
Alih-alih peduli dengan keterkejutan Nadine, Azlan lebih memilih untuk membuang pandangannya menata lurus ke arah depan sambil terus menggenggam tangan gadis tersebut.
mereka terus melangkah menyusuri jalanan halaman besar kediaman Hillatop yang ditumbuhi rerumputan hijau ZOYSIA (Jepang) menuju ke arah jalan setapak di depan sana.
"Akhir Minggu depan mari pergi ke toko untuk mencari cincin tunangan, aku ingin kamu sendiri yang memilihnya sesuai dengan selera kamu"
sambil terus melangkah ke arah depan.
"Berikan rincian waktu terbaik kamu untuk kita pergi nanti"
Nadine fikir Azlan bisa menentukan jam waktu keberangkatan mereka, karena dia mungkin memang libur di hari Minggu dengan waktu yang penuh, tapi dia takut Azlan tidak memiliki waktu sebanyak dirinya selama akhir minggu, mengingat betapa padatnya jadwal laki-laki itu pada minggu-minggu berikutnya.
"Aku fikir kita bisa mencari jam yang tepat untuk kita pergi agar tidak saling menabrak jadwal"
Jawab gadis itu lagi.
"Kamu bisa mengatur nya dan aku mengikuti"
Azlan bicara dengan cepat.
"No... itu bukan cara Pasangan yang baik dalam memutuskan sesuatu"
Nadine buru-buru bicara sambil menoleh kearah Azlan.
"Setelah menikah kita akan banyak melewati hal seperti ini, mencoba mencari waktu bersama di antara semua kesibukan yang mungkin kita dapatkan, jika kita membiarkan sebelah pihak memutuskan, percayalah kita akan kehilangan intensitas dalam hubungan"
Ucap gadis itu cepat.
"Hal yang baik jangan biarkan pasangan yang membuat keputusan karena itu akan menjadi sebuah kebiasaan, dimana misalkan aku yang membuat keputusan dan kamu yang menerima keputusan, satu saat hal ini akan memicu pertengkaran"
Nadine bicara sambil menatap wajah Azlan sejenak.
__ADS_1
"Sebab ketika aku yang selalu memegang kendali mengambil keputusan, ada kalanya kamu sebenarnya tidak memiliki waktu pada akhirnya terpaksa ikut dan menurut padahal sebenarnya kamu tidak bisa pergi melakukan apa yang aku putuskan, suasan nya akan jadi tidak enak dan terkesan memaksa"
"Atau bahkan kamu bisa jadi menolak dengan berbagai macam alasan karena sibuk dan lain sebagainya hingga membuat aku merasa di abaikan"
"Maka sebaiknya kita saling mendiskusikan waktu terbaik, saling mencocok kan jadwal dan saling menyediakan waktu bersama dimana ketika kita benar-benar mendapatkan waktu yang tepat membuat kita mampu melewati quality time terbaik untuk menghabiskan waktu luang tanpa ada gangguan atau rasa terpaksa antara satu dengan yang lainnya"
Setelah menyelesaikan kata-katanya Nadine kembali melirik kearah Azlan.
"Aku tidak tahu apakah pendapat ku soal itu masuk akal atau tidak, tapi menurut ku dalam sebuah hubungan kita membutuhkan hal tersebut, komunikasi terbaik dalam mengatur waktu"
Seulas senyuman mengembang dibalik wajah Nadine.
Laki-laki itu ikut menaikkan ujung bibirnya, senyuman nya begitu tipis namun penuh arti, Azlan mengangguk kan kepalanya dengan cepat.
"Aku setuju soal itu"
Ucap Azlan kemudian.
"Biarkan aku menelpon kamu besok setelah pulang dari jam kantor, kita akan membicarakan waktu terbaik nya"
"Hmm itu seperti kencan melalui handphone? akan menggunakan waktu yang cukup lama"
Nadine menggoda sambil tertawa kecil.
"Yah lebih dan kurang, aku cukup penasaran bagaimana rasanya berkencan melalui handphone, bicara berjam-jam hingga akhirnya salah satu dari kita mengantuk dan terlelap lebih dulu"
Azlan menyahut cepat, dia mencoba mengulum senyumannya, entah kenapa saat bicara soal kencan dari handphone nya tiba-tiba dia ingat dengan seorang teman.
"Ahhh apakah kamu tahu kak?"
Tiba-tiba Nadine menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Azlan ikut berhenti, dia mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.
"Mereka bilang laki-laki yang sedikit kaku terkadang jadi lebih berani saat bicara melalui handphone, apakah mungkin singa Del Piero akan seperti itu?"
Saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Nadine seketika Azlan membeku.
"Ya? singa?"
Lagi-lagi dia begitu fokus soal kata singa yang disematkan Nadine untuk dirinya.
"Apa aku segarang itu?"
Ini untuk pertama nya seorang Azlan bicara dengan nada protes kepada orang lain soal ke garangan nya.
"Sedikit, tidakkah kakak menyadari nya? kakak sedikit garang dan seram"
Goda Nadine lagi sambil mencoba menyatukan jari telunjuk dan jempol nya, gadis itu mengedip kan sebelah matanya.
Seketika Azlan tertawa kecil dan percayalah ini untuk pertama kalinya Nadine membeku ketika mendengar laki-laki itu bisa tertawa lepas dihadapan nya.
"aku tidak seburuk itu"
Azlan bicara sambil menahan rona Merah diwajahnya karena kata-kata singa yang garang dan seram.
"Maksud ku, aku ini tidak garang dan seram"
Dia ingin protes, sebenarnya dia tidak begitu garang dan seram, tapi mungkin karena ekspresi dan wajah nya lah yang membuat orang-orang berfikir dia seram dan garang.
Dan Nadine seketika terkekeh kecil dia fikir kenapa Azlan Del Piero bisa semanis itu malam ini.
Ohhhhh dia manis sekali kan?
__ADS_1
lihat lah dia benar-benar imut sekali.
Dia berubah menjadi kucing kecil yang terlihat malu-malu tapi mau.