
SMKN 11 Surakarta
Savitri bersiap untuk pulang bersama dengan Anita dan Bu Titi yang hari ini membawa motor. Dina dan Savitri sepakat untuk merahasiakan terlebih dahulu kasus ini dari dua rekannya karena besok pasti akan terkuak juga.
"Kamu tadi ada yang cari" ucap Bu Titi.
"Dua cowok ya?" sahut Savitri.
"Iya. Cakep-cakep. Heran aku sama kamu, Sav. Kok gadha yang jelek di keluarga kamu" kekeh Bu Titi sambil memakai helmnya.
"Gen keluarga aku memang bagus" gelak Savitri.
"Ngapain dua cowok tadi?" tanya Anita.
"Bawain barang titipan tanteku. Udah yuk, aku pengen pulang, pengen mandi, gerah nih!" Savitir pun menstater Vespanya.
***
Kediaman Keluarga Pratomo Manahan Solo
Seperti biasa, Jaehyun makan malam bersama dengan Savitri sebagai pacar depan rumah dan kali ini pria itu bisa merasakan gadisnya tampak marah ingin makan orang.
"Perasaan kemarin kamu sendu, tukang mewek tapi kok malam ini seperti ingin makan orang sih?" goda Jaehyun.
"Gimana aku tidak mau makan orang, Oppa. Hiiihhh, rasanya pengen aku buang ke Bengawan Solo biar nggak ketemu lagi mayatnya!"
Jaehyun tertegun. "Kamu mau bunuh orang?"
"Pengennya tapi kalau mengingat nanti panjang urusannya sama Daddy, Opa, Oom Stephen, Bang Duncan dan Oom Edward terpaksa aku tahan emosi."
"Memangnya ada apa sih Savitri-ya?" tanya Jaehyun.
Savitri menceritakan kejadian yang dialaminya tadi di sekolahnya. Dan seperti biasa, Jaehyun mendengarkan tanpa memotong sekalipun.
"Jadi rencana kamu?"
"Besok kami melakukan meeting internal dan mengkonfrontir si Safri. Bang Joshua, Bang Yuki dan mas Abian sudah aku minta tolong buat backup chat ke semua korban."
"Apa kamu yakin korbannya hanya sepuluh?"
"No, Oppa. Aku rasa lebih dari itu tapi yang berani maju baru sepuluh. Aku harap makin banyak yang mau speak up."
"Savitri-ya, aku tahu kamu marah tapi aku harap, kamu besok jaga emosi kamu! Jangan kamu banting atau kamu hajar" pinta Jaehyun yang tahu kekasihnya bar-bar nggak ketulungan.
__ADS_1
"Kalau dia nggak aneh-aneh dan neko-neko, aku nggak bakalan hajar!" omel Savitri.
"Neko? Kucing?"
Savitri melongo. "Bukaaann, neko-neko itu macam-macam."
"Habis kamu ngomong campur aduk sih" gelak Jaehyun. "Makanya aku bingung."
Savitri hanya manyun menatap Jaehyun.
"Please ya Savitri-ya. Jangan sampai kejadian Herman terulang lagi."
"Oppa, dia membuat banyak remaja putri trauma seumur hidup! Kenapa aku tidak membuatnya sama? Trauma seumur hidup agar tidak bisa berdiri karena sudah melakukan pelecehan!"
"Astaghfirullah..." Jaehyun menggelengkan kepalanya.
"Trauma dibalas trauma dong! Enak saja dia nggak ngerasain bagaimana kamu menjadi frigid!"
"Kan diterapi juga bisa!"
"Butuh proses lama dan panjang sesinya, plus biaya juga sedangkan orang Indonesia mikirnya datang ke psikolog atau psikiater berarti wong edan, wong gendeng ( orang gila ) padahal tidak seperti itu! Banyak yang bisa dilakukan kalau kamu sudah mengalami hal tidak mengenakan dalam hidup kamu. Sharing sama orang yang tidak akan menjudge kamu salah atau benar!"
"Jadi? Agar bisa kembali kewarasan nya?" Jaehyun menatap Savitri serius.
"Iyalah. Seperti phobia yang sering make non sense padahal kamu dealing tiap hari. Gimana cara mengatasinya? Ya terapi. Mindset kamu dirubah!"
"Besok aku akan buat perhitungan jika semua bukti sudah terkumpul!" Savitri mengucapkan dengan yakin.
Jaehyun memegang pelipisnya. Guru satu ini, bar-bar sekali.
