Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Savitri Shock


__ADS_3

Kediaman Keluarga Pratomo Manahan Solo


Jaehyun dan Savitri makan malam dengan santai apalagi lauk yang disiapkan mbok Mar adalah kesukaan Savitri, semur daging.


"Kabarnya kamu bertemu dengan mommyku ya?" tanya Jaehyun yang duduk berhadapan dengan Savitri.


"Iya, aku bertemu dengan Tante Kirana. Ibumu sangat menyenangkan!" senyum Savitri. "Tapi aku heran, anaknya kok njelehi ya."


"Hah? Njelehi apa maksudmu?"


"Ada uang, ada pembantu rumah tangga di rumah tapi makannya di rumah tetangga."


"Aku lebih suka bayar katering ke mbok Mar deh daripada beli. Pertama, aku tahu pasti enak. Kedua, lauknya variatif. Ketiga, aku ada temannya makan bersama. Memangnya kamu nggak senang apa makan ada teman ngobrol?" senyum Jaehyun.


"Iya sih... Tapi jangan lupa bayar biaya catering nya ya!" Savitri menyeringai.


"Iya, nanti aku bayar ke mbok Mar" kekeh Jaehyun. "Besok acaramu apa? Masih perlu sorting Hat?"


Savitri melongo lalu tertawa terbahak-bahak. "Baca status IG ku juga tho!"


"Baca lah. Muridmu rada sesat itu Savitri-ya. Benar kata Mamoru Hyung, kurang piknik."


"Ih beneran deh Oppa. Ngajak gelut anak itu! Entah orang tuanya ngidam apa dulu!"


"Jangan salahkan orang tua..."


"Lha terus?"


"Salahkan keadaan yang membuatnya begitu."


Savitri tertawa. "Tapi Oppa, namanya gen itu pasti turunan."


"Benar gen itu menurun tapi menurut aku, watak manusia itu akan mengikuti lingkungannya. Kalau lingkungannya Lola aka loading lama, dia akan mengikuti secara tidak sadar. Atau jika lingkungannya isinya gerombolan sosialita, pasti dia akan ikut dan watak serta karakter akan berubah mengikuti peer group nya."


Savitri menatap Jaehyun serius. "Oppa, aku tidak menyangka kamu paham psikologi."


"Karena aku suka membaca. Ada yang aku setuju dari pemikiran Sigmund Freud tapi ada yang tidak atau pemikiran Aristoteles, Plato atau tokoh filsafat psikologi lainnya. Kita ambil yang sekiranya cocok dalam menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Sejujurnya Savitri-ya, aku bersyukur memahami psikologi karena membuat menatapku kuat."


"Kenapa Oppa tidak ambil kuliah di psikologi saja dulu?"


"Sebab, aku diplot untuk menggantikan Appa jadi aku ambil bisnis tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat aku ingin kuliah psikologi seperti dirimu."


"Tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu, Oppa."


"Tunggu Savitri-ya. Aku kok rada gimana kalau kamu ngomong serius."


Savitri melongo. "Iiissshhh! Oppa nyebelin!"


***


Jaehyun menatap arah rumah Savitri dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Dilihatnya kamar gadis itu sudah padam dan menyisakan lampu kecil saja.


Pasti sudah tidur. Jaehyun tersenyum mendapatkan oleh-oleh dari guru bar-bar itu berupa sake yang dia tahu adalah pilihan.



"Minumnya besok saja deh bareng Savitri. Mana enak minum sendirian" gumam Jaehyun yang sudah bersiap untuk tidur.


"Good night Guru Bar-bar."


***


Pagi harinya Savitri sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah tempat dia bekerja menggunakan Vespa pink imutnya ketika dia melihat Jaehyun juga sudah bersiap untuk ke pabriknya.


"Savitri-ya! Good morning! Bareng yuk!" ajak Jaehyun melihat Savitri depan pagar hendak berangkat.

__ADS_1


"Nggak lah Oppa! Aku harus pagi-pagi sampai sana, kalau bareng Oppa bisa kena macet" tolak Savitri.


"Ya sudah. Hati-hati yaaa!"


Savitri melambaikan tangannya sebelum membawa Vespanya itu ke jalan utama.


***


SMKN 11 Surakarta


"Pagi Sav" sapa Anita.


"Pagi Nit."


"Cerah tampak."


"Masa sih Nit?"


"Ahjussinya sudah balik dari Amrik?"


"Sudah."


"Pantas wajahmu tampak cerah. Dapat oleh-oleh dari Amrik gak?"


"Dapat lah! Banyak lagi!" Savitri tidak berbohong karena Jaehyun membawakan banyak coklat, minuman yang tidak ada di Indonesia, baju dan beberapa novel yang baru terbit.


"Kalian itu sebenarnya pacaran atau gimana sih?"


