ipar keluarga Pratomo."


"Kamu kok bisa tahu Nit?" cengir Savitri.


"Aku punya otak yang bisa merangkai semuanya."


"Yang sayangnya telat baru sekarang sadar... Aduuuhh!" Savitri memegang kepalanya yang kena lempar kapur.


"Astaghfirullah! Kamu anak konglomerat?" bisik Bu Titi sambil menutup mulutnya tidak percaya. "Aku bisa meraba kamu anak orang kaya tapi tidak menyangka sekaya itu dan keluarga mu orang beken semua."


"Eh sudah! Yang kaya dan punya nama mereka sedangkan aku kan hanya Savitri Putri, rekan kalian yang memilih menjadi guru bimbingan konseling dibandingkan mengambil alih perusahaan Opa dan Daddy." Savitri tersenyum manis. "Okelah, sebagai tanda permintaan maaf dari aku, kalian mau apa?"


"Tas Hermès!" seru Anita.


"Ngelunjak!" Savitri membalas Anita dengan melempar kapur ke arah gadis itu yang duduk berseberangan mejanya.

__ADS_1


"Traktir dong Sav!" ujar Dina.


"Oke, mau dimana?"


"Diamond!" seru ketiganya.


"Deal! Kapan?"


"Hari ini!"


"Pulang nanti!"


"Today!"


"Hayuuukkk! Siapa takut!" kekeh Savitri.


"Makan sepuasnya, semauku ya Sav!" kerling Anita licik.


"Boleh tapi dengan syarat, harus dihabiskan! Komitmen!" Savitri menatap serius ke semua rekannya.


"Iya, kalau nggak kita bawa pulang Sav" senyum Bu Titi.


"Okelah! Nanti kita semua ke diamond!" Savitri tersenyum.


***


Diamond Restaurant Slamet Riyadi Solo


Keempat guru itu sudah tiba di restauran Diamond dan langsung memesan makanan yang jarang mereka pesan karena harganya mahal. Savitri hanya tersenyum melihat ketiga rekannya heboh.


Tiba-tiba keempatnya menoleh ke arah dua orang yang baru masuk dan tampak Jani sedang dipeluk oleh seorang Oom - oom menuju tempat makan yang berada di sudut pojok.


"What the..." Savitri menatap tajam ke arah dua orang itu.


"Sav...No!" Dina mencengkeram lengan rekannya.


Savitri hanya bisa mengeraskan genggaman tangannya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2