
Ruang Pertemuan SMKN 11 Surakarta
Safri menatap Savitri dengan tatapan marah tapi rasa sakit yang menderanya, membuat dirinya tidak bisa melawan guru cantik yang bar-bar itu.
"Pak Safri, dengan menyesal saya harus mengajukan pemecatan anda apalagi anda status anda adalah PPPK ( Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja ) dan kemungkinan besar anda akan mendapatkan tuntutan hukum dari para orang tua siswa, karena kami tidak akan diam saja! Saya memang dianggap nantinya sebagai kepala sekolah yang tidak mampu mengawasi dan mendidik anak buah, tapi anda yang tidak mampu menahan hasrat biologis anda! Dan saya akan mengatakan bahwa anda adalah seorang oknum karena kebejatan anda." Pak Agus menatap dingin ke arah Pak Safri.
"Ohya, saya sudah mendatangi beberapa rumah siswi yang anda lecehkan dan pagi ini mereka para orang tua akan secara resmi menuntut Anda, Pak Safri." Pak Agus memberikan kode kepada asistennya untuk membukakan pintu ruang meeting.
Dan setelah pintu dibuka, tampak seorang pria bule bermata biru dengan suit rapi dan senyum yang terkembang.
Siapa kangen bokapnya Neil, Opanya James and Opa buyutnya Travis?
"Selamat pagi atau setengah siang sepertinya. Perkenalkan saya adalah Stephen Blair, pengacara para korban pelecehan oleh saudara Safri. Secara resmi, semua orang tua siswi menuntut Anda, saudara Safri." Stephen Blair memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia fasih.
Savitri melongo. Oom Stephen?
***
Pak Safri akhirnya digelandang ke kantor polisi setelah sebelumnya dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut akibat tendangan dengkul Savitri. Guru cantik itu pun tidak luput dari panggilan polisi karena melakukan penganiayaan.
Stephen Blair hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan saksi Dina tentang kejadian di dalam ruang meeting. Ya benar anaknya Reza Pratomo bar-bar tapi kan tidak harus menendang hidden gem nya!
"Terima kasih Bu Dina atas kesaksiannya. Ini sudah kami catat" ucap letnan Damar. Dina tampak mengenali letnan polisi itu.
"Mas, anda bukannya kakaknya Davi?" celetuk Dina.
"Iya Bu. Maaf saya tidak memberi tahukan pekerjaan saya" senyum Damar.
"Lho Bu Dina kenal dengan Letnan Damar?" tanya Stephen Blair.
"Kenal pak Stephen. Adiknya mas Damar ini pernah kena omel Savitri gara-gara kabur pas pelajaran bahasa Inggris dan sempat hampir digundul juga karena bolos pas Savitri mau mengajar" kekeh Dina.
"Iya lho pak Stephen, sampai di rumah Davi harus menulis pakai tangan 'Saya tidak akan membolos lagi' sebanyak 200x . Ya semua yang hukum Bu Savitri."
Stephen Blair melongo. Astagaaa anak itu!
"Ini saya sudah kan mas Damar?"
"Sampun Bu Dina."
"Saya permisi dulu. Mari pak Stephen, mas Damar." Dina pun berdiri dan keluar dari ruang saksi.
"Monggo Bu Dina." Damar lalu menatap ke arah kopral Jono. "Jon, tolong panggil Bu Savitri Putri."
"Baik Let!"
Tak lama Savitri pun masuk dengan wajah manyun sedangkan Stephen Blair hanya menatap keponakannya dengan perasaan geli dan gemas.
__ADS_1
"Lho? Mas Damar? Jebule polisi tho ( rupanya polisi )? Herman aku, kakaknya polisi adiknya kok kriminal ya?" seru Savitri tanpa filter.
"Davi kriminal?" tanya Damar.
"Bolos itu suatu aksi kriminal kalau di sekolah!"
Damar tersenyum melihat guru cantik yang kelakuannya naudzubilah bar-barnya. "Monggo pinarak Bu Savitri ( silahkan duduk Bu Savitri ). Ini kejadiannya jadi kebalik ya Bu. Kemarin saya yang menghadap ibu karena adik saya, tapi sekarang ibu yang menghadap saya."
"Kasusnya berbeda tapi intinya sama, tindakan tidak menyenangkan" seringai Savitri. "Meskipun saya nggak nyesal sih nendang anunya."
