
Setelah seharian sejak pagi hingga malam hari melewati waktu bersama dan bisa jadi ini disebut sebagai kencan buta yang cukup mendadak tapi yang jelas begitu sangat berkesan.
pada akhirnya mereka memilih untuk pulang saat ini juga, mengingat ini bukan jam yang tepat lagi untuk membawa anak gadis orang untuk pergi kemana-mana.
Azlan secepat kilat melajukan mobilnya setelah perut mereka telah kenyang menyantap makanan terakhir.
"Kamu belum menjelaskan apa maksud kamu soal Bill Rowland"
Nadine masih berusaha bertanya, cukup penasaran dengan ucapan yang dikatakan oleh Azlan tadi.
Azlan sama sekali tidak menjawab langsung pertanyaan Nadine, tangan kanan laki-laki itu terus fokus pada setir mobilnya, sedangkan tangan kirinya mulai mencoba menyalahkan lagu di dalam mobil nya tersebut.
"Masih suka lagu lawas? aku meminta Ben untuk menyalin beberapa lagu lawas di flash disk agar kamu bisa menikmati lagu-lagu nya ketika bersama ku"
mendengar ucapan Azlan seketika gadis itu mengerutkan keningnya, dia cukup tidak menyangka laki-laki itu tahu apa yang dia sukai.
Seolah-olah lupa pada persoalan Bill Rowland, gadis itu langsung menatap dalam wajah Azlan.
Dia suka mendengarkan lagu lawas seperti milik Yuni Shara, Nike Ardilla, Annie Carrera atau bahkan Ebiet G Ade.
Bagi nya lagu seperti itu memberikan satu sensasi indah tersendiri untuk dirinya, musik berkualitas dengan kata-kata indah tanpa kandungan ke fulgaran.
Suara-suara tembang kenangan seperti itu sudah nyaris tidak ditemukan lagi di jaman sekarang.
Perbedaan music yang begitu signifikan antara jaman dulu dan sekarang.
Jika artis-artis dulu Lebih mengedepankan kwalitas dan menyenangkan pendengar, mungkin jaman sekarang Lebih mengedepankan sensasional serta Sesuatu berita skandal yang bisa membuat pecah karir seseorang.
Bisa dia dengar lagu milik Nike Ardilla mengalun dengan lembut di dalam mobil tersebut, menambah suasana manis di antara mereka.
Nadine masih menatap dalam wajah Azlan.
"Bagaimana kamu tahu aku suka lagu-lagu seperti itu?"
dia bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Kamu pernah mengatakan nya pada ku hmm... dulu, yah...dulu"
Jawab Azlan pelan.
__ADS_1
"Ya?"
Nadine semakin mengerutkan keningnya.
"Kapan? dulu?"
Dia fikir kapan dia pernah mengatakan nya?!.
"Malam tragedi kebakaran, kamu yang panik terus bercerita soal banyak hal termasuk apa saja yang kamu sukai"
Mendengar ucapan Azlan seketika Nadine membulatkan bola matanya.
"Ya?"
gadis itu jelas terkejut setengah mati, dia menyentuh pelan ujung kening nya.
"Saat itu kamu mengalami panic attack, kau tahu kondisi mu membuat aku takut, Nad"
Seolah-olah Dejavu Nadine ingat satu kejadian dimasa lalu yang masih terus menyisakan trauma untuk dirinya.
Ruangan gelap tiba-tiba berubah menjadi panas dan pengap, ini kali pertama Nadine menjadi begitu panik luar biasa.
Yang lebih mengerikan dia memiliki Perasaan tercekik malam itu, seolah-olah tidak ada siapapun di sekeliling nya, keringat panas dingin menghantam nya bercampur rasa Pusing, kepala berkunang.
Nadine tiba-tiba merasa Mati rasa ditambah sensasi kesemutan di seluruh lengan dan jari-jari nya, bahkan dia mengalami Hot atau cold flashes (peningkatan/penurunan suhu tubuh mendadak, di daerah dada dan sekitar wajah), seketika dia takut akan mati dan mulai kehilangan kontrol tubuh nya sendiri.
"Nad... bertahan lah, katakan pada ku apa yang kamu butuhkan?"
Bisa dia rasakan seseorang berusaha bicara dibalik telinga nya, begitu lembut, berbisik dengan penuh kesabaran bahkan dia merasakan satu pelukan hangat yang berusaha di berikan pada diri nya.
Malam itu seseorang terus berusaha menyadarkan nya, berkata semua baik-baik saja, bahkan sebelumnya terluka karena dia.
Dia tidak benar-benar melihat wajahnya, tapi dia tahu nama nya.
"Siapa nama mu?"
"Tidakkah kau ingat? black panther, kita selalu bertarung di atas Anggar bersama, kakak tingkat mu yang lulus bertahun-tahun yang lalu"
kemudian tidak tahu bagaimana bisa Saat terbangun dia berada di ruangan Putih mendominasi.
__ADS_1
"Dimana dia, Mom, Dad?"
"Siapa?"
"Black Panther ku?"
Tapi dia tidak pernah lagi menemukan laki-laki itu hingga bertahun-tahun lama nya, kemudian satu hari Bill Rowland datang dan Daddy laki-laki itu berkata.
"Tidakkah kau lupa nak, Bill Rowland yang menyelamatkan mu dan membawa mu ke rumah sakit dalam tragedi kebakaran malam itu"
"Apa kamu masih lupa?"
Tanya Azlan lagi sambil melirik ke arah nya.
Nadine terus menatap wajah laki-laki tersebut, dia menatap Azlan dengan pandangan berkaca-kaca
Laki-laki itu jelas Terkejut melihat ekspresi Nadine sambil mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"katakan pada ku definisi cinta seorang black petunia itu apa?"
Nadine butuh satu jawaban dari bibir Azlan.
Yang membuat nya meragu saat bersama Bill Rowland, Dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari bibir laki-laki itu.
Azlan sejenak memelankan laju mobil nya, dia menatap dalam bola mata Nadine.
"L’amour est comme le vent, nous ne savons pas d’où il vient. -Honoré de Balzac"
Cinta itu seperti angin, kita tidak pernah tahu dari mana asalnya.
Jawab Azlan sambil mengembangkan senyuman.
Seketika bola mata Nadine berkaca-kaca, entah bagaimana telapak tangan nya secara perlahan menyentuh wajah Azlan.
"Itu benar-benar kamu"
"Mungkin aku bukanlah laki-laki yang baik, tapi aku tidak pernah menghalalkan cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan"
__ADS_1
Ucap Azlan lagi kemudian"