Savitri melirik ke tempat parkiran motor dan tampak Ekadanta sedang memarkirkan motornya disana. "Pacaran lah! Pacaran santai bukan yang terburu-buru cepat-cepat nikah. Nikmati saja soalnya kan adat Jawa sama Korea berbeda Nit."


"Iya sih, wong yang orang Jawa sesama Jawa tapi Jawa Solo sama Jawa Brebes wae agak beda, apalagi ini beda negara" gumam Anita yang tahu ada Ekadanta disana.


"Nah tuh tahu!"


Savitri menoleh ke arah Anita. "Memang kenapa?"


"Tuuuuhhh!" Anita menunjuk barisan para siswa baru gelombang kedua yang sudah banyak.


Savitri pun merasa lemas.


***


Pabrik Tekstil Kim Sukoharjo


"Pagi Mr Kim" sapa para pegawai disana sedangkan Jaehyun hanya tersenyum sopan dengan didampingi oleh Yudha.


"Pagi" jawab Jaehyun singkat yang langsung menuju ruangannya.


"Ada kendala apa Yud?" tanya Jaehyun ke Yudha setelah sampai di ruangannya.


"Tidak ada Mr Kim. Oh, tuan Rudy Akandra mengajak makan siang dengan anda nanti jam dua belas."


Jaehyun menaikkan sebelah alisnya. "Rudy Akandra? Oomnya Savitri-ya?"


"Iya Mr Kim."


"Dimana?"


"Diamond Restaurant."


***


SMKN 11 Surakarta


Savitri kali ini benar-benar muntap ( marah besar ) ketika dirinya sedang mewawancarai seorang siswa, tiba-tiba tasnya jatuh dan melihat dua bungkus Kon*dom disana.

__ADS_1


Sontak guru bar-bar itu langsung menyeret siswa itu menuju ruang meeting bimbingan konseling.


"Ini Kon*dom buat apa?" tanya Savitri judes.


"Buat bungkus hp Bu..."


"Bungkus hp atau manukmu!" hardik Savitri galak. "Sing nggenah wae cah! ( yang benar saja ). Hp itu kalau dibungkus ya pakai casing! Bukan pakai kon*dom!"


"Eeerrr..."


"Sekarang jawab jujur! Sejak kapan kamu sudah tidak perjaka?"


Calon siswa laki-laki itu hanya menunduk.


"Apa perlu ibu panggil kedua orang tua kamu supaya menarik kamu dari SMKN 11 Surakarta karena SUDAH membawa barang yang dilarang di sekolah? Iya!" bentak Savitri.


"Ja...jangan Bu!" ucap siswa itu memelas.


"Lha terus? Ngapain kamu bawa barang ini pas saat wawancara? Nggolek molo tenan ( cari penyakit benar )! Jujur sama ibu! Kamu sudah tidak perjaka sejak kapan!"


"Sejak kelas...satu SMP..."


"Terus kalau kamu sudah merasakan keluar sekali, pasti kudu dikeluarkan kan? Kamu berhubungan sama siapa pertama kali?"


"Sama...istrinya bapak..."


"Karo mbokmu dhewe? ( sama ibumu sendiri )" Savitri melongo.


"Bukan Bu... istri ketiganya bapak..."


Savitri semakin menganga dan menepuk jidatnya. "Sek, sek... Ceritanya gimana?"


"Bapak saya juragan beras di Delanggu punya istri empat. Saya anak dari istri pertama paling Ragil. Nah istri ketiga bapak itu seumuran sama ibu dan bodynya memang bohay Bu..."


Jangan ditanya wajah Savitri yang hanya menatap bengong ke arah siswa itu.


"Nah, istri ketiga bapak tinggalnya di Solo sini terus pas saya masuk SMP, bapak menitipkan saya ke mama karena saya sekolah disini. Lha bapak kan nggak setiap hari nengok mama, jadi mama kesepian lalu...sama saya Bu."


"Astaghfirullah Al Adzim..." Savitri memegang pelipisnya. "Ojo mbok terus-teruskan ya Le ( Jangan kamu teruskan ya nak ). Ibu agak ngeri nek bapakmu tahu!"


Siswa itu hanya menunduk.


"Terus mamamu piyeee? Kalian masih berhubungan sampai sekarang?"


"Mama tahun kemarin melahirkan Bu, tapi sepertinya itu anak saya cuma mama Denial bilang anak bapak. Makanya Bu, saya sedia Kon*dom biar nggak kebobolan lagi."


Savitri kali ini benar-benar menepuk jidatnya keras.


***


Note


Cerita siswa diatas adalah true story dari temanku yang memang seorang guru bimbingan konseling. Banyak kisah nyata yang terkadang kita tidak menyangka beneran terjadi, bukan hanya sekedar cerita di novel.


Thanks Di, buat memberikan banyak Ilham kehidupan guru bimbingan konseling hingga jadi novel Bu Savitri ini.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2