Guruku Bar-bar Sekali

Guruku Bar-bar Sekali
Rahasia Anita


__ADS_3

Ruang Meeting Bimbingan Konseling


Neil dan Aurora kini berada bersama dengan Dina dan Savitri untuk memberikan update kasus mereka.


"Jadi pak Salman, ayahnya Melati datang marah-marah?" tanya Dina.


"Iya Bu Dina. Saundra sampai diseret ke ruang interogasi sebelahnya ruang pak Damar. Harusnya kamu ada disana Sav, muka mereka pucat pasi apalagi pas aku bilang kalau mereka bawa-bawa keluarganya yang jaksa dan hakim, aku bongkar semua kasus mereka yang sedang diusut oleh pihak kejaksaan dan departemen kehakiman."


"Sebenernya tuh sodara yang dibanggakan itu kena kasus apa sih bang?" tanya Savitri penasaran.


"Korupsi, pelecehan juga sama apa aku lupa. Daddy waktu didatangi mereka sudah bilang kalau dia tidak bisa membebaskan mereka dari tuduhan karena bukti-buktinya cukup berat. Lagipula, mereka belum maju ke pengadilan, sudah bangkrut duluan nggak bisa bayar Daddy kalau misal dibela" gelak Neil durjana.


"Memang berapa tarif pak Stephen, mas Neil?" tanya Dina.


"Kasus ringan, $100 per jam dan itu baru konsultasi. Semakin berat kasus, semakin tinggi biayanya. Dan Daddy sudah memperkirakan kalaupun sampai pengadilan meskipun tidak bebas dan ringan hukumannya sekitar $100,000 dan itu per orang, per dua kasus. Sedangkan masing-masing sampai 10-15 kasus jadi Monggo dihitung sendiri Bu Dina."


Dina melongo. "Mas Neil, itu bisa beli rumah mewah di Manahan lima biji..."


"Kebayang kan Bu? Apa sanggup keluar uang segitu banyak sedangkan mereka sudah pasti dihukum penjara dan beberapa rekening mereka pasti diblokir pemerintah."


"Wis yang penting kalau ada kesempatan berbuat kriminal, jangan ikuti ajaran setan iprit apalagi bahamut. Gadha manfaatnya kecuali kamu pakai itu buat GF Final Fantasy series" sahut Savitri cuek.


"Sav, kamu kan yang bikin iptu Salman tahu? Kamu kan yang cuci tangan?" Neil memicingkan matanya.


"Iiissshhh bang Neil tuh... kok bener?" gelak Savitri.


"Kamu ikutan siapa sih liciknya? Ampun deh!"


"Opa lah! Terbukti kan aku cucunya Opa Adrian" cengir Savitri.


Aurora hanya tersenyum mendengar kerusuhan suami dan sepupunya.


***


Setelah janjian besok Sabtu keliling Solo untuk kuliner, Neil dan Aurora memilih jalan-jalan ke Yogyakarta dan menikmati kota gudeg mumpung bisa menghabiskan waktu berdua sembari bulan madu lagi.


Bahkan Rudy Akandra meminjamkan salah satu mobilnya untuk dipakai Neil kemanapun selama keponakannya berada di Solo.


***


SMKN 11 Surakarta


Pagi ini Savitri kedatangan wali murid dari Jani dan bersama dengan Bu Anti bagian kesiswaan, keduanya bertemu dengan ibu Jani yang bernama Rita. Dari cara berpakaian saja Savitri bisa menilai bagaimana kehidupan Jani di rumah.

__ADS_1


Bu Anti hanya bisa beristighfar dalam hati melihat Rita yang datang mengenakan kemeja bewarna merah ketat hingga belahan dadanya tampak, celana jeans ketat dan makeupnya menor. Jani sendiri datang mengenakan seragam sekolahnya tapi kedua gurunya tahu wajahnya memakai make up.


"Akhirnya saya bisa bertemu dengan ibunya Jani... Apa ka..."


"Nggak usah pakai lama Bu Guru. Ini proses nya cepat kan? Sudah dibereskan semuanya kan? Saya tinggal tanda tangan dimana?" potong Rita membuat Savitri cengo.


What the fluff! Sabar Savitri, sabaaarrr... Orang sabar dapat pacar ganteng dan Membagongkan.


"Iya Bu. Ini berkas-berkasnya dan ini raport Jani..." Bu Anti memberikan semua berkas bukti pelepasan Jani sebagai siswi SMKN 11 Surakarta.


Rita langsung tanda tangan tanpa membaca terlebih dahulu dan setelahnya semua berkas dimasukkan ke dalam amplop coklat besar yang disimpan dalam map lalu diberikan padanya.


