Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Jangan pernah percaya pada orang lain


__ADS_3

Kembali ke masa kini


Meskipun Azlan tahu Nadine masih bingung dengan apa yang dia maksud, laki-laki itu malah mengalihkan pembicaraan.


"Kamu tahu? jangan terlalu percaya pada orang lain bahkan meskipun itu aku sekalipun hmmm"


Laki-laki itu bicara Sambil menyentuh lembut wajah Nadine.


Mendapat kan sentuhan lembut di wajah nya dari laki-laki tersebut, seketika Nadine memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.


"Kita tidak pernah tahu bagaimana isi kepala dan hati orang lain, meskipun rambut kita sama warna nya"


Lanjut Azlan lagi.


Yah siapa yang tahu bagaimana jalan pemikiran seseorang, karena itu Azlan selalu berpegang teguh pada prinsip jangan pernah mempercayai orang lain tanpa perjanjian hitam di atas putih.


Bukan karena kita berburuk sangka atau selalu berfikiran negatif pada orang lain, tapi waspada pada hal-hal yang tidak kita inginkan juga boleh.


Sebab di jaman sekarang ada banyak sekali teman yang memanfaatkan teman lainnya, bahkan belum lagi terkadang ada banyak teman yang Isa menjerumuskan teman pada hal-hal buruk yang Tidak terduga.


Mendengar ucapan Azlan, Nadine sama sekali tidak menjawab, dia hanya mendengar kan Ucapan Azlan.


"Teman mu nyaris Menjebak kamu, tidak kah kamu menyadari soal itu nad? Belum lagi Bill Rowland mencoba untuk melakukan hal yang tidak baik pada kamu semalam"


Lanjut Azlan lagi.


Begitu Azlan berkata begitu, Nadine membuka bola matanya, dia mengerutkan keningnya.


"Dua orang mencoba menjebak mu Semalam, tidak kah kamu menyadari nya?"

__ADS_1


Tanya Azlan kembali.


Seketika Nadine menatap kearah Azlan.


"Apa?"


Dia tidak pernah berfikir jika pergi dirinya semalam akan berakibat fatal, ada orang-orang yang sengaja ingin menjebak nya.


Nadine fikir ini semua adalah perbuatan Bill Rowland, tapi siapa sangka ada orang lain juga yang bergerak di belakang semua itu.


Nadine cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Azlan.


tidak pernah menduga jika semua akan berakhir seperti ini.


"lalu bagaimana dengan Hayat?"


tanya gadis itu cepat, dia cukup penasaran apa terjadi pada sahabat baiknya tersebut.


dia terus bertanya dengan nada penasaran.


"Jangan khawatir kan soal apapun, dia baik-baik saja bersama Ahem"


mendengar jawaban dari Aslan lagi-lagi gadis tersebut mengerutkan keningnya.


"Ya?"


Azlan sama sekali tidak melanjutkan ucapannya, dia kembali menyentuh lembut wajah Nadine.


"Pergilah untuk membersihkan diri hmmm, setelah itu baru kita menikmati sarapan pagi bersama"

__ADS_1


ucap laki-laki tersebut pada Nadine.


Lagi mendapatkan sentuhan dari laki-laki tersebut, Nadine memejamkan bola matanya secara refleks.


Azlan terlihat menaikkan ujung bibirnya saat melihat ekspresi Nadine saat ini.


"Maafkan aku"


Ucap Nadine pelan, dia membuka perlahan bola matanya.


Dia masih memastikan jika Azlan belum beranjak dari tempat nya, menikmati wajah Azlan yang menatap dirinya dengan sejuta pandangan.


Mendengar kata maaf Nadine, Azlan menggeleng kan kepala dengan cepat.


"Tidak ada yang perlu di maafkan nad, aku tidak sedang marah tapi aku ingin kamu lebih berhati-hati kedepannya"


Mendengar ucapan Azlan sejenak gadis itu kembali terdiam.


"Pergilah membersihkan diri hmmm, aku akan menunggu kamu di lantai bawah"


Dan ketika Azlan berkata soal lantai bawah, dia baru sadar soal....


"Dimana kita?"


Azlan baru saja menggeser tubuhnya, dia berdiri dan Mencoba melangkah menjauhi Nadine.


Mendapatkan pertanyaan dari gadis tersebut Azlan menjawab dengan nada ringan.


"Tentu saja di kamar kediaman Del Piero"

__ADS_1


Mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika Nadine membulatkan bola matanya.


Hahhh?!.


__ADS_2