
Tak terasa waktu mendekati hari pernikahan semakin dekat dan menjelang seminggu hari H, para keluarga besar Savitri sudah datang ke Solo. Shanum dan Hiroshi tinggal di rumah mereka di Manahan yang hanya berbeda dua gang dari rumah Adrian Pratomo yang ditempati Savitri. Menurut rencana, rumah itu akan diberikan kepada cucu bar-barnya sebagai hadiah pernikahan.
Joshua, Miki, Mamoru, Ingrid dan Masayuki bersama si kembar Josephine dan Marissa menginap di rumah mereka di Solo Baru. Anggota keluarga lain memilih menginap di hotel Lor In, Alana dan Fave yang dekat dengan Manahan.
Rumah Savitri dan Jaehyun tampak semarak apalagi Kim Young-ji dan Kirana Putri juga sudah tiba di Solo sekalian memeriksa pabrik-pabrik mereka sebelum disibukkan acara pernikahan.
Meskipun tidak mau memakai adat Jawa tapi Savitri tetap mau ada acara Midodareni dengan alasan pengen ngerjain Jaehyun yang tidak boleh makan di rumahnya dan hanya boleh minum air putih satu gelas.
"Bakal apaan Sav? Nggak mau adat Jawa tapi pakai Midodareni?" omel Andira sang mommy.
"Ih biar seru lah mom."
Andira, Niken, Nabila dan Shanum hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ini nikah paling kacau adatnya deh" kekeh Yuna yang sudah ikutan kumpul dengan para sepupunya.
"Yang penting kan ijab nya" ucap Alexandra Kim saudara kembar Alexander Reeves ayah Eiji.
"Nah bener tuh Tante" timpal Savitri yang sudah mengambil cuti.
"Wis Wis... pusing mommy!" sungut Andira.
***
Eiji, Duncan, Joshua dan Javier sekarang berada di sebuah sanggar wayang kulit di dekat daerah keraton. Keempat pria panipura itu ingin membuat kejutan buat sepupu bar-bar mereka dengan mengadakan acara wayang kulit semalam suntuk.
"Serius elu mau adain? Apa nggak ngantuk besoknya?" tanya Duncan ke Eiji yang punya ide.
"Kan acaranya habis Midodareni dan rumahnya Jaehyun di depan rumah si guru bar-bar itu. Lagian kalau besoknya mau ijab kan biasanya lek-lekan ( begadang ). Jadi kenapa nggak sekalian saja? Toh halaman rumah Opa Adrian kan luas tuh!"
"Terus lakonnya mau apa?" tanya Joshua.
"Abimanyu gugur!" seru Eiji penuh semangat yang langsung mendapatkan keplakan dari Duncan.
"Lu doain mertua gue mokat?" bentak Duncan kesal.
"Yeeee bukan Oom Abi, D!" balas Eiji sambil mengelus kepalanya. "Kan memang ada itu!"
"Sudah, sudah. Setahu aku ada ceritanya soal Savitri. Kenapa nggak itu saja?" usul Javier. "Kan ngepasi namanya sama Savitri."
"Tapi apa kita nggak diamuk Opa Adrian dan Oom Reza?" tanya Joshua.
"Tanya dulu lah sama dalangnya" ucap Duncan.
"Kulonuwun" sapa Joshua ke sebuah rumah joglo lengkap dengan gebyok khas Jawa.
__ADS_1
"Njih. Sinten njih ( Siapa ya )?" dari dalam keluar seorang wanita lengkap dengan kebaya model kutu baru dan jarik plus sanggul khas Jawa.
"Nyuwun Sewu, saya Joshua Akandra, putranya pak Rudy Akandra. Badhe ketemu Ki Dalang Kartokusumo ( Mau bertemu Ki Dalang Kartokusumo )" jawab Joshua.
"Oh putranipun pak Rudy njih ( Oh putranya pak Rudy ya )? Bapak sempat ndalang wonten kantor nya pak Rudy ( Bapak sempat mendalang di kantornya pak Rudy ). Monggo mlebet mas ( Mari masuk mas ). Ya Allah, ngimpi apa ditekane wong nggantheng menyang omah ( mimpi apa didatangi pria-pria tampan ke rumah )" senyum ibu itu.
"Nyuwun Sewu, ibu garwonipun pak Kartokusumo ( Maaf, ibu istrinya pak Kartokusumo )?" tanya Joshua.
Javier dan Duncan hanya melongo melihat ayah si kembar masih saja ingat bahasa Jawa kromo Inggil.