***
SMKN 11 Surakarta
Pagi ini semua guru yang diundang oleh Pak Agus sudah berkumpul di ruang pertemuan dekat ruang kepala sekolah.
Tampak pak Agus sebagai kepala sekolah, Wakasek, ketua kesiswaan, ketua keguruan dan guru bimbingan konseling yang diwakili Savitri dan Dina juga pak Safri.
Ruang pertemuan dibuat tertutup dan asisten pak Agus sudah memasang proyektor dan layarnya.
Pak Safri menatap bingung ke semua orang disana karena yang hadir adalah para petinggi sekolah.
"Selamat pagi semua" sapa pak Agus kepada semua orang yang sudah menunggu di ruang pertemuan. "Mbak Yuni, tolong jaga pintu nya jangan ada yang boleh masuk!" perintah pak Agus ke sekretarisnya.
__ADS_1
"Njih pak." Yuni pun menutup pintu dan berjaga di luar.
"Baik. Sudah pada hadir semua kan yang saya undang secara pribadi kemarin? Saya buka pertemuan ini. Jadi kemarin pada hari Senin tanggal 11 Juli tahun xxxx, Bu Savitri dan Bu Dina sebagai guru bimbingan konseling, mendapatkan laporan dari seorang siswi kelas tiga bahwa dia mengalami pelecehan sek*sual dari rekan guru. Awalnya kedua guru bimbingan konseling itu tidak percaya tapi setelah melihat semua bukti-bukti, Bu Savitri dan Bu Dina percaya."
Pak Agus memberikan kode dan asistennya memutar video bukti penggerayangan yang dilakukan oleh Pak Safri.
"Astaghfirullah! Itu kan suara kamu pak!" seru ketua kesiswaan ke pak Safri.
"Ti... tidak! Itu bohong !" bantah Pak Safri lalu menatap tajam ke arah Savitri dan Dina yang membalas tatapan Safri dengan sama tajamnya.
"Apakah ini juga bohong?" Pak Agus menatap pak Safri dingin.
Seketika semua percakapan pesan antara Pak Safri ke semua siswi yang dilecehkan terpampang di layar. Dan membuat semua orang di dalam shock tapi tidak Savitri karena semalam dia SUDAH shock duluan, bahkan Jaehyun menatap layar MacBook milik Savitri ikut tercengang.
"Astaghfirullah... astaghfirullah..." Dina beristighfar berulang kali.
Jangan ditanya bagaimana wajah Pak Safri yang langsung pias. Bagaimana ucapan vulgar dan berkesan melecehkan tampak terpampang jelas dan semuanya berasal dari nomor Pak Safri. Semua guru disana hapal dengan foto profil yang dipasang pak Safri.
"Pak, sampeyan itu sudah mau nikah lho. Calonnya anak pesantren, sampeyan juga aktif di aktivitas keagamaan" ucap Dina dengan nada prihatin.
"Itu fitnah Bu!" elak Pak Safri.
"Fitnah darimana pak? Itu valid! Kakak saya sendiri yang membuktikan. Kakak saya adalah ahli IT yang diakui kemampuannya." Savitri menatap judes. "Sepuluh siswi laporan dengan saya bersama trauma masing-masing!"
"Heh! Bu Savitri! Anda itu anak baru lulus, baru jadi PNS tapi sudah belagu!" bentak Safri.
"Saya akan belagu kalau melihat kelakuan pria macam anda yang celutak dan melakukan pelecehan ke anak perempuan! Apa yang akan anda alami jika para orangtuanya tahu kelakuan bejat gurunya? Saya tidak jamin nyawa kamu masih menempel kalau itu!" balas Savitri judes.
Pak Safri pun berdiri dengan mata memerah menahan amarahnya. "Kamu itu memang harus dihajar!"
"Lha elu banci juga ya! Beraninya sama perempuan!" Savitri pun ikut berdiri menantang Pak Safri.
Pria itu langsung menyerang Savitri tapi guru cantik itu sudah bersiap dan dengan sigap dia menahan tubuh Safri yang lebih tinggi darinya lalu melakukan tendangan dengkul ke aset hidden gem pria itu dengan kuat.
Pria itu langsung tersedak dan tersungkur sambil memegang asetnya. Semua orang di sana terkesiap melihat ulah guru BK itu.
"Kamu masih beruntung hanya aku tendang, belum aku kebiri!" bisik Savitri dengan wajah bengis.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️