
Pada akhirnya tautan bibir mereka kembali terjadi, ciuman manis kembali di Lesatkan Azlan untuk dirinya.
Bisa dia rasakan bibir tersebut bergerak begitu lembut di bibir nya, menautkan diri sembari tangan kanan dan kiri Azlan bergerak menyentuh Tengkuk Nadine.
Rasanya Nadine nyaris tidak bisa bernafas dengan baik sebab bagi nya ini adalah ciuman paling terlama yang dia dapatkan dari Azlan.
Entah berapa lama waktu berlalu Nadine tidak tahu hingga akhirnya ciuman di bibir Tersebut berubah menjadi sedikit memburu dan menggebu, bahkan ketika dia merasa tubuhnya di dorong Azlan ke atas kasur, Nadine yang sedikit terkejut malah memberikan akses pada suaminya, membuat lidah Azlan bergerak dengan cepat menyeruak masuk kedalam rongga mulutnya, mengajarkan Nadine untuk saling berbelit lidah.
Tidak ada rasa jijik yang terselip, melainkan rasa aneh yang semakin memacu perasaan aneh didalam tubuhnya, yang seolah-olah menjalar dan membuat dia minta disentuh lebih oleh Azlan.
Apalagi ketika tangan kiri Azlan tahu-tahu sudah menyentuh bagian dadanya, membuat Nadine seketika meringis dan mengeluarkan suara aneh yang tidak bisa dia tahan.
"Kak.."
Nadine mencoba menahan tangan Azlan yang awalnya menyusuri bagian perutnya melalui pakaian nya kemudian terus bergerak lincah ke dalam dadanya, suara Nadine benar-benar terdengar begitu memalukan, gadis itu sejenak menggigit bibir bawahnya.
Melihat Nadine berusaha menggigit bibir bawahnya membuat Azlan kembali menyambar bibirnya, menautkan nya Sejenak dan bergerak begitu manis, kemudian tautan di bibir mereka terlepas secara perlahan dan berpindah ke ceruk leher Nadine.
"Kak...aku"
Tangan kanan Nadine secara spontan menyentuh leher Azlan, dia memejamkan bola matanya saat merasa Azlan menghisap lembut ujung leher nya.
Rasanya aneh dan ketika hisapan terasa sedikit kuat, rasa nyeri namun Nikmat menghantam menjadi satu hingga membuat kedua tangan Nadine dengan refleks menyentuh rambut lembut Azlan.
Mereka bergelut di atas kasur mendominasi berwarna putih tersebut, dimana Azlan membiarkan Nadine berada tepat dihadapan bawah Kungkungan nya, Apalagi laki-laki tersebut hanya menggunakan handuk nya saja, membuat Azlan lebih mudah bergerak dan leluasa.
Percayalah apapun yang dilakukan Azlan pada diri nya, membuat Nadine tidak lagi mempedulikan rasa dingin mendominasi karena sapuan AC
Sebab dalam dalam beberapa waktu rasa dingin itu kini berubah menjadi rasa panas yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya, apalagi ketika jari dan lidah laki-laki itu terus membuatnya menggila karena permainan yang di suguhkan Azlan.
Bahkan cara Azlan yang begitu lembut membuat gadis yang belum berpengalaman itu seakan terbang melintasi waktu dan menginginkan lebih.
Entah bagaimana laki-laki tersebut seolah-olah tahu di bagian mana saja titik-titik kelemahan Nadine berada hingga bisa membuat Nadine menggila dengan sentuhan nya.
Azlan Terus bergerak lincah sambil sesekali kembali menautkan bibir mereka, menyesapnya dengan gerakan sempurnah, membiarkan gadis muda itu menge..rang dan me..Leng.. guh tiada henti, menciptakan suara-suara de..sa..han.. yang semakin membuat Azlan menginginkan lebih.
Bahkan tanpa Nadine sadari Azlan mulai membuka pakaian nya satu persatu, membuangnya ke sembarang arah di kamar tersebut.
Kemudian setelah memastikan tidak ada kain penutup yang melindungi tubuh indah Nadine, laki-laki tersebut mulai membiarkan bibirnya menjelajahi leher gadis itu hingga turun menuju ke dada nya.
"Ahhhh"
Suara Nadine semakin membuat Azlan bersemangat untuk bergerak membawa gadis itu menuju ke arah cakrawala.
Dan percayalah, saat sapuan Azlan secara perlahan pindah hingga ke perut, pusar dan turun hingga ke bagian bawah sana dimana laki-laki tersebut kini mencoba membuka berlahan kedua kaki gadis itu, membuat Azlan secara perlahan membiarkan lidah nya mulai bergerak ke arah inti nya, seketika membuat wajah Nadine merona, gadis itu terkejut dan mencoba untuk menolak gerakan nya.
"Kak?"
Azlan tidak menjawab, hanya bergerak berdasarkan keinginan nya, menahan kedua kaki Nadine agar tidak merapat.
Seketika Nadine mengencangkan genggaman nya saat lidah Azlan benar-benar bergerak dan bermain dibawah sana.
"Akhhhh"
Dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, ini aneh karena bagi Nadine ini untuk pertama kali bagi nya dan percayalah seolah-olah ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di atas perut nya saat ini, seolah-olah gelombang kenikmatan menghantam dirinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
Semakin lama laki-laki tersebut bermain dengan lidah nya di bawah sana, Nadine merasa milik nya benar-benar menjadi basah dan seolah-olah ada yang siap tumpah saat uni juga.
"No...kak..."
Nafas Gadis tersebut terlihat tersengal-sengal, dia semakin mengencangkan genggaman nya disisi kiri dan kanannya.
