Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Laki-laki datar dan dingin


__ADS_3

Seketika Nadine mendengus mendengar ucapan Azlan.


Bisa-bisa nya?!.


Gadis itu berdiri, langsung mencoba mensejajarkan tubuh nya tepat dihadapan Azlan.


"Apa kamu sedang meragukan kemampuan ku?'


Tanya gadis itu sambil menatap tajam balik bola mata laki-laki dihadapan nya itu.


Tidak kompeten? tidak memiliki kemampuan? tidak profesional?.


Yang benar saja.


"Tidak begitu meragukan, hanya saja ini kali pertama aku bekerja sana di Indonesia dengan seorang perempuan muda, cukup lucu karena di hari pertama seharusnya kita bekerja sama tapi kamu tiba-tiba mencoba membatalkan semua kesepakatan"


Azlan suka tatapan tajam yang diberikan gadis itu pada nya seolah-olah mata itu mampu membunuh siapapun lawannya tersebut.


"Aku hanya merasa tidak nyaman harus melakukan kerjasama dengan orang asing yang tidak seharusnya aku hadapi, sejak awal seharusnya bukan tuan yang berdiri disini'


Mendengar ucapan protes Nadine, seketika membuat Azlan menaikkan ujung alisnya.


"Apakah bekerjasama dengan laki-laki tidak asing akan memudahkan kamu untuk melakukan interaksi?"


Sebenarnya cara Azlan melemparkan pertanyaan mungkin salah, dia bermaksud untuk bertanya apakah gadis itu tidak nyaman karena dia menganggap Azlan laki-laki asing yang tidak dia kenal sebelumnya


Tapi Nadine seperti nya salah menerima ucapan atas pertanyaan yang Azlan lemparkan.


"Apa? Apa kau fikir kemampuan ku selama ini karena aku menjual tubuh ku bukan kemampuan ku? kau menganggap ku menerima kerjasama karena aku pandai merayu?"

__ADS_1


Seketika bisa dia lihat rona kemarahan dibalik wajah cantik tersebut.


"Ya?"


Azlan jelas terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Nadine.


"Kau benar-benar suka merendahkan orang lain"


Ucap Nadine lagi dengan sedikit mendengus kesal.


Bagi nya ini kali pertama dia di rendahkan oleh seseorang karena orang itu meragukan kemampuan nya.


"Aku fikir ini kesalahpahaman, nona Nadine"


Ucap Azlan cepat.


Azlan tahu Nadine pasti seorang perempuan yang kompeten, hanya saja dia mencoba menekan gadis itu agar tidak keluar dari proyek tersebut.


Dia ingin mereka terlibat kerjasama didalam perkerjaan tersebut maka dengan begitu akan mempermudah dirinya untuk terus dekat dengan gadis tersebut.


"Kesalahpahaman? aku fikir kalimat yang tuan lontarkan cukup jelas untuk menyudutkan diriku"


Apa dia harus berdebat dengan gadis tersebut?.


Come Azlan bisa membuat mati kutu gadis lain dengan mulut pedas nya tapi tidak dengan gadis dihadapannya.


"Tidak menyudutkan sama sekali, aku hanya ingin tahu dimana letak ke profesional'an seorang penerus Hillatop setelah dia menandatangani surat kerjasama nya, apa kamu lupa? kamu telah menandatangani semua kontrak kerjasama nya"


Ucap Azlan sambil menaikkan map coklat yang ada ditangan kanan nya.

__ADS_1


"Aku fikir kita sudah tahu konsekuensi terbesar nya atas salah satu dari kita mencoba untuk membatalkan kontrak kerja sama nya?"


Azlan kini menaikkan Ujung bibir nya, lagi... dia suka membuat gadis itu tertekan dengan situasi tanpa pilihan yang bijak.


Nadine seketika terdiam, menatap bola nata indah di hadapannya itu dengan perasaan yang berkecamuk menjadi satu


Dia fikir bagaimana bisa dia bertemu dengan laki-laki model begini didalam seumur hidup nya?.


Seseorang dengan karakter yang sangat tidak menyenangkan.


Kata-kata dingin dan datar yang dilontarkan selalu terdengar menekan tanpa perasaan.


"Baik... mari kita teruskan urusan kerja sama nya dengan cara profesional, kamu bisa melihat sendiri hasil akhir dari proyek yang akan kita sepakati"


Jawaban tegas penuh rasa kesal bercampur aduk menjadi satu didalam diri Nadine.


Anggaplah dia gila karena menyetujui kerjasama ini, Nadine berharap setelah proyek kerjasama ini selesai, dia tidak dipertemukan lagi dengan laki-laki tersebut.


Bahkan dia tidak berharap mendapatkan jodoh type model laki-laki begini.


Tidak bisa dia bayangkan bagaimana seorang perempuan bisa hidup dengan type laki-laki model begini dalam seumur hidup mereka.


Datar, dingin dan tanpa ekspresi.


Mungkin laki-laki itu bahkan tidak tahu bagaimana cara nya memanjakan kekasihnya.


Benar-benar membosankan.


Umpat Nadine dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2