Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Jangan Takut, The Jedi Be With You


__ADS_3

Kediaman Keluarga Pratomo Manahan Solo


Neil dan Aurora menikmati acara sarapan di rumah Savitri bersama dengan Jaehyun. Pagi ini mbok Mar sengaja membeli nasi liwet langganan Savitri jadi pasangan suami istri itu bisa menikmati makanan khas Solo itu.


“Kasusnya gimana lagi Sav? Kamu nggak nendang anunya orang lagi kan?’ goda Neil Blair yang sudah mendengar kebrutalan sepupunya itu dari sang ayah Stephen Blair.


“Maunya tapi aku masih sok waras memakai jalur hukum saja dulu deh, soalnya nggak hanya aku tapi juga koordinator aku, rekan guruku dan siswaku yang jadi korban teror guru nggak punya otak itu! Sudah tahu anaknya kelainan, masih dibelain! Ya aku tahu yang namanya orang tua pasti belain anaknya tapi realistis lah! Contoh aku nih. Nakal waktu SD dan SMP memalsukan tanda tangan daddy gara-gara aku dapat nilai jelek, ya dihukum! Nggak dapat uang jajan sebulan plus sekolah diantar cuma nggak sampai gerbang, masih 500 meter lagi jaraknya dan aku harus jalan kaki buat sampai sekolah!” omel Savitri gemas.


Aurora tertawa mendengar curhatan iparnya. “Duh Oom Reza niat ya kalau menghukum.”


“Padahal itu kesalahanku sepele kan? Tapi daddy selalu mengajarkan agar aku dan mas Panji selalu berbuat jujur… Terima kasih Oppa.” Savitri tersenyum manis saat Jaehyun memberikan dua potong semar mendem.


“Lha beneran hapal ih si Jae kalau Savitri ngamuk harus ada makanan buat tambah energi” gelak Neil.


“Pacaran setahunan masa nggak apal Neil?” kerling Jaehyun.


***


Cold N Brew Cafe Manahan Solo


Keempat orang dewasa itu pun mendatangi cafe yang berada di sudut arena futsal Manahan Solo dan tampak keempat siswi Savitri sudah duduk disana. Keempatnya terkejut melihat guru mereka datang bersama dua pria tampan yang satu bule, satu asia dan wanita blasteran cantik.


“Sayang, kamu duduk sama Jaehyun dulu ya, aku mau urus kasus nya Savitri dulu.” Neil mencium pipi istrinya yang hanya mengangguk lalu mengajak Jaehyun duduk di sebuah meja di seberang tempat Savitri menemui para siswinya. Keempat gadis remaja itu tampak melongo melihat orang-orang yang mungkin hanya dilihat di tv atau pinterest.


“Kenapa kalian bengong?” tanya Savitri sambil duduk di hadapan para siswinya.


“Bu, kalau pria Korea itu kami tahu pacarnya bu Savitri tapi kalau pak bule ini…” Putri menutup mulutnya.


“Bu, apa kita harus berbahasa Inggris? Soalnya aku kan ga bisa heboh cerita kalau pakai bahasa Inggris?” tanya Dilara.


“Saya bisa bahasa Indonesia kok” senyum Neil yang membuat empat anak ABG itu terkesima.


“Mata dan mulut dikondisikan, gaeesss! Ini sepupu ibu, namanya pak Neil Blair, dan wanita cantik itu istrinya. So, jangan macam - macam kalau nggak mau diomeli sama bu Aurora yang bisa secepat komet haley!” tegur Savitri.


“Macam ibu?” celetuk Melati.


“Macam sa… Melatiiii!!!” pendelik Savitri yang membuat para siswinya terbahak. “Oke, kita serius. Jadi ini adalah pak Neil Blair, pengacara kita semua. Kalian berempat, ceritakan semua kepada pak Neil tentang apa yang terjadi plus semua bukti-bukti dari pak Ahmad yang meneror kalian. Asal kalian tahu, bukan hanya kalian yang kena teror pak Ahmad karena ibu dan bu Dina pun kena.”

__ADS_1


“Ibu pun diteror pak Ahmad? Kok wani temen ( kok berani sekali )? Apa nggak tahu ibu bisa menghajarnya macam pak Safri?” cerocos Dilara.


“Ssssttt, kalau itu ibu melakukan pembelaan diri Dilara. Oh sebelum bercerita, kalian pesan apa terserah, ibu traktir!”


