Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Punggung Kokoh dan hangat yang sama


__ADS_3

Nadine terlihat sedikit terkejut saat dia sadar kemana Azlan membawa dirinya, laki-laki tersebut ternyata telah menyiapkan sebuah motor yang katanya untuk destinasi mereka berkeliling kota Jakarta malam ini.


Seketika Nadine tertawa kecil.


"Bisa naik motor?"


Goda nya pada sang suami.


"Tentu saja, aku ingin melakukan ini sejak berbulan-bulan yang lalu"


Jawab Azlan mantap.


"Kenapa tidak membawa ku dari dulu? jalan-jalan menggunakan motor jauh lebih indah ketimbang naik mobil"


Protes Nadine cepat.


Sebenarnya pilihan motor jauh lebih nyaman ketimbang mobil, bahkan dia fikir kemana-mana menggunakan motor bahkan jauh lebih cepat dan praktis.


"Belum menjadi mahram, itu terlalu menempel dan tidak memiliki jarak pasti, apalagi kondisi Body motor yang ..."


Azlan menggerakkan tangannya sedikit miring ke depan, menunjukkan bagaimana kondisi motor tersebut memiliki jok yang jelas sangat terlalu menukik tajam ke depan, bukankah itu terlalu ekstrim pikir nya.


"Mereka bisa menempel dengan buruk di punggung ku untuk waktu yang lama"


Ucap Azlan lagi sambil melirik kearah bagian dada Nadine.


"Ah?"


Nadine sedikit terkejut sembari mengerutkan keningnya, dia melirik ke arah dimana bola mata Azlan tertuju.

__ADS_1


"Aishhhh"


Seketika Nadine langsung menutup kedua dada nya seolah-olah sadar apa yang dimaksud oleh suaminya.


"Kak...."


Dia langsung memukul lengan Azlan dengan geram, sedikit malu dengan ucapan suami nya.


"Aku bicara apa adanya"


Laki-laki ini!.


Nadine pikir bisa-bisanya sang suami bicara begitu jujur kepada dirinya, hal itu jelas membuat dirinya malu, bagaimana tidak saat Azlan mengatakan soal dada dan melirik kearah dada nya bayangkan bagaimana wajah nya terasa memanas saat ini.


"Nad...aww...maafkan aku"


jika belum menikah, jalan-jalan menggunakan motor dihadapan nya itu jelas terasa begitu buruk, bayangkan bagaimana saat Nadine berada di belakang nya ketika mereka pergi jalan-jalan menggunakan motor tersebut.


Biasanya hal lumrah pasti terjadi, sesuatu di depan para gadis akan menempel di punggung laki-laki.


Mungkin laki-laki lain mengharapkan nya, tapi dia jelas bakal merasa risih sebab mereka belum memiliki ikatan apa-apa, hal tersebut bisa mengundang sesuatu yang buruk untuk ukuran laki-laki sedewasa dan Sematang dia.


Meskipun dia tidak pernah memikirkan nya dengan gadis lain atau perempuan lain, tidak bisa dia bohongi bagaimana sebenarnya perasaan nya tiap kali melihat wajah Nadine.


Bohong besar jika jika dia tidak memiliki Hasrat yang tertahan didalam dirinya saat dia melihat Nadine atau bersama gadis itu agak lama, karena itu selama mereka bersama dia mencoba memasang jarak terbaik agar Hasrat didalam dirinya tidak meledak-ledak ketika belum saatnya gadis tersebut sah menjadi miliknya.


Dia typekal laki-laki yang cukup sabar dan tidak tergesa-gesa, tapi jika dipancing terus menerus dia takut setan berbisik di balik telinga dan membuat dia khilaf sebelum pernikahan mereka.


Maka terlaknat lah dirinya yang tega menyentuh gadis yang belum halal untuk nya.

__ADS_1


karena itu mengendarai motor bersama Nadine sebelum mereka menikah jelas bukan pilihan yang bijaksana, dia mencoba menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi sebelum kata sah mengikat mereka berdua dan malam ini dia pikir ini boleh jadi waktu nya.


"Kemarilah"


Azlan bicara sambil mengulurkan tangannya, laki-laki tersebut kini sudah duduk di atas motor tersebut.


Bisa Nadine lihat betapa gagahnya laki-laki tersebut ketika duduk dengan tubuh tegap nya di atas motor besar dihadapan nya itu.


Bayangkan bagaimana jantung gadis itu terus mengeluarkan detakan nya yang tidak beraturan, dia pikir apakah salah jika dia benar-benar jatuh cinta pada sosok laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut?!.


Nadine secara perlahan memberikan tangan nya dan membiarkan dirinya duduk secara perlahan tepat dibelakang Azlan, setelah memastikan dia telah duduk tepat dibelakang laki-laki tersebut, Azlan kemudian menoleh kearah belakang lantas berkata.


"Berikan pelukan mu pada ku"


Dengan gerakan ragu-ragu Nadine mencoba melingkarkan tangannya ke pinggang Azlan, kini seolah-olah dia baru tahu betapa penuh nya lingkaran tangan nya yang memenuhi pinggang laki-laki tersebut.


Hangat.


Itu kalimat pertama yang ada di dalam kepalanya.


Kokoh.


Lanjut nya.


Persis seperti tubuh Daddy nya dimasa anak-anak nya ketika dia sering memeluk laki-laki tersebut dimasa lalu.


Nadine seolah-olah benar-benar menemukan satu perasaan nyaman yang mendalam, setelah rasa nyaman nya atas punggung hangat dan kokoh Daddy nya dimasa lalu, kini dia merasakan satu perasaan yang sama persis di punggung laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut.


Seulas senyuman mengembang dibalik wajah Nadine, dia semakin mempercepat pelukan nya tatkala Azlan mulai melajukan motornya.

__ADS_1


__ADS_2