"Savitriii..." Stephen mendelik ke arah ponakannya.
"Sorry Oom."
"Oom?" Damar menatap Savitri dan Stephen Blair bergantian.
Savitri nyengir. "Iya, Mr Stephen Blair adalah Oom aku."
Damar melongo.
***
"Jadi kamu memang sudah ingin menghajar pria itu Sav?" tanya Stephen Blair.
"Coba Oom kalau di posisi aku, bakalan ngapain?" balas Savitri.
"Well, dibuang ke Bengawan Solo" gumam Stephen Blair membuat Damar terkejut.
"Jadi Oom Stephen jadi pengacara para orangtua dan korban? Kok Oom tahu? Aku bahkan baru berencana meminta tolong Neil malahan" ucap Savitri.
"Joshua yang menghubungi Oom. Katanya ada kasus yang membuatnya kesal setengah mati jadi semalam Oom dan Joshua mempelajari semuanya. Bahkan semua aibnya si Safri, Oom dapat semua dari abangmu itu."
"Maaf pak Stephen. Anda dibayar berapa? Mengingat anda adalah seorang pengacara terkenal" celetuk Damar.
"Saya untuk ini pro Bono ( tanpa bayaran satu sen pun ) karena bagi saya ini kasus yang menyedihkan bagi banyak orang tua dan anak-anak mereka harus hidup dengan trauma yang belum tahu kapan akan terkikis." Stephen menatap Damar serius.
"Anda memang baik Pak Stephen."
"Tidak semua harus dikaitkan dengan uang. Terkadang memberikan jasa tanpa pamrih itu jauh lebih menyenangkan" senyum Stephen.
***
Savitri mendampingi para orang tua yang sedang melakukan laporan ke pihak kepolisian bersama dengan Stephen Blair dan tiga orang asistennya. Hingga menjelang Maghrib, mereka baru menyelesaikan semua laporan ke pihak kepolisian. Savitri sendiri dibebaskan dari tuntutan karena korban menjadi tersangka.
Kabar terakhir, hidden gem milik Safri mengalami memar dan harus diobservasi lebih lanjut.
"Lagian kamu juga sih Sav. Nendang pakai dengkul sekuatnya" omel Stephen saat makan malam bersama keponakannya di restoran Kayu Manis di Slamet Riyadi Solo.
"Habis, dia mau nyerang aku Oom. Aku kudu piyeee ( aku harus gimana )?"
__ADS_1
"Yaaa dibanting kan bisa Sav, tapi jangan ditendang anunya!"
"Lha reflek Oom" cengir Savitri.
Stephen Blair hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu, Tante Diana sampai heboh dengar kamu brutal begitu."
Savitri terbahak. Tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi dan tampak dilayarnya 'Ahjussi Depan Rumah' menelponnya.
"Astaghfirullah! Lupa pacar depan rumah!" seru Savitri.
"Hah?" Stephen melongo.
"Assalamualaikum Oppa... Aku? Aku sedang makan malam dengan Oom-oom..."
Stephen mendelik judes.
"Serius sama Oom-oom! Kesini saja kalau tidak percaya!" Savitri cekikikan. "Di kayu manis, Oppa. Yang dulu kita pernah makan sama mas Abian... Bukaaann, itu kan wedhangan. Ini yang ada steaknya itu... Iyaaa yang itu... Ya udah aku tunggu. Wa'alaikum salam."
"Siapa Savitri?"
"Pacar aku Oom."
Stephen melongo. "Orang Korea? Reza tahu?"
"Well, Daddy udah tahu dari pak Dewo cuma kan tahu kami pacaran demi Konten soalnya aku ga mau distalking sama orang aneh!"
"Anaknya siapa?"
"Kim Young-ji dan Kirana Kim. Oh, aku sudah bertemu dengan ibunya Jaehyun Oppa pas nikahnya pianis durjana di Jepang."
"Bagaimana tanggapan ibunya?"
"Dia suka aku Oom. Tante Kirana malah berharap aku pacaran sama anaknya."
"Bagus lah, setidaknya dia tahu pacar anak nya begitu bar-barnya."
"Ternyata beneran sama Oom-oom, Savitri-ya?"
Savitri dan Stephen menoleh. Wajah Jaehyun tampak manyun tidak suka.
Jiaaahhh ada yang manyun
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️