Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Wing Chun


__ADS_3

SMKN 11 Surakarta


Savitri keluar dari ruang kepala sekolah menuju ruang bimbingan konseling untuk menemui para siswinya. Matanya melirik ke arah lapangan basket tempat para siswa kelas satu melaksanakan masa orientasi dan dirinya melihat Safri disana.


Rasanya gadis itu ingin berlari ke sana dan menendang anunya tanpa ampun, mempermak wajahnya dengan jab dan upper cut lalu membantingnya sampai encok, tapi Savitri harus menahan dirinya. Pertama, dia menghormati keputusan Pak Agus. Kedua, dirinya harus menjaga keselamatan para muridnya. Ketiga dan ini paling fatal, rok. dinasnya bisa robek jika harus dipaksakan untuk melakukan tendangan tanpa bayangan ala Wong Fei Hung.


Savitri menghela nafasnya berulangkali. Inhale, exhale... Lakukan proses pernafasan ala Wing Chun. Savitri lalu menghitung hingga sepuluh baru melangkah ke ruangannya.


***


Ruang Bimbingan Konseling


Sofyan dan Ricky melihat Savitri datang langsung menghampiri sepupu Miki Al Jordan itu.


"Gimana Sav? Kita masih diperlukan disini tidak?" tanya Sofyan.


"Oom Yudhi sudah minta pulang?" Savitri bertanya balik.


"Belum sih tapi kalau ada rekan gurumu datang kan kita nggak enak" jawab Ricky.


"Bilang saja mengantarkan sesuatu buat aku" sahut Savitri cuek. "Tampaknya situasi tampak aman tapi aku akan memastikan dulu."


"Kalau anak-anak itu butuh dikawal, aku bisa meminta pengawal Al Jordan mengawal mereka." Sofyan menatap guru cantik itu.


"Jangan, menarik perhatian..."


"Lho Sav, ini siapa?" tanya Dina saat masuk ke dalam ruang konseling.


"Ini sepupuku, tadi bawain sesuatu dari tanteku" jawab Savitri. "Thanks Sofyan, thanks Ricky. Nanti aku kabari lebih lanjut."


"Berhati-hatilah" ucap Sofyan sambil melihat sepuluh gadis remaja yang tampak cemas.


"Aku bisa meraba apa yang terjadi, Sav. Kalau kamu butuh sesuatu, kabari kami." Ricky menatap Savitri serius.


"Tentu saja you two! Tolong bilang sama Tante Fyneen, terimakasih" ucap Savitri sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sofyan dan Ricky pun pulang meninggalkan Savitri bersama dengan Dina yang bingung melihat banyaknya siswi di ruang meeting.


"Ada apa ini Savitri?" tanya Dina.


"Ayo masuk. Kamu sebagai koordinator, harus tahu." Savitri mengajak Dina masuk ke ruang meeting.


***


Dina memeluk satu persatu siswi disana dan matanya pun berkaca-kaca tidak tahan menahan kesedihannya mendengar bagaimana para siswinya mengalami peristiwa seperti itu.


"Ya Allah... Tega sekali orang itu!" Dina menghapus air matanya dan mereka semua bertangisan.

__ADS_1


"Kalian semua, ibu minta kalian mengijinkan untuk disadap ponsel kalian berkaitan dengan kasus ini. Bagaimana?" Savitri menatap ke sepuluh murid itu.


"Disadap Bu?" tanya Tania.


"Iya. Tenang saja yang disadap adalah percakapan kalian dan pak Safri agar bisa mendapatkan bukti lebih banyak lagi."


"Siapa yang akan menyadap Bu?" tanya murid lainnya.


"Kakak ibu lah yang akan melakukannya. Kan tadi kalian sudah memberikan bukti percakapan dan ibu ingin tahu sampai sejauh mana orang itu berani mengancam kalian!" Savitri sudah mengirimkan pesan pada Abian dan Joshua.


"Kalian maunya gimana ke Pak Safri?" tanya Dina.


"Kami ingin dia masuk sel untuk kasus pelecehan ini Bu. Biar tidak ada korban lainnya."


Savitri dan Dina pun saling berpandangan.