"Injih mas Joshua. Niku sinten mawon njih ( itu siapa saja ya )? Saget bahasa Indonesia mboten ( bisa bahasa Indonesia tidak )?" Bu Kartokusumo menunjuk ke arah tiga pria di belakang Joshua.
"Oh ini sepupu saya, yang bule body besar kayak Hulk, namanya Duncan. Kalau yang rambut hitam bule ini namanya Javier dan yang satu ini namanya Eiji."
"Owalaahhh dulure tho ( saudaranya ). Monggo pinarak ( silahkan duduk ). Kulo ta mlebet rumiyin badhe nimbali bapak ( Saya masuk dulu mau panggil bapak )." Bu Kartokusumo itu pun masuk ke dalam rumah sedangkan Duncan dan Eiji mengagumi rumah joglo Limasan yang full kayu jati itu.
"Untung Diajeng Aya-aya nggak kesini. Bisa betah nanya-nanya barang-barang antik disini" gumam Eiji.
"Kok kamu bisa tahu dalang ini bang?" tanya Javier.
"Jadi beberapa bulan lalu, Papa ngadain acara syukuran kantor AJ Corp di solo dan pakai acara wayang kulit. Dalangnya beliau ini. Pas kalian ribut pengen bikin acara surprise ke Savitri, aku tanya papa. Ya siapa tahu beliaunya bisa" jawab Joshua kalem.
"Bisa melongo tuh si guru bar-bar itu" kekeh Eiji.
"Yang mana yang namanya mas Joshua?" tanya Ki Dalang itu.
"Kulo Ki ( saya Ki )" jawab Joshua sambil menyalami Dalang itu.
"Lha ini?"
"Kami saudaranya Joshua" jawab Duncan sambil menyalami pria paruh baya itu. "Saya Duncan Blair."
"Eiji Reeves."
"Javier Arata."
Ki Dalang itu mengangguk. "Monggo pinarak."
Kelimanya pun duduk lalu Ki Dalang itu menyalakan pipa rokoknya yang mirip kepunyaan Sherlock Holmes Dimata keempat pria itu.
"Gimana mas Joshua?"
"Begini pak. Maaf jika kedatangan kami mendadak karena saya baru diributkan oleh ketiga sepupu saya ini. Besok Sabtu, adik saya hendak menikah dan maksud kedatangan kami, ingin meminta bapak mengadakan acara wayang kulit usai acara Midodareni. Kira-kira bapak saget mboten ( bisa tidak )?" ucap Joshua.
"Maaf mas Joshua, nama adik sampeyan siapa? Solo kota kecil dan siapa tahu saya kenal."
__ADS_1
"Savitri Putri Pratomo."
Ki Dalang Kartokusumo melongo. "Pratomo? Cucunya siapa? Adrian atau Aryanto?"
Giliran keempat pria itu melongo.
"Savitri itu cucunya Opa Adrian Pratomo, anaknya Oom Reza" jawab Javier.
"Apakah dia guru bimbingan konseling di SMK Negeri 11 Surakarta?"
"Kok bapak tahu?" tanya Eiji bingung.
"Karena cucu saya sekolah disana dan Bu Savitri yang membantu saat cucu saya kena kasus pelecehan direkam saat hendak pipis di kamar mandi."
Joshua menyipitkan matanya. "Cucu bapak yang mana? Melati? Anisa? Putri atau Dilara?"
"Lho mas Joshua kok tahu?" tanya Dalang Kartokusumo.
"Sebab saya yang mengurus jejak digitalnya untuk dijadikan alat bukti."
"Cucu saya yang bernama Melati, mas Joshua. Dan karena ini acara pernikahan Bu Savitri, tentu saja saya menyanggupinya mas Joshua. Kira-kira mau lakon Mahabarata atau Ramayana?"
Eiji hendak membuka mulutnya langsung ditutup dengan tangan besar Duncan karena pasti meminta cerita paling ngaco untuk acara nikahan.
"Kalau cerita tentang tokoh Savitri di perwayangan bagaimana Ki Dalang? Itu kan kalau tidak salah menceritakan bagaimana cinta sejati bisa mengalahkan kematian sekalipun" usul Javier.
"Boleh saja. Saya akan mempersiapkan semuanya mas Javier."
"Alhamdulillah kalau ki Dalang berkenan" senyum Duncan.
"Biayanya?" tanya Joshua.
"Ya Allah mas Joshua, gratis. Sebagai tanda terimakasih bagaimana adik sampeyan pasang badan buat cucu saya. Dan mungkin ini cara Allah menunjukkan bagaimana saya bisa berterima kasih pada guru pemberani itu."
Keempat sepupu Savitri tersenyum. Rejekinya calon manten.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1