
"Maaf, anda...?"
Nadine bertanya dengan suara yang sedikit gugup.
Azlan langsung menoleh kearah gadis tersebut, dia terlihat memasang mimik wajah yang sangat aneh, laki-laki itu mengerutkan sedikit dahi nya kemudian berkata.
"Bisakah tidak menggunakan bahasa formal saat kita tidak berada di jam kerja, Nad?"
Laki-laki itu bicara dengan nada sedikit keberatan sebab sejak awal gadis tersebut terus-menerus menggunakan bahasa yang begitu kaku.
Anda, saya, tuan, nona dan entah apalagi yang enggan Azlan jabarkan satu persatu.
"Maaf"
Nadine bicara sambil bola matanya terus menelusuri lengan kiri Laki-laki tersebut.
Cukup sulit sebab sejak tadi Azlan terus bergerak, dia mencoba memutar tubuhnya dan pandangan nya, menyusuri ruangan tersebut dan masih berharap menemukan satu pintu rahasia, jendela rahasia atau lubang rahasia lainnya yang bisa membuat mereka keluar malam ini dari sana.
Cukup lama Azlan mencoba menyusuri ruangan tersebut hingga akhirnya laki-laki itu kembali mendekati Nadine.
"Aku tidak bisa menemukan sedikit pun titik terang untuk kita bisa keluar dari sini"
Nada suara laki-laki tersebut seolah-olah penuh penyesalan, cukup bingung bagaimana menjelaskan nya pada Nadine karena dia tidak bisa mendapatkan jalan untuk mereka keluar.
__ADS_1
"Bukan masalah, kita bisa tidur disini"
Nadine bicara sambil merapatkan kaki, dia fikir kenapa semakin malam cuacanya semakin dingin?!.
Biasanya ruangan yang lama tidak berpenghuni seharusnya terasa panas dan pengap, tapi ruangan tersebut terasa begitu dingin dan lembab.
Azlan melirik kearah Nadine, bisa dia lihat seperti nya gadis itu kedinginan.
"Apakah dingin?"
Laki-laki itu bertanya pelan, tidak menatap Nadine, dia lebih memilih memfokuskan pandangannya ke arah depan.
"He em"
Tiba-tiba Azlan bicara sambil menoleh kearah gadis tersebut, dia mencoba mengulurkan tangannya dan menunggu gadis itu membalas uluran tangan nya.
Seketika Nadine menatap lengan kiri Azlan, kali ini dia benar-benar melihat dengan jelas bekas luka tersebut.
Secara perlahan jemari-jemari indah gadis tersebut menyentuh lengan kiri laki-laki tersebut.
"Waktu SMA kamu sekolah dimana?"
Tanya Nadine tiba-tiba, dia melepas kan jemari-jemari nya dari lengan Azlan, gadis itu bertanya sambil mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
Mendapat kan pertanyaan seperti itu membuat Azlan menatap wajah Nadine untuk beberapa waktu.
"SMA ?"
Azlan menggerut kan kening nya.
Dia memikirkan soal SMA nya kamarin, sekolah elite dengan hasil tes sempurna untuk bisa masuk ke sana dan di isi rata-rata murid-murid nya selain ber prestasi jelas orang tua mereka memiliki kantong yang tebal.
meskipun Azlan bukan dari kalangan keluarga kelas bawah, dia benci dengan peraturan yang menyatakan hanya orang-orang ber uang yang boleh masuk ke sekolah Tersebut.
Pintar, di atas rata-rata, punya koneksi dan berkantong tebal.
Tidak heran Bill Rowland menyimpan dendam tersendiri saat berada di SMA mereka.
Padahal Azlan tidak menggunakan koneksi dan nama kekuarga nya, dia menyembunyikan identitas keluarga nya hingga kelulusan sekolah.
nilai-nilai bagus nya karena memang otak Azlan bekerja dengan baik dan diberikan anugerah oleh Allah.
Tapi laki-laki itu Bill Rowland merasa tiap kali Azlan mendapat kan berbagai macam penghargaan dan juara sekolah, Laki-laki itu merasa itu karena diam-diam Azlan menggunakan koneksi dan uang orang tua nya yang dirahasiakan.
Hingga akhir laki-laki itu berusaha untuk mengorek informasi soal siapa dirinya dengan berbagai macam cara.
"Jangan katakan kita berada di SMA yang sama?"
__ADS_1
Tanya Nadine tiba-tiba sambil menelisik bola mata Azlan untuk waktu yang cukup lama.