
Ruang Bimbingan Konseling SMKN 11 Surakarta
Anita masih memeluk Savitri yang menangis sedangkan Dina menelpon Jaehyun memintanya datang. Senior Savitri itu merasa ini sesuatu yang tidak bisa mereka handle dan hanya suaminya yang bisa.
Setengah jam kemudian Jaehyun datang dan langsung memeluk istrinya. "Ada apa ini?" tanya Jaehyun ke para rekan istrinya.
"Tadi kami mau makan siang, pak Jaehyun tapi Savitri menerima telpon dari kakaknya mas Panji, habis itu langsung seperti ini" papar Dina. "Dan Savitri tidak mau cerita kenapa."
"Sayang, ada apa? Opa Adrian? Oma Niken? Papa? Mama? Mas Panji? Mbak Aubrey?" Jaehyun memegang wajah istrinya yang masih sesenggukan.
"Rain...Oppa... Rain..."
"Iya, Rain melahirkan. Terus kenapa?"
"Rain...koma Oppa..."
Jaehyun terkejut begitu juga dengan Anita dan Dina. Sedikit banyak mereka mengetahui anggota keluarga Savitri.
"Astaghfirullah..." ucap kedua rekan Savitri.
"Kenapa bisa sayang? Terus Jeremy gimana?"
Savitri menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu"
"Anita, tolong berikan teh panas untuk Savitri kedua kalinya. Aku hendak menghubungi mas Panji." Jaehyun mengusap air mata istrinya. "Kamu disini sama Anita ya."
"Iya Oppa. Aku...tidak sanggup menghubungi mas Panji..."
Jaehyun bangun dari posisi berlutut nya dan berjalan menuju ruang meeting lalu menghubungi kakak iparnya.
"Assalamualaikum Jae" sapa Panji.
"Wa'alaikum salam mas Panji. Lagi ada dimana?"
"Aku kebetulan sedang dinas di Jakarta dan dapat kabar itu dari Tante Giselle."
"Apa benar Rain koma? Kok bisa mas?"
"Aku belum tahu Jae. Bagaimana dengan adikku?"
"Savitri-ya shock, mas. Terus rencana keluarga gimana?" tanya Jaehyun.
"Kami akan ke London memberikan support ke Jeremy. Kata mommy, anak itu berantakan. Wajar lah karena Rain itu cintanya."
"Apa yang terjadi sebenarnya mas?"
"Rain sudah dibilang kalau dia tidak dalam kondisi baik untuk melahirkan normal tapi anak itu ngeyelnya minta ampun meskipun Jeremy sudah meminta untuk operasi. Apa yang terjadi di ruang bersalin, aku belum tahu cerita sebelumnya." Panji menghela nafas panjang. "Jae, kamu tahan adikku untuk tidak terbang ke London. Kamu tahu sendiri kan dia dekat dengan Rain."
__ADS_1
"Iya mas. Apalagi dia kan sedang hamil muda."
"Thanks Jae. Nanti aku kabari kalau aku sudah sampai ke London."
Jaehyun mematikan ponselnya setelah mengobrol dan berpamitan. Pria itu pun menuju ke arah istrinya yang tampak sudah lebih tenang.
"Sudah enakan?" tanya Jaehyun sambil berlutut di hadapan istrinya.
"Bagaimana...Rain?" Savitri menatap Jaehyun sendu.
"Masih koma dan tampaknya pada mau pergi ke London."
"Oppa..."
"No, sayang. Kita di Solo. Kamu sedang hamil muda dan naik pesawat ke London itu butuh waktu lama dan aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak kita. So, kita tunggu perkembangannya. Oke?" ucap Jaehyun tegas.
"Poor Rain..."
"Sayang, yang sekarang bisa kita lakukan adalah berdoa agar Rain bisa sadar dari komanya dan bisa berkumpul kembali dengan Jeremy dan boy." Jaehyun memegang wajah Savitri. "Ingat, kamu juga sedang hamil dan kalau kamu sedih terus, nanti anak kita jadi sad boy kan payah tuh!"
Savitri tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Aku nggak mau anak kita jadi sad boy! Wong bapak ibunya receh begini!"
"Nah. Aku tahu kamu memikirkan Rain tapi jangan sampai kamu tidak memikirkan si boy yang ada di perut kamu."
Savitri menatap Jaehyun bingung. "Kok kamu yakin anak kita cowok?"
"Entah. Feeling seorang appa?" senyum Jaehyun. "So, kamu mau minta ijin setengah hari atau kamu mau melanjutkan bekerja lagi?"
"Aku akan bilang sama pak Agus, kamu tidak enak badan. Kan semua orang tahu kamu lagi hamil muda" timpal Dina.
