Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Saran yang manis


__ADS_3

Pada akhirnya disepanjang makan malam bersama mereka Azlan serta kedua orang tuanya tetap menampilkan sikap seperti biasa nya.


Meskipun Nadine telah bicara dan bertanya perihal soal kata mandul, seolah-olah mereka tidak mempedulikan nya dan mengabaikan nya.


kehangatan dan ruang Akrab tanpa jarak diberikan ketiga orang tersebut kepada Nadine jelas terlihat tanpa tabir kepalsuan.


Seolah-olah sejak awal gadis itu memang telah diharapkan ada di Antara mereka, seolah-olah juga sejak awal mereka memang menanti-nanti kan kehadiran Nadine agar masuk menjadi salah satu anggota keluarga mereka.


Meskipun beberapa kali Nadine menampilkan kecanggungan karena belum terbiasa, tapi mereka terus menerus berusaha memberikan kehangatan yang Nadine rasakan persis di rumah nya sendiri.


Suasana kehangatan yang Terjadi begitu mirip didalam keluarga nya, sangat berbanding terbalik saat dia datang ke kekuarga Bill Rowland.


Laki-laki itu dan keluarga nya seolah-olah menampilkan kesan dua wajah yang Nadine sendiri tidak paham yang mana wajah asli mereka.


Setiap kali dia berkunjung ke keluarga Bill Rowland, dia cukup tidak nyaman jika harus berlama-lama, berbeda dengan kehangatan yang diberikan keluarga Azlan Del Piero, membuat dia enggan dan beranjak untuk pulang kerumah.


Entahlah Nadine fikir mungkin ini hanya kesan pertama, siapa tahu kedatangan nya sekali lagi akan mengubah sudut pandang dan cara mereka memperlakukan dirinya.


Manusia selalu sering berubah-ubah hati nya, apalagi saat tahu orang yang dihadapi mereka memiliki kekurangan, bisa jadi hari ini di puja-puja, besok mungkin dijadikan bahan cemoohan dan gunjingan, tempat membuat gosip skandal baru dan dijadikan bahan perbandingan dengan orang lain disekitarnya terutama keluarga mereka.


"Ada apa?"


Azlan bertanya pelan, berbisik tepat di belakang Nadine yang terlihat mulai meletakkan piring makan kotor ke wastafel cucian piring.


Gadis itu jelas terkejut, dia melonjak kaget dan langsung bergerak dari posisi nya.


Azlan selalu punya kebiasaan mengejutkan diri nya, tiba-tiba bicara di belakang nya atau bahkan di balik telinga nya.


"Melihat ekspresi Nadine seketika laki-laki itu langsung bergerak mengambil posisi, dia langsung berdiri menyamping kemudian berkata.


"Masih memikirkan soal anak-anak?"


Dia tidak suka merujuk pada kata Mandul, Azlan bukan type laki-laki yang suka bicara kasar lada orang yang dia hargai.


Mendengar ucapan Azlan seketika Nadine terdiam.


Yah tentu saja dia masih memikirkan nya, memangnya laki-laki mana yang mau menikahi gadis mandul?!.


Dalam berumah tangga kata "Mandul" jelas menjadi satu kengerian tersendiri untuk sepasang suami istri, ketika salah satu pasangan mereka di vonis dengan hal tersebut bayangkan apa yang di fikirkan oleh pasangan mereka?!.


Poligami.


Nadine tidak pernah membayangkan untuk bebagi suami.


"Mau mendengar kan sebuah saran?"


Tanya Azlan kemudian tiba-tiba laki-laki itu menyambar tubuh Nadine dan mengangkat Nadine ke atas meja sisi kanan wastafel cucian piring.



"Akhhh Azlan..."


Seolah-olah mengangkat tubuh dan meletakkan tubuh Nadine ke atas meja atau apapun dihadapan nya menjadi satu kebiasaan, jelas saja membuat Nadine berkali-kali berteriak kecil sambil membulatkan bola matanya karena Terkejut.


"Dengar apa yang kamu lakukan? bagaimana jika uncle dan Untie kembali ke dapur?"

__ADS_1


Nadine jelas gelagapan, berusaha untuk turun kebawah tapi laki-laki itu menahan tubuhnya dengan cepat.


"Azlan lepaskan, kau..."


"Ssttttt"


Tiba-tiba laki-laki itu bicara sambil meletakkan jari telunjuk kanan nya ke bibir Nadine.