***


Pak Safri melihat para siswi yang sempat digerayangi olehnya, keluar dari ruang Bimbingan Konseling dengan wajah bahagia dan dia mendengar percakapan mereka tentang program pemadatan ujian nasional yang akan dimulai bulan Januari tahun depan.


Para siswi itu tidak tampak melaporkan kepada para guru bimbingan konseling, membuat Pak Safri menuju ruang BK.


Disana guru bertubuh tinggi atletis itu mengintip Savitri dan Dina sedang bercakap-cakap tentang program pemadatan ujian nasional.


"Berarti mulai dari jam enam pagi kayak biasane ya Bu?" terdengar suara Savitri.


"Ya iya to Bu Savitri. Ben anak-anak masih fresh dan kisi-kisi ujian nasional bisa masuk" jawab Dina.


Pak Safri lalu meninggalkan ruang Bimbingan Konseling itu dan Savitri serta Dina menghembuskan nafas lega.


Tadi sebelum para siswinya keluar dari bimbingan konseling, mereka melakukan skenario agar tidak membuat curiga karena mereka berbondong-bondong datang ke Savitri dan Dina.


Dan ternyata feeling Savitri benar, Pak Safri melihat para siswi itu keluar dari ruang bimbingan konseling.


Akhirnya mereka melakukan skenario dadakan ala Bu Savitri. Bahkan gadis itu melihat pak Safri mendatangi ruangan mereka.


"Berhasil tidak drama Korea abal-abal nya Sav?" bisik Dina.


"Sementara. Soalnya tadi anak-anak yang datang ta suruh pulang cepat."


Suara ponsel Savitri berbunyi dan wajahnya langsung sumringah.


"Assalamualaikum bang Joshua ku tersayang dan semoga mbak Miki ga dengar karena aku bakalan kena pelototan dari anaknya Oom Hiroshi."


Joshua terbahak mendengar salam Savitri yang tanpa jeda. "Wa'alaikum salam Savitri. Ini nomornya sudah semua ya?"


"Iya bang. Tulung ya bantu aku! Kalau aku tadi nggak ingat pakai rok, Wis ta habisi bang!"

__ADS_1


"Huuusshhh! Guru kok sadis!" gelak Joshua.


"Habis tho bang..."


"Savitri, ini aku sama Yuki membantu kamu dari Tokyo. Kalau Abang disana, mungkin kamu tidak harus turun tangan. Tinggal nama tuh orang!"


"Whoah! Abangku yang kalem ternyata masih belum hilang jiwa Silver Shinning nya!" ucap Savitri sok terkejut.


"Asal Duncan dan Eiji tidak dengar saja, aman deh! Apalagi Ghani dan Raymond dengar, bisa-bisa diseret ke prodeo!"


"Bang, Ghani dan Raymond itu NYPD ya!"


"Tetap saja sama polisinya." Joshua terdiam.


"Bang? Halo?"


"Sav, guru itu mencoba menghubungi satu persatu dan bertanya dengan pertanyaan yang sama. 'Kamu cerita apa sama ke guru BK itu?'. "


"Terus jawaban mereka?"


"Sama tapi beda gaya dan intinya pemadatan ujian nasional. Sav, ini semua anak kelas tiga?" tanya Joshua.


"Iya bang."


"Aku simpan dulu datangnya, nanti aku kabari lagi. Kamu hati-hati ya. Assalamualaikum."


"Iya bang. Makasih. Wa'alaikum salam."


Savitri mematikan panggilan ponselnya.


"Gimana Sav?" tanya Dina penasaran.


"Pak Safri langsung mengirim pesan ke semua anak yang tadi datang kesini."


"Terus mereka gimana?"


"Jawabannya sama dengan yang kita skenario kan tadi." Savitri membaca hasil sadapan Joshua.


"Besok ada pertemuan Sav. Ini pak Agus mengundang aku, kamu, pihak kesiswaan, pihak guru termasuk pak Safri." Dina membaca pesan yang dikirimkan oleh pak Agus.


"Baguslah!" Savitri bertekad besok dia akan memakai celana panjang sebab jika memang harus menghajar, tidak perlu takut roknya robek.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2