
Iptu Salman menyeret Saundra untuk masuk ke dalam ruang interogasi dan disana sudah ada dua orang yang menunggu. Wajah Saundra tampak memucat melihat bagaimana raut dingin dua orang anggota kepolisian di dalam ruangan berukuran 3x4 itu.
"Duduk!" perintah Iptu Salman sambil mendorong Saundra ke kursi disana.
Saundra pun duduk dengan tubuh gemetar. Dirinya tidak menyangka jika salah satu dari siswi yang direkamnya itu memiliki ayah seorang anggota polisi dan tampaknya pengacara yang dilihatnya di ruang polisi bernama Darma tadi bukan pengacara sembarangan. Keringat dingin mulai membasahi dahi, leher dan juga punggungnya.
"Jadi kamu yang diam-diam merekam anak saya dan teman-temannya saat buang hajat di kamar mandi? Sudah berapa lama kamu melakukan hal itu?" Iptu Salman yang duduk di hadapan Saundra menatap tajam.
"Saya...tidak merekam..."
"JANGAN BOHONG!" bentak Iptu Salman sambil menggebrak meja membuat Saundra terlonjak kaget.
"Sa...ya...tidak..."
"Tidak apa? Tidak bohong? Cangkemanmu ( mulutmu )!" Iptu Salman mencondongkan tubuhnya. "Apa kamu merasa dilindungi bapakmu? Merasa punya pakdhe wong jaksa? Hakim? Ora pateken ( tidak perduli )! Aku ora wedhi ( Saya tidak takut )! Kowe Wong Lanang meshum ( Kamu pria meshum )! Wis Gedhe ijik nggondeli bapake ( Sudah besar masih dilindungi bapaknya)! Pantese Kowe kiiee dadi wadon ( Pantesnya kamu itu jadi perempuan )! Lanang kok kayak banci!"
Saundra semakin memucat wajahnya.
"Ngaku ora? NGAKU ORA!" bentak Iptu Salman lagi.
"I...iya pak... saya salah ... " ucap Saundra dengan nada gemetar.
"Ngomong sing jelas!" Iptu Salman melihat rekannya sudah merekam semuanya.
"Saya... yang merekam ... siswi itu..."
"Sudah berapa kali kamu kayak gini?"
"Ba...baru sekali...pak..."
"Ngapusi ( Bohong )!" bentak Iptu Salman lagi. "Sing gek konangan kan Iki ( Yang baru ketahuan kan ini )! Sakdurunge ( Sebelumnya )?"
"Le..res pak... Baru sekali ini..."
"OJO NGAPUSI KOWE! AKU NGERTI GAYAMU! ORA MUNGKIN GEK SEPISAN IKI ( aku tahu gayamu! Tidak mungkin baru sekali ini )!" Iptu Salman menggebrak meja lagi.
"Ngaku saja sudah berapa lama kamu melakukan peeping Tom macam itu?" ucap salah satu rekan Iptu Salman dengan nada halus tapi menyindir.
Saundra diam saja.
"Ta arani ya, Sam, Dekne Wis kambuhan ( Aku rasa ya Sam, dia sudah terbiasa )" balas Iptu Salman sinis.
__ADS_1
"Aku perlu telepon psikolog?" tanya rekannya yang bernama Sam.
"Ora usah ( Tidak usah ). Dekne Wis ngaku wae Wis apik ( Dia sudah ngaku saja sudah bagus )." Iptu Salman berdiri. "Aku buat surat penahanan buat orang ini. Lagipula, para guru dan siswi yang diteror sama dia dan bapaknya, sudah resmi melakukan tuntutan balik. Ben Dekne raksano ( Biar dia merasakan )! Kakehan petingsing ( Banyak gaya )!"
"Bro, kamu mau kemana?" tanya Sam ke Iptu Salman yang keluar ruangan.
"Nggolek bapake. Ben ngerti, anake pancen ngga*pleki ( Cari bapaknya. Biar tahu, anaknya memang brengsek )!"
***
SMKN 11 Surakarta
Savitri bekerja seperti biasa karena semua sudah dia serahkan kepada sepupunya Neil Blair apalagi dia sudah dua hari kemarin bolak balik harus ke kantor polisi. Dan sekarang pekerjaannya pun menumpuk.
"Sav!" panggil Anita.
"Yup?"
"Kamu menghandle si Jamilah?"
Savitri menatap Anita bingung. "Jamilah? Siapa itu?"
"Owalaahhh si Jani. Iya, kenapa? Aku memang berencana mau mengeluarkan dia. Wong ga pernah mau masuk sekolah kok!"
