
Begitu Gadis tersebut melangkah turun dari lantai atas masih dengan rambut basah yang tergerai indah serta baju kaos oblong yang manis dan celana jeans pendek, seketika membuat bola mata Azlan tidak bisa lepas dari sosok Nadine.
Satu perasaan menghantam dirinya Seolah-oleh ada magnet tertentu yang menarik diri nya dan berkata betapa dia mulai...
Gila..!.
Azlan mencoba membuang pandangannya.
Gadis itu bisa membuat dia mulai tergila-gila.
"Kenapa kamu kemari tiba-tiba?"
Nadine bertanya sambil menyentuh pelan tengkuknya, gadis itu berusaha duduk didepan Azlan tepat di atas kursi makan.
Gadis itu jelas merasa sedikit malu apalagi saat mengingat bagaimana kejadian di beberapa waktu sebelumnya.
Bisa-bisa laki-laki itu melihat nya dalam keadaan Bangun tidur, menguap sambil merentangkan kedua tangannya.
Wajah sembrawut dan rambut acak-acakan, baju tidur yang berantakan dan....
Ahhhhhh
Bisakah aku mengulang waktu ya Allah?!.
gadis itu memejamkan bola matanya m
Seketika Nadine rasanya ingin tenggelam kedalam lumpur Lapindo paling terdalam.
Jangan dink, itu berbahaya.
Gadis tersebut menggeleng kan cepat kepalanya.
"Hanya ingin datang dan menikmati makan pagi bersama"
dan di tengah kegelisahan serta rasa malunya, Nadine fikir bisa-bisa nya Azlan menjawab segala sesuatu dengan begitu datar dan tenang nya.
Dia benar-benar golongan Eskimo yang tinggal di kutub Utara.
Rutuk Nadine.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin membuat kan aku teh hangat?"
Azlan tiba-tiba bertanya pada Nadine.
"Ya?"
Gadis itu sedikit terkejut, menatap Azlan dengan perasaan bingung.
Dia baru akan bicara pada pelayan nya, tapi Azlan kemudian kembali berkata.
"Bukankah ini latihan? saat menikah kamu akan terbiasa melakukan nya, aku suka ketika istri ku yang menyediakan teh langsung dari tangan nya, itu akan menjadi ladang pahala"
Bayangkan bagaimana wajah Nadine memerah saat ini, gadis itu melirik kearah pelayan nya.
Kata menikah dan istri membuat dia serba salah, orang-orang tahu nya di akan menikah dengan Bill Rowland tapi yang bertindak dan bicara begitu blak-blakan malah Azlan Del Piero.
Sang Pelayan yang tengah menyiapkan sarapan pagi ikut melirik, sebenarnya sudah bukan rahasia lagi jika laki-laki di hadapan nona nya itu akan menggantikan posisi tunangan asli sang nona.
Apakah mereka mencemooh dan menggosip perihal tersebut?!.
Tentu saja tidak.
Bahkan laki-laki itu pernah ingin melecehkan salah satu pekerja di kediaman utama Hillatop saat laki-laki itu berkunjung bersama Nadine.
Tapi tidak ada yang berani buka mulut soal Laki-laki tersebut, siapa yang akan percaya ucapan seorang pembantu?!.
Apalagi laki-laki itu memiliki Ayah seorang pengacara yang cukup terkenal.
Jadi pada akhirnya orang biasa akan kalah pada pertentangan dengan orang yang memiliki segala-galanya.
Jadi begitu pernikahan sang nona terdengar di akan ditukar bayangkan bagaimana perasaan semua orang.
Apalagi laki-laki itu seorang laki-laki dari keluarga yang terkenal dengan kedermawanan serta memiliki adab yang begitu baik.
Meskipun belum tahu bagaimana laki-laki itu, tapi melihat bagaimana sosok laki-laki itu datang dengan penuh kesopanan, membuat perempuan berusia 45 tahunan itu yakin, Azlan Del Piero memang pantas menjadi suami seorang Nadine Hillatop.
Seolah-olah tahu dua orang tersebut mungkin butuh waktu berdua, Perempuan tersebut buru-buru pamit untuk membersihkan kamar sang nona.
"Aku akan membuat kan teh nya
__ADS_1
Nadine bicara sambil kembali menyentuh Tengkuk nya, dia bergerak menuju ke arah kitchen set, mulai mencari gula, teh dan cangkir.
Dia jelas bingung karena tidak pernah melakukan pekerjaan seperti itu sebelumnya, jadi Nadine bahkan tidak tahu dimana susunan barang-barang yang dia cari.
Dimana?!.
Batin Nadine.
Melihat kebingungan gadis tersebut Azlan terlihat mencoba menahan senyuman nya, laki-laki itu berdiri dari posisi duduknya, secara perlahan dia mendekati gadis tersebut lantas kembali berbisik.
"Aku akan bantu mencari nya"
Ucap laki-laki itu pelan lantas seolah-olah sudah menjadi kebiasaan nya, Azlan mengangkat tubuh Nadine agar naik ke atas meja kitchen set dapur.
gadis itu terkejut, ingin protes tapi tiba-tiba Azlan membiarkan dada nya nyaris menyentuh hidung Nadine, laki-laki itu meraih sesuatu di atas kitchen set, gula dan teh sedu.
Azlan menurunkan tubuhnya, dia sedikit menjongkokkan tubuhnya secara perlahan hingga membuat Nadine memundurkan tubuhnya dengan refleks.
Posisi mereka benar-benar terasa buruk,. seolah-olah mereka siap ber..cinta di atas meja.
"Azlan..."
Gadis itu tercekat, tangan kanan nya mencoba menahan dada Azlan.
Alih-alih peduli dengan ekspresi wajah Nadine yang memerah, laki-laki itu berkata.
"Sedikit gula"
laki-laki itu semakin merapat kan wajah mereka, seketika Nadine semakin mendorong dada Azlan, dia memejamkan bola matanya saat dia merasa nafas Azlan semakin dekat dengan wajah nya.
"Aku belum bilang selamat pagi sejak tadi"
Kemudian bisa dia rasakan Azlan mulai beranjak pergi dari hadapan nya.
Seketika Nadine membuka bola matanya, melihat punggung Azlan mulai menjauh wajah nya kembali memerah, gadis itu fikir apa tadi yang dia pikirkan.
Ohhhh....!!!
Nadine buru-buru menepuk-nepuk pipinya karena malu.
__ADS_1