
"Kalau begitu aku akan biarkan mereka mencetak undangan nya secepat nya, dengan begitu kita bisa langsung menyebarkan undangan nya besok"
Ucap Azlan cepat.
Laki-laki tersebut bicara kemudian memilih Duduk di atas kursi yang ada di dekat jendela kamar Nadine.
"He em, waktunya cukup terjepit, semua harus sudah selesai besok hingga kita bisa menyebar kan undangan nya dengan cepat"
Nadine langsung menyetujui ucapan Azlan.
dia pikir waktunya memang benar-benar terjepit mereka harus menyelesaikan undangannya secepat mungkin sebab jika tidak takutnya mereka tidak bisa mengejar menyebarkan undangannya dengan cepat karena waktu yang begitu mendesak.
"Aku pikir kita akan butuh bantuan Kak ahem dan hayat untuk membantu menyebarkan undangan nya"
Lanjut Nadine lagi.
"Itu ide yang cukup baik"
Azlan menjawab dengan cepat, Laki-laki itu terlihat meraih dompet nya, dia tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet milik nya yang mendominasi berwarna hitam tersebut.
Nadine sedikit mengerut kan keningnya saat Azlan mengeluarkan sebuah kartu yang tidak asing ke hadapannya.
Azlan memberikan sebuah kartu hitam kepada diri nya.
"Ini untuk apa?"
Tanya gadis itu sedikit bingung.
__ADS_1
"Simpanlah, sebab setelah menikah semua hal kamu yang akan mengatur nya"
Setelah berkata begitu Azlan langsung berdiri dari duduknya.
"Bukankah ini terlalu cepat?"
tanya Nadine.
Dia pikir jelas ini terlalu cepat sebab dia pikir mereka bahkan belum sah menikah.
"Aku tidak menganggap ini terlalu cepat tapi bagi ku ini waktu yang tepat"
Jawab Azlan sambil berjalan mendekati Nadine.
"Simpanlah dan gunakan lah setelah kita sah menjadi sepasang suami istri"
Mendengar ucapan Azlan, Nadine terlihat masih ragu-ragu menerima kartu hitam tersebut.
"Mau pergi jalan-jalan malam ini?"
Tanya Azlan lagi kemudian, dia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Mendengar ucapan Azlan seketika Nadine diam, dia menyimpan perlahan kartu tersebut kedalam dompet nya kemudian dia langsung mengembang kan senyuman nya, lagi terbesit sebuah ide manis dikepala nya.
"Aku yang menentukan pilihan tempat jalan-jalan nya boleh?"
Mendengar permintaan Nadine, Seketika Azlan menaikkan ujung alisnya.
__ADS_1
"Itu terdengar sedikit mencurigakan"
Tiap kali gadis itu yang memberikan ide lokasi atau tempat yang akan Mereka kunjungi percayalah selalu saja berakhir pada tempat ekstrim yang membuat Azlan sedikit gelagapan.
Alih-alih menjawab Nadine malah tertawa kecil.
"Apa wajah ku menampilkan hal yang begitu mencurigakan?"
Ucap Nadine kemudian, dia masih terus tertawa kecil sambil meletakkan konsep undangan serta tas yang ada ditangan nya ke atas kasur Milik nya.
"Sedikit"
Jawab Azlan sambil menatap dalam wajah Nadine, dia selalu begitu suka melihat ekspresi Nadine yang jika tertawa selalu begitu lepas dan seperti tanpa beban.
Harapan Azlan tidak banyak, selama di kehidupan setelah pernikahan mereka nanti dia selalu Mampu membuat gadis tersebut tertawa seperti hari ini, tidak membuat Nadine sekalipun meneteskan air matanya atau bahkan kecewa karena tidak bahagia.
Dia berharap dia bisa menjadi seperti Daddy nya, yang begitu mencintai Mommy nya sejak pertama pernikahan mereka bahkan hingga hari ini dan tidak pernah berpaling atau mengubah perasaan di hatinya.
"Masih takut dengan makanan ekstrim?"
Gadis tersebut bertanya sambil memicing kan bola matanya.
"Tidak juga, hanya saja berbaur di keramaian masih belum membuat ku terbiasa"
Mendengar jawaban Azlan seketika membuat Nadine mengulum senyuman nya.
"itu respon biasa yang terjadi kepada manusia, kita yang tidak biasa suka keramaian memang akan kesulitan berbaur ditempat seperti itu, tapi lama-lama kita akan terbiasa, sama seperti aku dan kamu yang awalnya tidak biasa bersama lama-lama akan terbiasa bersama"
__ADS_1
Setelah berkata begitu, Nadine bergerak mendekati Azlan, kemudian dia menyentuh lembut kerah baju laki-laki tersebut dan merapikan nya secara perlahan.
"Ada aku di setiap langkah kamu nanti,jangan takut soal apapun, sebab kita bersama untuk saling menggenggam tangan antara satu dengan yang lainnya"