Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Pagi yang manis


__ADS_3

Setelah memastikan dia telah menggunakan seluruh pakaiannya, Azlan bergerak menuju Ke arah lantai bawah, berjalan turun melewati satu persatu anak tangga, kemudian dia mulai mendekati meja makan.


laki-laki tersebut kini telah duduk di atas kursi yang menghadap meja makan persegi, dia meraih secangkir teh hangat yang telah disiapkan oleh pelayan sejak tadi, sejenak bola mata Azlan memperhatikan pinggiran cangkir teh tersebut, laki-laki tersebut memastikan tingkat kebersihan apapun yang akan dia minum atau dia makan.


"Apakah ada yang ingin tuan makan di waktu siang ini?"


Seorang pelayan bertanya pada Azlan sambil menunggu jawaban nya.


Sejenak laki-laki itu diam, dia ingat akhir Minggu depan, yah...dia memberikan Nadine waktu satu Minggu untuk memutuskan menerima atau menolak keinginan nya, dan di weekend kali ini dia bahkan tidak memiliki kegiatan sama sekali.


Dia fikir seharusnya kemarin dia bilang 2 hari!.


Bukankah itu akan mempercepat semua urusan?!.


Tapi ngomong-ngomong apa hubungannya dengan akhir Minggu kali ini?!.


Ah sudahlah, Azlan fikir belakangan dia lebih Persis seperti laki-laki yang kehilangan akal warasnya karena jatuh cinta dengan seseorang.


"Bisakah bibi memberikan aku sebuah saran?"


Tanya Azlan kemudian.


mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang tuan nya, jelas saja membuat wanita tua itu mengerutkan keningnya.


Semua orang tahu laki-laki tersebut bukan type orang yang mau meminta saran pada orang lain, apalagi pada dirinya yang tua itu.


"Anda bisa bertanya dan saya akan menjawab nya semampu saya"

__ADS_1


Ucap wanita pelayan itu cepat.


*******


Mansion utama Nadine


Nadine terlihat duduk di atas kasur mendominasi berwarna putih Milik nya untuk beberapa waktu, dia sejenak melirik ke arah kaca tolet yang ada di depan nya, bisa dia lihat lingkaran bola mata panda 🐼 memenuhi mata indahnya.


Baru satu malam setelah ucapan Azlan yang berkata hanya memberikan dirinya Waktu berfikir 1 Minggu membuat tidur nya cukup terganggu.


Dia harus melakukan sholat istikharah, meminta petunjuk atas pilihan.


Mencoba mondar-mandir dalam keadaan tidak jelas sepanjang malam bahkan setelah itu kepalanya berdenyut-denyut tidak menentu, belum lagi dia harus berkutat dengan pekerjaan mengejar proyek bersama yang dia jalin dengan Azlan.


ditambah lagi dia harus memikirkan persoalan Bill Rowland juga Daddy nya.


Berasap-asap.


Untungnya dia fikir ini adalah weekend, jika tidak mungkin akan ada waktu nya dia bisa khilaf terlelap di kantor nya tanpa bisa di cegah kembali.


Nadine kembali mencoba untuk membaringkan tubuhnya ke atas kasur, dia fikir siapa tahu bola mata nya bisa di ajak bekerjasama tapi pada akhirnya semua harapan nya sia-sia.


Gadis itu pada akhirnya beranjak dengan cepat dari atas kasurnya lantas menyambar handuk yang ada di gantungan kemudian bergerak menuju ke arah kamar mandinya.


dia pikir membersihkan diri adalah pilihan yang paling tepat saat ini, setelah itu mungkin sarapan pagi akan menjadi pilihan selanjutnya.


Tapi belum juga dia sampai ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar bell 🔔 intercom di lantai bawah menggema hingga ke kamar nya.

__ADS_1


Dia bergerak memutar tubuhnya dengan enggan, masih menggunakan pakaian tidur nya serta kondisi rambut juga wajah yang acak-acakan gadis itu melangkah keluar dari kamar nya.


Bibi pelayan mungkin sudah membuka pintu depan, tapi Nadine secara spontan turun dan berfikir apa mungkin Mommy nya datang di jam segini.


Dia menguap dengan lebar, menutup mulutnya sejenak lantas bertanya pada sang bibi pelayan.


"Bik.. apakah itu Mommy?"


Tanya gadis itu sambil kembali menguap sekali lagi, dia merentang kan tangan nya sambil mencoba menatap kearah depan, mengintip sejenak karena tidak mendengar sahutan.


Tapi tiba-tiba satu suara mengejutkan dia dari balik telinganya.


"Aku baru tahu saat bangun tidur wajahnya se polos ini"


Hahhhh


Seketika Nadine tercekat, dia berbalik dan melihat Azlan Del Piero telah berada dirumahnya, Laki-laki itu mengembangkan senyuman terindah nya.


Gadis itu jelas tercekat seolah-olah masuk kedalam alam mimpi untuk beberapa detik lamanya, tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba dia menyadarkan dirinya dengan cepat, tanpa berfikir dua tiga kali dia berlarian panik dan histeris ke arah lantai atas menuju ke kamar dan kamar mandinya.


Brakkkkk


Nadine menutup pintu kamar mandinya dengan Detak jantung yang berdetak kencang tidak beraturan.


Tidakkkk


Kenapa dia ada disini sepagi ini?!.

__ADS_1


Pekik nya dalam hati.


__ADS_2