Savitri menatap Jaehyun bingung. Ingin bekerja tapi sudah tidak bisa konsentrasi, di rumah juga bingung ngapain. Tapi setidaknya di rumah ayem, ada mbok Mar dan bik Yuni. "Aku pulang saja, Oppa. Aku juga tidak bisa konsentrasi bekerja di sini."
"Ya sudah. Aku antar pulang." Jaehyun berdiri dan mulai membantu membereskan semua bawaan Savitri.
"Aku sudah buatkan memo ke pak Agus. Kamu di rumah hati-hati." Dina mengusap bahu Savitri.
Akhirnya siang itu Savitri pulang bersama Jaehyun dan suaminya itu tahu kalau istrinya ingin ke London tapi waktunya tidak tepat.
***
Rumah Savitri.
Jaehyun pun memutuskan untuk tidak kembali ke pabriknya dan menyerahkan semua kepada asistennya Yudha. Pria itu tahu kalau istrinya pasti membutuhkan dirinya setelah mendengar kabar yang membuatnya shock.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Savitri setelah berganti pakaian dan duduk di tempat tidur sambil menatap layar MacBook nya.
Jaehyun pun mengikuti jejak istrinya, mandi dan mengganti baju kerjanya dengan kaos rumah dan celana panjang batik. Pria itu melihat Rhea, Ayame, Ingrid dan Maira berada dalam layar zoom.
__ADS_1
"Aku masih menunggu ini, Sav soalnya Tante Giselle juga panik kan disana" jawab Rhea. "Bang Duncan yang akan berangkat sama pakdhe budhe."
"Aku sih menunggu mas Moru. Soalnya dia ada jadwal operasi yang tidak bisa ditinggal. Kalau aku kan masih cuti melahirkan" sahut Ingrid. "Menurut rencana, kami akan berangkat ke London sekalian aku kasih stok ASI karena punyaku melimpah sampai stok banyak di kulkas. Fuji sendiri lebih suka minum dari aku. Kasihan anaknya Rain nanti nggak dapat ASI."
"Aku juga menunggu mas Eiji selesai rekaman Minggu ini, setelahnya kami ambil cuti. Levi sudah bisa diajak terbang juga apalagi kata papa pakai pesawat pribadi saja biar nyaman" sambung Ayame.
"Kalian mau ke London?" tanya Jaehyun.
"Iya Jae, kan anaknya Rain cowok, anak-anak kami cowok jadi tidak masalah kan jika berbagi ASI?" jawab Ayame.
"Maira, kamu nggak usah ke London. Nanti malah penuh disana" celetuk Rhea.
"Iya mbak, bang Gozali juga bilang kita disini saja sambil kirim doa supaya Rain cepat sadar dari komanya."
"Sav, jangan ke London. Pikirkan bayimu. Okay? Aku saja stay di New York kok" ucap Rhea.
"Iya. Lagian Oppa juga tidak kasih" jawab Savitri.
"Mbak Ingrid, Ayame, kalau kalian ke London, sampaikan salam kami ke Jeremy ya. Kita berdoa dari sini."
"Tentu saja Jae" jawab Ingrid.
***
Savitri meletakkan tubuhnya yang terasa lelah akibat banyak pikiran dan berita yang mengejutkan. Sebuah tangan kekar memeluk dirinya dengan erat dan rasa nyaman menjalar di tubuh bumil itu.
"Oppa, apakah aku bisa kejadian seperti Rain?" tanya Savitri sendu.
"Insyaallah tidak. Bukankah kemarin kita sepakat untuk operasi sekalian menghilangkan kista kalau masih ada."
"Aku berharap terapi yang diberikan dokter Ratna berhasil jadi kistaku hilang dan aku bisa melahirkan normal."
Jaehyun mencium pipi gembul Savitri. "Yang penting sekarang, kamu istirahat, tenangkan hatimu. Mau operasi atau normal, itu urusan enam bulan lagi. Selama itu, kita tetap melakukan terapi dan memberikan nutrisi yang terbaik buat anak kita. Plus, jangan bikin melow macam lagunya Didi Kempot."
Savitri terbahak. "Kok Oppa tahu Didi Kempot?"
"Gimana nggak? Habis antar kamu, pak Harto nyetel lagu-lagunya di mobil. Bayangkan, mobilku Mercedes tapi lagunya Sewu Kuto? Seriously?" sungut Jaehyun sambil manyun.
Savitri semakin geli mendengar Omelan suaminya lalu memeluk erat tubuh liat itu. "Sekali-kali Mercedes merakyat, Oppa."
"Njelehi!" umpat Jaehyun yang merasa lega istrinya sudah bisa tertawa dan jauh lebih tenang.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️