“Yaaayyy!”


***


Meanwhile di meja seberang


“Bagaimana rasanya pacaran sama Savitri?” tanya Aurora ke Jaehyun.


“Selalu ada yang berbeda setiap hari, Aurora. Savitri-ya banyak cerita tentang kehidupannya sebagai seorang guru bimbingan konseling dan aku sangat bangga dengannya.”


“Kata Papa, kalian berdua sama-sama membagongkan” kekeh Aurora.


“Ya begitulah” senyum Jaehyun.


“Kapan kalian menikah?”


“Aku sekretarisnya” senyum wanita cantik berambut hitam dengan mata hazel terang itu.


“Hah? Really?”


“Aku sudah menjadi sekretaris Neil sejak aku usia 18, saat aku baru lulus SMA. Oleh pak Stephen Blair, aku disekolahkan ke sekolah sekretaris dan voila, tetap menjadi sekretaris Neil yang super perfect, cerewet dan menyebalkan” gelak Aurora. “Serius aku berapa kali ingin berhenti tapi karena bujukan Pak Stephen dan Bu Diana, dan hanya aku yang bisa menghandle Neil, aku tabah-tabahkan. Apalagi aku hanya sendirian dan kedua orang tua Neil seperti orangtuaku sendiri.”


“Jadi kesimpulan kamu lebih dulu suka dengan Oom Stephen dan Tante Diana?”


“Iya. Aku mencintai dua orang itu yang perlakuannya ke aku seperti anaknya sendiri, apalagi Nadya kan tidak ada di Jakarta, jadi aku seperti pengganti anak perempuan mereka.”


“Nadya itu…”


“Saudara kembar Neil yang dulu bekerja di kilang minyak jadi tahu sendiri kan nggak pernah pulang. Untung sekarang setelah menikah sudah menetap di Jakarta tapi aku dengar tahun depan suaminya akan pindah ke Singapura. Suami Nadya kan dokter bedah. Dan benar kata pepatah orang Jawa, witing tresno jalaran seko kulino, jatuh cinta karena terbiasa. Dan aku sendiri tidak tahu sejak kapan Neil jatuh cinta sama aku dan aku sendiri juga tidak tahu suka sama pria menyebalkan itu.”


Jaehyun tertawa. “Sama lah denganku dan Savitri-ya. Padahal aku tidak suka cewek emosian, brutal dan bar-bar tapi Savitri-ya merubah semua pandanganku tentang cewek amburadul begitu karena ternyata hidupku jadi tidak monoton.”


“You’re right Jaehyun” senyum Aurora.

__ADS_1


“Neil akan melanjutkan kantor pengacara Oom Stephen?” tanya Jaehyun.


“Tampaknya begitu. Soalnya Neil memang sudah dikenal banyak orang dengan kemampuannya menangani kasus.”


***


“Anaknya pak Ahmad itu harusnya diterapi, dikonseling dan dikebiri!’ umpat Neil kesal. Sebrengsek-brengseknya dia, selalu menjaga martabat perempuan apalagi dia punya saudara kembar perempuan.


“Aku setuju sama Pak Neil dan harusnya pak Ahmad juga! Wong sudah jelas anaknya salah kok dia malah main ancam-ancam kami dan bawa-bawa kakak iparnya yang kerja di kejaksaan sama kehakiman. Memangnya kami takut apa? Kan ada bu Savitri, bu Dina dan Pak Felix yang memasang badan buat kami.” Dilara mengomel emosi.


“Belum tau saja kalau bapakku sampai dengar, bisa di dor!” jawab Melati.


“Lha bapakmu kerja dimana Mel?” tanya Savitri.


“Di kapolsek Sragen.”


“Jabatannya?”


“Wakil kapolsek.”


Modyar! “Begini saja, ini semua bukti screenshot chat dan semuanya kan sudah kalian kasih pak Neil. Jadi sekarang kita tunggu lambenya yang koar-koar mau menuntut kita lewat jalur hukum. Nek wani ( kalau berani ), ya dijabani!” ucap Savitri gemas.


“Kalian semua jangan takut, the Jedi always be with you” senyum Neil.


“Salah bambaaangg, may the force be with you!” protes Savitri.


“Lho sudah ganti?” cengir Neil yang membuat empat siswi itu tertawa.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don’t forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2