"Aku diblokir Karo emake ( aku diblokir sama ibunya )" adu Anita.
"Heh? Kok iso ( kok bisa )?" Savitri lalu mengambil ponselnya. "Memang gimana ceritanya?"
"Kan kemarin kamu sibuk sama Bu Dina urusan ditanyain polisi terus ke kantor polisi. Nah, si Jani ijin lagi nggak masuk. Ya wis tho aku telepon emake, ta bilang kalau anaknya tidak masuk sekolah lagi. Tahu jawabannya si emaknya Jani?"
"Apaan Nit?" tanya Bu Titi kepo.
"Ehem... Ini aku tidak menambahkan, tidak melebihkan ya. 'Ya Wis Ben tho Bu. Jenenge wae bocah. Terserahlah dia mau sekolah nopo mboten ( Ya biarin saja Bu. Namanya juga bocah. Terserah dia mau sekolah atau tidak. )'. Aku mung melongo tho! Pantas anake kelakuannya kacau begitu, lha wong emake ya gitu, ga iso didik anaknya."
Savitri dan Bu Titi melongo.
"Astaghfirullah Al Adzim" istighfar Bu Titi.
"Terus tho, habis itu aku telepon lagi untuk menyatakan akan mengeluarkan si Jani, eh nomorku di blok!" adu Anita.
Savitri lalu mencoba menelpon ibunya Jani.
__ADS_1
"Halo? Bu, saya bu Savitri guru bimbingan konseling nya Jani. Nyuwun Sewu, apa benar Jani sudah tidak mau sekolah?" Savitri menatap Anita dan Bu Titi bergantian. "Njih Bu, tapi alangkah baiknya ibu datang kemari untuk mengurus semua administrasi pengeluaran putri ibu agar tidak tercatat masih sekolah disini..."
Anita dan Bu Titi menatap intens ke Savitri.
"Njih Bu. Besok saya tunggu disini njih. Matur nuwun." Savitri mematikan panggilannya lalu menatap dua rekannya. "Kalau aku dengar dari cara bicaranya ibunya si Jamilah, kok seperti wanita yang... apa ya?"
"Pekerjaan nya urusi Wong Lanang ( pekerjaannya mengurus pria )" tebak Anita. "Aku juga merasakan demikian. Karena kita bisa mengetahui bagaimana seseorang itu dari cara bicaranya."
"Aku bukan mengènyék ( menghina ) tapi sebagai seorang ibu harusnya memberikan contoh yang baik. Setahuku, tidak ada orang tua yang mau anaknya setara atau kurang darinya, pasti maunya lebih darinya" ucap Savitri serius. "Papaku tidak menghalangi aku bekerja sebagai guru bimbingan konseling dan tidak mengikuti jejaknya di dunia kantoran bisnis asalkan aku tetap konsisten dengan apa yang aku ambil."
"Lha iya setidaknya pendidikan kamu tinggi, kamu punya pekerjaan yang terjamin dengan kenaikan pangkat dan pensiun" gumam Anita.
"Nah itu. Aku rasa tidak hanya pola pikir dari keluarga yang berpengaruh tapi juga lingkungan sekitar. Jamilah...eh Jani mungkin melihat bagaimana kehidupan di sekelilingnya seperti itu dan membentuk cara berpikirnya. 'Ah ngapain capek-capek sekolah kalau endingnya cuma seperti ibunya. Toh masih banyak cara dapat uang'. Aku bicara begini karena aku sempat menkonseling dia sebelum aku mendapatkan kasus peeping Tom ini" papar Savitri.
Suara ketukan di pintu membuat tiga wanita di dalam menoleh dan tampak Neil datang bersama Aurora dengan tersenyum.
"Maaf mengganggu diskusi kalian, Bu ibu" sapa Neil sambil tersenyum membuat Anita melongo.
"Nit, sebelahnya itu bininya! Bisa dihajar lu sama Aurora!" celetuk Savitri ke sahabatnya yang memang tidak bisa menahan ekspresi nya kalau ada cowok ganteng.
"Eh? Waduuuhh! Saya jangan dihajar ya mbak" ucap Anita sambil mengatupkan kedua tangannya.
Aurora dan Neil hanya tertawa.
"Gimana? Sudah beres? Aku tidak perlu ikut campur kan?" seringai Savitri.
"Dasar kamu ya! Memang otak kriminil kamu itu sama saja sama Eiji!" omel Neil.
"Sudah mati kutu kan dua pria tidak tahu diri itu? Bagus!" kekeh Savitri durjana.
"Dasar!" sungut Neil Blair sebal.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1