"Mereka benar-benar akan kembali ke dapur jika kamu membuat keributan"


Bisik laki-laki itu pelan.


"Apa"


"Bukankah aku belum selesai bicara liebe?"


Lagi kata liebe membuat Nadine kehilangan kata-kata, wajah nya seketika memerah.


Laki-laki itu selalu punya cara untuk membuat dia kehilangan kata-kata.


"Bagaimana jika untie dan uncle melihat kita?"


Kali ini Nadine mencoba bersikap lebih tenang, bicara sedikit berbisik sambil menatap dalam bola Azlan.


"Kalau begitu kita langsung menikah"


Mendengar ucapan Azlan seketika Nadine menghela kesal nafasnya.


"Dia selalu membuat segala sesuatu seolah-olah menjadi mudah"


Ini pertama kali nya dia mengeluh dan mengeluarkan rutukan manis nya di depan Azlan, tidak ada pemberontakan, tidak ada penolakan saat Azlan menggenggam lembut pinggang nya sejak tadi.


Jawab Azlan kemudian.


"Mau tahu kunci kebahagiaan?"


Laki-laki itu bertanya sambil menaikkan ujung Alisnya.


"Apa?"


"Nikmati hidup yang kamu jalani, apapun yang diberikan Allah bahkan jika itu Ujian terberat sekalipun maka tetaplah berfikir itu adalah cara Nya untuk berkata betapa Allah tahu dimana tempat kamu berada"


"Dan jika Allah sedang menguji kamu karena Allah sesungguhnya Allah SWT begitu mencintai Kamu"


"Satu kunci untuk menghadapi kehidupan di dunia fana ini, IKHLAS dan percayalah ilmu ikhlas itu sangat mahal juga sulit untuk di jalani"


Mendengar ucapan Azlan seketika Nadine terdiam, dia menatap bola mata laki-laki itu untuk waktu yang begitu lama.


"Apakah anak-anak tidak akan menjadi prioritas utama bagi kamu?"


Tanya nya pelan.


"Bukankah tadi aku sudah bilang, mau mendengarkan sebuah saran?"


"Apa?"

__ADS_1


Nadine mengerutkan keningnya.


"Bukankah kita belum mencoba nya? aku fikir aku harus Mengangkat pinggul kamu setelah kita berhubungan in..tim"


Mendengar hal tersebut seketika membuat Nadine menganga, wajah nya langsung memerah.


"Azlan....."


Gadis itu spontan langsung memukul lengan Azlan dengan perasaan kesal.


"Yakkkk"


Pekik gadis itu sekali lagi.


"Bisa-bisa nya..."


Melihat ekspresi Nadine seketika Azlan berusaha menahan tawanya, dia mencoba menahan pukulan Demi pukulan yang di berikan Nadine pada lengan dan dada nya.


"Liebe ini menyakitkan"


Kali ini Azlan bicara sambil berusaha menahan gerakan Nadine, laki-laki itu kemudian menggenggam kedua tangan Nadine dan meletakkan nya ke belakang punggung gadis tersebut.


Niat nya hanya untuk melindungi diri tapi...


"Ada apa?"


Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka.


"Apa ada sesuatu yang buruk...oh god..."


Mommy Hazel tiba-tiba masuk ke dapur di iringi oleh suaminya.


Melihat posisi kedua orang tersebut seketika membuat mereka terkejut.


Daddy Ozvit langsung menutup kedua mata istri nya.


Nadine jelas gelagapan, langsung melepaskan genggaman tangan Azlan dan berusaha untuk turun dengan ekspresi wajah malu.


"Kalian ini benar-benar... Daddy bilang jangan terlalu lama menundanya, itu tidak baik,.kita akan membicarakan tanggal pernikahan nya dengan cepat"


Mendengar ucapan Tuan Ozvit seketika Nadine gelagapan.


"Ini tidak..."


Dia ingin bilang ini tidak seperti yang mereka bayangkan.


Tapi Azlan buru-buru menyela dan berkata.


"Mari pergi ke kekuarga Hillatop akhir Minggu ini"


"Apa?"


Gadis itu jelas tercekat.


"Itu ide yang bagus"

__ADS_1


Daddy Azlan langsung mengembangkan senyuman nya diiringi oleh istri nya.


Tunggu dulu ..bukan begitu.


__ADS_2