Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Tanda yang tidak asing


__ADS_3

Awalnya Mereka fikir akan keluar dari ruangan tersebut, memilih untuk pergi dan pulang dengan cepat, saling menikmati makan malam di tempat tinggal masing-masing dan mendapatkan masa istirahat terbaik mereka hingga besok pagi tapi siapa sangka mereka terjebak di gudang arsip tersebut tanpa bisa di toleransi.


Dan pertanyaan nya siapa yang akan mendengar teriakan mereka di waktu malam begini?!.


Ketika semua orang jelas telah kembali di tempat peraduan masing-masing.


"Oh god..."


Nadine bicara panik sambil berusaha menggedor-gedor pintu tersebut, dia bahkan berusaha untuk membuka pintu tersebut dengan berbagai macam cara.


Tapi hasilnya nihil.


Gadis itu jelas panik, lampu remang-remang yang menyinari ruangan tersebut membuat suasana menjadi sangat tidak enak.


Sebelumnya dia tidak pernah berada di satu ruangan yang sama dengan laki-laki asing bahkan meskipun itu adalah Bill Rowland sekalipun.


Ini kali pertama dia berada di satu ruangan bersama seorang laki-laki selain Daddy nya, kakak nya atau Uncle nya.


"Handphone?"


Nadine fikir mereka bisa menghubungi seseorang dan meminta bantuan melalui handphone nya.


Tapi...


Oh god.


Dia meninggalkan handphone nya didalam tas nya.


Sejenak gadis itu melirik kearah Azlan.


"Apa anda membawa handphone anda, sir?"


Mendapat kan pertanyaan gadis tersebut, Azlan menaikkan kedua bahunya dengan Santai.


Di atas meja kerja ku.


Lagi Nadine menghela nafas secara perlahan.


Bagaimana bisa laki-laki itu bertingkah begitu tenang ?!. seolah-olah keadaan ini bukan permasalahan bagi laki-laki tersebut.


Batin Nadine pelan.

__ADS_1


Dia pada akhirnya mencoba mendongakkan kepalanya, mencari siapa tahu ada jendela atau atau lubang ventilasi atau apapun itu untuk dijadikan sebagai tempat keluar dari sana.


Tapi seperti nya apa yang dia harapkan mungkin tidak akan ditemukan.


Orang yang membangun ruangan tersebut sangat kejam sekali.


Batin Nadine lagi.


"Kenapa tidak menggunakan konsep pembangunan yang meletakkan sedikit jendela untuk dipakai didalam keadaan darurat?"


Tanya Nadine pelan kearah Azlan.


Laki-laki itu yang sejak tadi ikut menyusuri ruangan langsung menoleh kearah Nadine.


"Konsep pembangunan yang dilakukan oleh para leluhur, aku tidak paham kenapa mereka tidak memberikan beberapa lubang ventilasi atau jendela di ruangan ini"


Jawab laki-laki itu cepat.


Bola Mata nya kembali sibuk menyusuri ruangan.


Berharap siapa tahu ada celah lain yang bisa membuat mereka keluar dari sana.


Saat sekolah dia tidak pernah dibawa Daddy nya ketempat ini, bagi Daddy nya cukup fokus pada sekolah nanti baru memikirkan soal perusahaan.


Selanjutnya dia menetap di Prancis untuk waktu yang cukup lama.


"Mungkin takut terjadi pencurian"


Ucap Nadine kemudian.


Dia fikir mungkin bisa mencairkan suasana, sedikit bercanda mungkin bisa jadi jurus ampuh untuk membuat suasana tidak menegang kan.


Tapi siapa sangka candaan nya malah jadi garing.


Bisa dengan musik eng ing Ong di atas kepalanya?!.


Benar-benar tidak lucu.


Seolah-olah ada emo mata datar,wajah dengan tanda air atau bahkan muka terlelap Karena ngorok di atas kepalanya saat ini 😑😓😴.


benar-benar garing.

__ADS_1


Gadis itu seketika duduk di lantai, menekukkan kedua paha nya dengan perlahan.


Dia Fikir untunglah dia menggunakan celana panjang hari ini, bukan rok pendek.


Azlan tampak ikut menepi, belum berfikir untuk ikut duduk disamping gadis tersebut.


Dia berkata secara perlahan.


"Aku Fikir kita terpaksa menginap disini"


Mendengar ucapan Azlan, seketika Nadine menelan salivanya.


Tidur disini? berdua? Oh god.


Gadis itu seketika meletakkan kepalanya di atas kedua lututnya, dia membiarkan keningnya berada di atas kedua telapak tangan dan lutut nya untuk beberapa waktu.


Tiba-tiba ruangan tersebut menjadi sedikit dingin, bisa dia lihat Nadine berusaha mengusap-usap kedua lengannya dengan kedua telapak tangan nya.


Melihat hal tersebut buru-buru Azlan melepas kan jas nya Dan memberikan jas tersebut kearah Nadine.


Eh?.


Seketika gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap mata elang tersebut yang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bisa Nadine Artikan.


"Aku tidak apa-apa"


Ucap Nadine pelan.


"Kamu kedinginan"


Azlan bicara pelan.


"Tidurlah jika mengantuk, aku akan memikirkan cara untuk keluar, jika memang dalam keadaan terdesak kita benar-benar akan tidur disini"


Lanjut laki-laki itu lagi, kemudian Azlan langsung memalingkan wajahnya dari Nadine.


Laki-laki itu secara perlahan menaikkan lengan kameja nya Secara bergantian kiri dan kanan.


Gadis itu sejenak menatap gerakan Azlan, dia baru akan bicara tapi tiba-tiba bola mata nya terpaku pada lengan kiri Azlan.


Seketika Nadine mengerutkan keningnya, dia mengencangkan pegangan nya pada jas milik Azlan saat dia fikir dia kenal baik tanda tidak asing di lengan kiri laki-laki tersebut.

__ADS_1


__ADS_2