"Terimakasih sudah pernah belajar disini. Semoga Jani sukses ya..."


"Sudah kan? Ayo Jani, kita sudah ditunggu!" Rita menarik tangan putrinya tanpa bersalaman atau pun berpamitan pada Savitri dan Bu Anti yang hanya melongo.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah" ucap Bu Anti yang berusia lima puluhan dan berhijab itu sambil mengelus dadanya. "25 tahun aku jadi guru, ini kejadian kesepuluh aku alami nduk Savitri tapi tetap wae aku selalu kaget dan takjub. Kok ya Ono wong tuwo kayak ngunu ( kok ya ada orangtua seperti itu )."


"Lha buktinya ada Bu Anti" senyum Savitri.


"Setidaknya berkurang nduk yang bikin pening." Bu Anti selalu memanggil juniornya dengan panggilan 'nduk' apalagi yang belum menikah macam Savitri dan Anita. Nduk sendiri adalah panggilan buat anak perempuan kependekan dari genduk ( Jawa ).


"Njih Bu Anti. Saya kembali ke ruangan saya ya Bu, matur nuwun ( terimakasih ) sudah dibantu untuk administrasi nya."


***


Savitri berjalan dari ruang guru menuju ke ruangannya melewati lorong terbuka apalagi sekolahnya cukup luas membuat gadis itu seperti olah raga setiap hari.


"Dik Savitri..."


Savitri menghentikan langkahnya ketika melewati kelas multi 2 apalagi sekarang memasuki jam pergantian pelajaran, bertepatan dengan guru-guru keluar kelas.


"Ada apa pak Ekadanta?" Savitri menatap guru matematika itu.


"Aku cuma mau memberikan ini." Ekadanta mengeluarkan sebuah amplop yang Savitri tahu itu pasti undangan pernikahan.


"Wah, akhirnya mau melepaskan masa lajang pak? Selamat ya. Dapat gadis priyayi mana?" sindir Savitri yang teringat dia dibilang bukan keturunan priyayi.


"Oh bukan gadis keraton kok dik. Gadis biasa."


"Ooohh. Ibumu nggak protes kamu dapat gadis biasa, mengingat sangat menjunjung tinggi bibit bebet bobot berat badan."


Ekadanta tersenyum kikuk. "Pokoknya datang ya dik."

__ADS_1


"Tentu saja Pak. Sekali lagi selamat ya."


"Terimakasih."


"Aku balik ke ruangan aku dulu. Permisi." Savitri pun membalikkan tubuhnya menuju ruang kerjanya.


Ekadanta hanya menatap sendu ke gadis yang masih tersimpan namanya di hatinya. Seharusnya aku dan kamu yang duduk di pelaminan tapi kamu lebih memilih bersama pria Korea itu.


***


Ruang Bimbingan Konseling


Savitri baru masuk ruang kerjanya ketika Anita berteriak heboh dengan memperlihatkan undangan di tangannya.


"Sav! Si Ekadanta mau kawin!" seru Anita heboh.


"Nikah Anitaaaa! Kawin mah kucingnya Bu Titi. Ya kan Bu?" Savitri melirik ke arah Bu Titi yang tersenyum mendengar ucapan rekannya.


"Iya, sekarang kucingku lagi bunting" jawab Bu Titi sambil cekikikan.


"Kamu merdeka Sav! Kagak dikejar - kejar lagi!"


"Lha semenjak aku sama Oppa kan dia juga udah kagak ngejar aku, Nita."


"Aku penasaran siapa yang jadi bininya ya?" Anita membuka amplop plastik itu. "Ga pakai gelar Raden Ayu atau pun Raden Roro tuh! Ojo-ojo dudu priyayi ( jangan-jangan bukan priyayi ). Kakehan petingsing mbok e ( Kebanyakan gaya ibunya )!" Anita tahu tentang Savitri yang dibilang sama ibunya Ekadanta kalau sahabatnya buka priyayi.


"Wis nggak usah rusuh! Kamu besok datang sama siapa Nit?" tanya Savitri. "Kalau nggak ada temannya, bareng aku gimana?"


"Eh sorry ya! Tapi aku sudah punya plus one dan tadi aku sudah kirim pesan ke dia dan bisa menemani aku kondangan jadi aku nggak jones alias jomblo ngenes banget!" balas Anita jumawa.


"Lho berangkat sama siapa Nita?" tanya Bu Titi.


Anita memerah wajahnya. "Sama Mas Damar."


"HAAAAAHHH?" seru Savitri dan Bu Titi bersamaan.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2