
Azlan masih menaikkan ujung alisnya, mencoba mendengar kan penjelasan gadis yang ada di hadapannya.
"Begini....Menikah itu urusan dua hati, dari awal seharusnya bukan Di atur dengan pertemuan, tapi di atur dari sini"
Nadine terus bicara, tangan kanan nya mencoba menunjuk ke arah dada Azlan.
Laki-laki itu sejenak mengerutkan dahinya, agak aneh rasanya ketika gadis itu menyentuh dadanya secara tiba-tiba.
"Hubungan dengan perjodohan jelas tidak akan berjalan dengan baik, kecuali sejak awal memang ada ketertarikan besar yang terjadi karena mereka punya persamaan, kecocokan atau karena pola fikir laki-laki nya menjadi jauh lebih dewasa dari perempuan nya"
Nadine berusaha mengembangkan senyuman nya.
"Aku tidak bilang pola fikir kamu tidak dewasa, tapi Realita nya karakter kalian akan berkembang seperti TOM AND JERRY, atau bisa aku kembangkan dengan istilah lebih tepatnya nya singa dan kancil"
Ucap Nadine lagi.
Mendengar kata TOM AND JERRY serta SINGA DAN KANCIL seketika membuat Azlan berfikir siapa TOM dan SINGA nya?.
Aku?!.
Oh shi..t.
Dia mengumpat tidak percaya.
Gadis ini!.
"Kau dengan karakter dingin,kaku, tidak hangat dan cukup garang dipadu dengan Frey dengan karakter lincah, liar, aktif dan cerewet"
Sialan, sudah ku duga.
Dingin?.
Kaku?!.
Tidak Hangat?!.
Kenapa dia seyakin itu di soal karakter ku?.
__ADS_1
Azlan ingin protes tapi dia berusaha menahan perasaan nya.
"Bisa kau bayangkan bagaimana hubungan kalian berkembang? bagaimana jadi nya saat terdapat perselisihan di antara kalian?"
Tanya Nadine sambil kedua tangannya meraih 2 gelas yang ada di atas meja, dia membenturkan kedua gelas tersebut secara perlahan.
Trangggg
Terdengar jelas bagaimana suara kedua gelas itu ketika beradu dan memekakkan telinga di seluruh ruangan yang mereka tempati saat ini.
Yeah aku tahu itu, karena itu aku tidak tertarik dengan perjodohan.
Batin Azlan pelan.
"Kau butuh karakter perempuan yang bisa mengimbangi kamu, bukan karakter perempuan yang harus dipaksa menerima sifat kamu atau kamu memaksakan diri untuk menerima sifat lawan kamu"
"Sebab realita nya hubungan harmonis dalam pernikahan itu dimulai dari Saling menerima kekurangan, saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya"
Nadine bicara sambil menatap dalam bola mata Aslan.
"Fikirkan lah kembali, menikah bukan hanya soal kamu butuh pendamping, memenuhi sek..dualis..me, mencetak keturunan, memenuhi keinginan orang tua"
"Kamu akan hidup bersama diri nya dari pagi bertemu pagi, membuat komitmen, membuat kesepakatan, bicara soal hari ini dan masa depan, saling berdiskusi dikala waktu luang, senggang atau tegang, menciptakan suasana rumah menjadi surga bukan neraka"
"Menikah impian seorang gadis, 1 kali tidak lebih, begitu gagal mereka bisa kehilangan arah, tidak bisa memperbaiki diri, tidak bisa mengaku mereka masih seorang pera.wan"
"Menikah itu soal menyamakan tujuan dari hubungan yang kalian bangun. Kalau kamu dan pasangan sudah mengenali kepribadian masing-masing dengan yakin, tentu kalian akan mudah untuk menyamakan langkah dan arah, Kalian bisa mudah menentukan visi misi dalam hubungan, rencana untuk ke depannya bagaimana, mau dibawa ke mana cinta kalian tapi jika sebaliknya maka hubungan itu akan terseret ke dua arah yang berbeda dan menimbulkan kehancuran bukan hanya pada hubungan kalian tapi kadang berdampak buruk pada hubungan dua keluarga besar"
Mendengar ucapan Nadine sejenak bola mata laki-laki itu tidak berkedip menatap bola mata gadis dihadapannya itu.
Satu hal yang laki-laki itu sukai ketika Nadine bicara, gadis itu selalu menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang langsung menuju ke lawan bicaranya, tidak bergerak, tidak melirik kekiri dan ke kanan juga tidak menunduk atau bahkan membuang pandangannya.
Dia tahu type dengan tatapan seperti itu memiliki memiliki kepribadian yang hangat pada orang lain di sekitarnya, percaya diri, mudah bergaul, dan memiliki kreativitas yang tinggi.
Tidak tahu kenapa baru kali ini dia suka dengan type perempuan yang bisa memberikan penjelasan panjang lebar namun membuat dia tertarik untuk menanggapi.
"Jadi saran ku mari hentikan soal perjodohan ini"
__ADS_1
Ucap Nadine sambil mengembangkan senyuman nya.
Sejenak Azlan menatap wajah gadis dihadapannya tersebut, ada satu senyuman licik yang tiba-tiba dikeluarkan oleh laki-laki tersebut.
"Tiba-tiba aku berfikir Untuk melakukan sesi kencan beberapa kali dengan karakter kuat seperti mu"
Jawab Azlan tiba-tiba sambil meraih gelas minuman yang ada di sisi kirinya.
Mendengar Jawaban Azlan seketika Nadine membulatkan bola matanya.
"Apa?"
Dia terkejut setengah mati.
"Kamu bisa memilih, membiarkan aku membicarakan soal kenyataan pada Uncle karena Dua putri nya menukar pertemuan nya? atau mari melakukan kencan sebanyak 3 kali dan penuhi 1 permintaan ku untuk menebus kesalahan adik Kembaran mu"
Bisa-bisa nya Azlan bicara se enteng itu.
"Kau ..ini sebuah ancaman?"
Nadine jelas menganga.
Konsep nya malam ini bukan berakhir begini, dia fikir kenapa jadi begini?!.
"Bukan ancaman, aku ingin kamu menilai apakah aku sosok yang dingin, kaku dan tidak hangat"
Nadine fikir apakah dia tersinggung dengan ucapan nya tadi?!.
"Waktu mu berfikir hingga kita menyelesaikan makan malam nya, nikmati makan malam mu, liebe"
Mendengar kalimat akhir Azlan seketika membuat wajah Nadine memerah.
Liebe merupakan bahasa Jerman yang berarti Sayang.
"Kau.."
Dia jelas kehilangan kata-kata nya.
__ADS_1
Nadine fikir siapa yang harus dia salahkan? Freya atau kebodohan nya sendiri?!.