
Tidak terasa usia pernikahan Savitri dengan Jaehyun menginjak tahun ke dua dan usia putra mereka, Nathan, sudah setahun. Bayi tampan yang semakin mirip dengan sang appa membuat Savitri semakin manyun dengan kuatnya gen Jaehyun.
"Harusnya gen aku dong yang kuat Oppa! Bukan kamu! Lihat, Nathan makin mirip kamu! Sifatnya juga!" protes Savitri setiap habis menyapih putranya.
"Savitri-ya, kan jadi jelas itu anak aku. Tidak perlu harus memeriksa DNA" jawab Jaehyun kalem sambil menggendong Nathan menunggu sampai putranya bersendawa sementara Savitri membereskan semua peralatan makan milik bayi lucu itu.
"Iiiisshhhh, aku kan jadi sebal! Aku yang bawa kemana-mana sembilan bulan, tak gendong kemana-mana... Tunggu kok jadi lagunya Mbah Surip ya?" gumam Savitri dengan tampang sok bingung membuat Jaehyun melengos.
"Boy, kamu jangan tiru gesrek dan panasan Eomma kamu ya. Bahaya!" bisik Jaehyun ke sisi telinga Nathan sambil mengusap-usap punggung putranya.
Tiba-tiba suara sendawa bayi itu terdengar. "Alhamdulillah..." ucap Savitri dan Jaehyun bersamaan membuat bayi itu tersenyum.
Mbok Mar yang mendengar percakapan keluarga kecil itu hanya tersenyum geli. Kehidupan rumah tangga nonanya yang sekarang menjadi nyonya memang sesuai dengan keinginannya, Membagongkan.
***
SMKN 11 Solo
Pagi Savitri datang mengendarai Vespanya alias si Papa. Semenjak memiliki Nathan, Jaehyun melarang dengan keras memakai Saki. Savitri baru boleh memakai Saki kalau bersama dirinya untuk ikut sunmori bersama para penggemar Kawasaki Ninja di hari Minggu. Tapi membawanya seperti dulu, no way José! Akhirnya Savitri mengalah memakai si Papa daripada tidak boleh naik motor.
Savitri memang dikenal keras kepala karena dia tidak mau membawa mobil Mazda nya atau mobil mini Cooper hadiah ulangtahunnya dari Jaehyun. Dia ingin tetap biasa saja meskipun semua orang tahu dia anak Sultan dan suaminya memiliki pabrik tekstil besar.
Dan sekarang sambil berjalan santai, hot mommy itu menuju ruang kerjanya. Di perjalanan dia bertemu dengan Ekadanta yang membaik hubungannya dengan Savitri, sebatas profesional sesama rekan guru.
"Pagi Bu Savitri" sapa Ekadanta yang mengganti panggilannya ke lebih sopan kepada Savitri. Apalagi semenjak istri Jaehyun itu hamil dan melahirkan, Ekadanta sudah mengganti panggilannya.
"Pagi pak Eka" balas Savitri ramah seperti biasanya. Keduanya pun berpisah menuju ruangan masing-masing. Cerita masa lalu mereka, seperti dikubur di sebuah kuburan keramat dan tidak akan dibuka lagi.
***
Ruangan Bimbingan konseling SMKN 11 Solo
"Selamat pagi wahai penghuni ruang bimbingan konseling!" sapa Savitri membuat Bu Dina dan Bu Titi hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Wis dadi bojone wong, Wis nduwe anak, kok Yo jek brutal nek nyopo ( sudah jadi istrinya orang, sudah punya anak, kok ya masih brutal kalau menyapa)" omel Dina sebal.
"Lha meh piyeee. Gawan orok!" balas Savitri cuek.
"Untung Nathan melu Jaehyun, ora kayak Kowe ( untung Nathan ikut Jaehyun, tidak seperti kamu )" sahut Bu Titi sambil tertawa.
"Iya lho! Dimana keadilan ini ya Tuhan... Aku yang bawa glundang glundang di dalam perutku sembilan bulan, brojole kok plek bapake. Sangat tidak fair... " rengek Savitri mendrama membuat dua seniornya lelah mendengarkan keluhan guru bar-bar itu.
"Wis ... Salah ngomong aku..." ucap Bu Titi.
***
Ruang Bimbingan Konseling sekarang agak lengang sebab Anita sudah menikah dengan Damar awal tahun ini dan sekarang sedang hamil anak pertama. Kehamilannya yang memasuki trisemester pertama, membuat Anita mabuk hingga dia mengambil jatah cutinya demi bisa istirahat di rumah.
"Anita tuh kayaknya kualat sama Damar. Hobinya bikin pak polisi satu itu gemas dan sekarang dibalas sama anaknya jadi nggak bisa usil" kekeh Dina.
"Ngomong-ngomong soal anak, aku kok jadi kangen Nathan ya. Duh rasanya pengen ngarungin anakku yang gemoy terus dibawa kesini..." gumam Savitri membuat dua rekannya melongo.
"Bu Savitri?"
Ketiga wanita itu menoleh dan tampak pak Setyo, guru bahasa Jawa berdiri di pintu ruang bimbingan konseling.
"Njih pak Setyo?" jawab Savitri.
"Bu Anita masih cuti njih?" Pak Setyo pun masuk ke dalam ruang bimbingan konseling itu sambil melirik meja kerja Anita yang kosong tidak ada pemiliknya.
"Masih pak. Kados pripun ( ada apa )?"
"Bu, bisa bicara berdua. Saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa."
Savitri pun berdiri lalu mengajak Pak Setyo masuk ke dalam ruang meeting.
***
__ADS_1
"Video b*Kep?" seru Savitri. "Rahmat menonton video b*kep di kelas? Pas pelajaran bapak?"
"Njih Bu Savitri" jawab Pak Setyo lemas. "Jadi tadi itu saya kan mengajar terus saya lihat si Rahmat kok anteng tapi nggak konsen ke arah saya. Bu Savitri kan tahu kalau Rahmat Hasbullah itu kan bukan anak nakal dan tidak pernah macam-macam..."
"Lalu?" Savitri menyandarkan punggungnya di kursi sambul beristighfar dalam hati.
"Saya hampiri Rahmat dan dia seperti tidak tahu saya datang ke arahnya apalagi dia memakai handsfree. Dan ... saya melihat dia sedang asyik nonton b*Kep di kelas!"
"Pak Setyo mengambil ponselnya?" tanya Savitri.
"Iya Bu... Dan... astaghfirullah... isinya..." Pak Setyo sampai mengusap dahinya yang berkeringat dengan tissue yang ada di meja tempat mereka berbicara. Pria berusia 50an itu menyerahkan ponsel milik Rahmat ke Savitri.
Guru bar-bar itu melotot tidak percaya folder disana berisikan banyak film b*kep.
"Astaghfirullah..." ucap Savitri.
"Bagaimana ini Bu? Saya yakin Rahmat sudah kecanduan p*rn*grafi..."
"Pak Setyo, biar nanti saya ajak bicara ke Rahmat" jawab Savitri mencoba menenangkan guru senior itu. "Biarpun Rahmat anaknya Bu Anita, tapi saya yang akan mengurus kasusnya."
"Matur nuwun Bu Savitri. Sangat disayangkan kalau Rahmat tidak sembuh dari kecanduannya... Dia anak yang baik dan tidak aneh-aneh."
"Njih pak Setyo, saya nanti ajak ngobrol dan konseling" senyum Savitri.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1