Hasrat Sang Milyader Dingin

Hasrat Sang Milyader Dingin
Masih belum terbiasa


__ADS_3

Masih di kamar utama Nadine


04.45 AM


Gadis cantik tersebut menggeliat pelan dari tidur nya untuk beberapa waktu, dia berusaha membalikkan tubuhnya sembari mencoba mencari bantal guling yang ada di sisi kiri.


Tapi sejenak Nadine mengerutkan keningnya karena seolah-olah dia sadar tidak menemukan bantal guling nya melainkan menyentuh sesuatu yang lembut di sisi kanan nya.


Lembut dan kenyal.


Hmmmmm lembut dan kenyal?!.


Nadine mengurutkan keningnya sembari baraba-raba apa yang ada di tangannya kembali.


Dada?!.


lagi dia berpikir seperti itu.


"Apa ada sesuatu yang salah, petunia?"


tiba-tiba terdengar suara dengan intonasi tenang dan sedikit berat di balik telinganya.


Hahhhhh?!.


Seolah-olah baru sadar dari tidur panjangnya, Nadine langsung membuka bola matanya lebar-lebar.


Laki-laki itu berbaring dengan posisi miring, membiarkan tangan kanan nya menopang kepala nya sendiri, tatapan hangat terlihat dibalik bola mata laki-laki tersebut, seolah-olah Azlan memang terjaga sejak beberapa waktu sebelumnya.


dan Nadine langsung memundurkan tubuhnya dengan cepat, dia nyaris terjatuh dari kasur nya saking terkejutnya dengan keadaan.


"Ow..ow... Nad ada apa?"


Azlan buru-buru menahan tubuh Nadine ager tidak terjatuh kebelakang, dia menatap gadis tersebut dengan ekspresi bingung.


"Azlan?"


Nadine terlihat sedikit tercekat namun sepersekian detik kemudian dia baru sadar mereka sudah menikah.

__ADS_1


"Oh... maafkan aku, aku lupa"


Gadis tersebut langsung menjawab dengan perasaan malu, dia menjitak keningnya sendiri sambil mengeluarkan ekspresi wajah yang sedikit memerah, dia fikir bagaimana bisa dia lupa jika mereka sudah menikah kemarin.


ini kedua kalinya dia berfikir mereka belum menikah.


"Masih terasa seperti mimpi?"


Azlan bertanya sambil berusaha untuk membenahi posisi, dia membiarkan Nadine bangun dari posisi nya juga.


"Rasanya begitu aneh"


Nadine tertawa kecil.


Yah aneh, dimalam-malam sebelum nya dia masih tidur sendirian, melakukan banyak hal sendiri bahkan dia tidak melihat sosok laki-laki manapun pernah masuk ke dalam kamarnya kali ini jelas saja terasa begitu aneh dan lucu sebelum tiba-tiba ada laki-laki yang begitu dia cintai tidur di sampingnya sambil menatapnya dengan tatapan yang begitu hangat.


Bahkan dia menyentuh dada laki-laki tersebut, meraba nya untuk beberapa waktu dan memeluknya tanpa sadar.


"Seiring waktu kamu akan terbiasa, ah tidak maksud ku kita akan terbiasa dengan kehadiran antara satu dan yang lainnya"


Ucap Azlan kemudian.


Nadine menyentuh lembut tengkuknya, dia mengangguk pelan masih dengan perasaan malu-malu.


"Ini jam berapa?"


Tanya Nadine pelan.


"Jelang subuh, mau berjama'ah bersama?"


Tanya Azlan kemudian.


Mendengar ajakan Azlan seketika Nadine menatap bola mata laki-laki tersebut dalam.


Ah pada akhirnya dia fikir ada juga laki-laki yang akan mengimami nya, dulu dia berharap Bill Rowland bisa melakukan nya, realita ilmu agama yang dia punya dan Bill Rowland miliki sama dangkal nya.


Impian nya menikah dengan laki-laki yang bisa mengimami dirinya dengan baik dan kini.... bagaimana mengungkap kan perasaan nya?!.

__ADS_1


Nadine buru-buru mengangguk kan kepalanya.


"Aku akan pergi membersihkan diri"


Gadis itu secepat kilat turun dari kasur nya, mencoba melangkah menjauhi Azlan menuju ke arah kamar mandi.


"Nad"


Tiba-tiba Azlan memanggil nya pelan.


"Ya?"


Gadis itu buru-buru menghentikan langkahnya sambil menoleh kearah laki-laki tersebut.


"Malam ini mau ikut dengan ku ke satu tempat?"


Tanya Azlan kemudian.


Nadine sejenak mengerutkan keningnya.


"Kemana?"


"Satu tempat yang sebenarnya sudah lama ingin aku tunjukkan pada mu"


Jawab Azlan kemudian.


"Itu membuat ku sedikit berdebar-debar"


Goda Nadine cepat.


Alih-alih menjawab Azlan terlihat mencoba mengulum senyuman nya.


"Aku senang saat melihat ekspresi kamu yang berdebar-debar, itu terlihat cantik"


Mendapatkan ucapan sang suami yang seperti itu jelas membuat Nadine tersipu malu, dia buru-buru membuang pandangannya sambil melangkah menuju kearah kamar mandi.


Wajah nya kembali merona sambil kedua tangannya mencoba menutupi kedua belah pipi nya.

__ADS_1


Dia belakangan terlihat pandai memuji dan merayu.


Batin Nadine.


__ADS_2