
"Sekolah SMA xxxxxxx, kamu bisa melihat foto ku di bagian arsip sekolah"
Ucap Azlan cepat.
Dia secara perlahan Meraih tangan Nadine, mencoba mengusap-usap kedua tangan gadis itu dengan kedua telapak tangan nya.
Nadine terlihat diam saat laki-laki tersebut mengusap lembut tangan nya dan menciptakan kehangatan tersendiri di tangan nya.
Itu mungkin gaya lama, tapi cukup ampuh untuk menghangatkan tubuh.
"Kamu bahkan bisa menemukan nama ku disana nanti"
Lanjut Azlan lagi.
Nadine masih diam, mencoba berfikir soal satu kemungkinan.
Itu artinya mereka memang berada di sekolah yang sama, melihat usia Azlan Nadine fikir laki-laki itu benar adalah kakak tingkatan nya, saat Nadine masuk artinya laki-laki itu telah keluar dan lulus dari SMA mereka, saat bill Rowland menyapa dengan nada yang tidak bersahabat tadi artinya mereka satu tingkatan.
"Apakah kamu suka bermain anggar di sekolah meskipun bukan lagi murid disana?"
Pertanyaan Nadine seolah-olah ingin membawa laki-laki tersebut ke masa lalu, gadis itu mencoba menyusun kepingan demi kepingan soal masa lalu yang mungkin bisa terhubung dengan sesuatu yang selama ini dia cari.
"Aku selalu pergi kesana selama ½ tahun penuh sebelum kembali ke Prancis"
Mendengar jawaban Azlan seketika Nadine menggigit bibir bawahnya.
Ekspresi yang ditampilkan gadis itu membuat Azlan mencoba menahan senyumannya.
__ADS_1
"Makanan apa yang paling kamu sukai saat si sekolah?"
Tiba-tiba Azlan Bertanya.
"Apakah Makanan di kantin sederhana di seberang sekolah? aku Fikir mie pangsit nya begitu lezat"
Seketika ekspresi wajah Nadine berubah bahagia, dia menatap wajah Azlan dengan cepat.
Seolah-olah obrolan mereka menjadi semakin tersambung karena mereka jelas banyak memiliki hal sama yang di sukai.
"Aku selalu pergi kesana tiap kali pulang sekolah, mengabaikan supir yang menjemput dari ½ jam sebelumnya hingga berakhir di 1 jam berikutnya"
Jawab Nadine cepat.
Tidak tahu kenapa dia jadi merindukan masa SMA, begitu manis dan imut, meskipun begitu populer di SMA dan selalu di kejar-kejar oleh para laki-laki, dia lebih suka lari ke latihan Anggar, menyendiri tanpa gangguan, pergi ke perpustakaan bahkan melarikan diri ke kantin depan sekolah.
Berusaha menghindar pulang lebih cepat ke rumah karena dia benar-benar suka suasana syahdu menyendiri di sudut warung sederhana tersebut
"pangsit goreng nya yang paling terkenal di sana"
Azlan kali ini bicara dengan cepat, masih menggosok punggung tangan Nadine secara perlahan.
"Aku juga begitu menyukai pangsit nya"
Lagi gadis itu mengembang kan senyuman nya, menatap wajah laki-laki dihadapan nya itu dengan perasaan berdebar-debar.
Seolah-olah ini waktunya dia bertanya soal hal yang membuat dia penasaran akan sesuatu.
__ADS_1
Nadine mulai menundukkan kepalanya, dia menatap lengan Azlan kemudian mengelus lembut lengan kiri yang terlihat ada bekas luka memanjang nya.
"Apakah luka nya sakit? kapan kamu mendapatkan luka ini ?"
tanya gadis itu pelan sambil jemari-jemari indah nya mencoba mengelus bekas luka tersebut.
Yang ditanya terlihat diam, mencoba menelisik puncak kepala Nadine untuk beberapa waktu.
Dia ingin melihat wajah gadis tersebut, tapi karena Nadine memilih menunduk kan kepala nya, membuat Azlan pada akhirnya secara perlahan menyentuh puncak kepala Nadine.
"Kamu tumbuh dengan baik, petunia"
Ucap laki-laki itu pelan.
Mendengar kata petunia seketika membuat tubuh gadis itu bergetar, dia mendongak kan kepala nya secara perlahan, menatap wajah Azlan dengan bola mata berkaca-kaca.
"Kau kenapa tidak menggenggam tangan ku seperti janji mu?"
Kemudian tiba-tiba air mata Nadine jatuh, tidak tahu bagaimana perasaan nya saat ini.
Marah, kesal, sedih, rindu, benci dan entah apalagi menjadi satu.
Satu penyesalan yang dia rasakan didalam hatinya saat ini, dia memilih laki-laki yang salah dan mereka akan segera menikah.
Sesuai kecurigaan nya, Bill Rowland benar-benar bukan Black panther nya.
Lalu apa yang harus dia lakukan?!.
__ADS_1
Semua undangan pernikahan telah mulai disebarkan.