"Kamu bisa menumpahkan nya sekarang"
Bisa dia dengar suara laki-laki itu terdengar begitu hangat dan seksi, bicara pelan dari arah bawah sana.
Azlan tahu gadis itu sudah mencapai puncaknya karena itu dia membiarkan Nadine menumpahkan hasrat nya.
Dan dalam hitungan detik sesuatu benar-benar tumpah dengan sempurna dibawah sana, membuat Azlan menaikkan ujung bibirnya.
__ADS_1
Dan itu artinya Nadine telah bersiap untuk melakukan hal lebih saat ini juga.
Secara berlahan laki-laki itu kembali naik ke atas, mensejajarkan tubuhnya dengan Nadine da..da..mereka terasa saling bergesekan dan laki-laki itu menatap wajah lega Nadine yang dipenuhi keringat.
"Sudah siapkah?"
Tanya Azlan lembut sembari membenahi rambut gadis tersebut.
Alih-alih menjawab, Nadine hanya bisa menatap sendu wajah suaminya itu, dia tidak menjawab, hanya berusaha menyentuh lembut wajah Azlan, kemudian secara perlahan Nadine membiarkan bibir mereka kembali saling bertautan.
Dan Azlan jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, secara perlahan dibawah sana laki-laki itu membuka kedua belah paha Nadine dengan gerakan yang begitu lembut.
Awalnya Hanya terasa sebuah gesekan yang saling bergerak dengan pelan, dan dalam hitungan detik sesuatu dibawah sana memaksa menyeruak masuk, Nadine seketika tersentak, dia kaget tapi bibir Azlan kembali menautkan bibirnya dengan lembut, saking lembut nya tanpa sadar Azlan menciptakan 2 rasa berbeda antara di atas dan di bawah sana.
"Ahhhh?"
seketika Nadine mengeratkan pelukannya di punggung belakang Azlan, saat dia merasakan sesuatu dibawah sana tampak memaksa masuk hingga terasa begitu menyiksa.
"Kakk..akhhhh"
seketika air mata Nadine tumpah, dia buru-buru melepaskan pautan dibibir mereka, Nadine berusaha untuk menahan dada Azlan, membuat laki-laki itu menghentikan gerakan nya.
Seketika Azlan berhenti, dia menatap bola mata Nadine beberapa waktu.
"Apa aku menyakiti kamu?"
Tanya nya dengan ekspresi penuh rasa bersalah.
Bagaimana cara nya berhenti? dia sudah membenamkan Β½ milik nya dibawah sana, dia hampir merobek lapisan tipis didalam sana.
"Haruskah aku berhenti sekarang?"
Dia bertanya sambil terus menatap wajah Nadine, berusaha menghapus air mata istrinya.
Nadine menggigit bibir bawahnya, dia meringis pelan namun kemudian gadis itu menggeleng kan kepala nya.
"Ini menyakitkan, bisa kah kita bergerak lebih pelan kak? rasanya tubuh ku akan terbelah menjadi dua"
Ini pertama kali nya dia menangis menghadap seorang laki-laki.
sejenak Azlan mencium kening Nadine, dia masih belum berani bergerak.
"Kita akan mencoba nya lagi nanti"
ucapnya lembut, berusaha untuk melepaskan penyatuan mereka tapi secepat kilat gadis itu menahan getaran nya, Nadine memeluk Azlan pelan kemudian berbisik.
"Teruskan lah"
Azlan jelas mengerutkan dahinya
"Bukankah ini sudah setengah jalan?"
"Tapi..."
Azlan menggeleng kan kepala nya, namun secepat kilat Nadine berusaha menautkan bibirnya, mencoba mengabaikan rasa sakit di bawah sana.
Azlan terlihat ragu-ragu hingga akhirnya laki-laki tersebut mulai bergerak secara perlahan.
"Nad, mungkin ini akan sakit di awal, tapi percayalah ini akan baik-baik dalam beberapa waktu berikutnya"
bisik nya lembut kemudian mencoba menghentakkan dengan cepat sesuatu di bawah sana, kali ini dengan gerakan menuntut agar lebih cepat dan mudah.
"akhhh"
teriakan kecil itu terdengar kembali memenuhi telinga Azlan, lagi air mata Nadine kembali tumpah, belum sepenuhnya karena itu Azlan kembali menautkan bibir mereka, menghentakkan sekali lagi dibagian bawah sana.
"Akhhhhh"
Nadine melepaskan tautan bibir mereka,Kali ini teriakan itu terdengar lebih menyakitkan tapi dibawah sana jelas telah terbenam dengan sempurna.
__ADS_1
Bisa Azlan Rasakan sesuatu yang hangat terasa menggulung milik nya, secercah darah mengenai spray kasur tersebut.
semuanya benar-benar masuk secara sempurna diiringi rasa nyeri di bahunya karena gigitan dari Nadine yang dilakukan gadis itu tanpa sadar Secara spontan.
belum lagi rasa perih di punggung nya karena kuku-kuku indah gadis itu pasti telah menancap sempurnah di dalam kulitnya sama seperti milik nya yang telah masuk dengan sempurna di bawah sana.
Azlan hanya mampu menatap wajah nadine yang terpejam sempurna karena ringisannya.
"Maafkan aku, sayang"
bisiknya pelan sembari mencium kening Nadine dengan lembut, Nadine Seketika membuka bola matanya, tersenyum kecil menatap bola mata Azlan untuk beberapa waktu.
Kali ini dia merasa telah menjadi perempuan yang sempurna karena pada akhirnya satu-satunya nya harta paling berharga nya telah berhasil di ambil oleh laki-laki yang telah sah menjadi suaminya.
Air mata bahagia mengalir di balik pipi nya.
Percayalah, di jaman ini untuk seukuran anak gadis yang mampu menjaga harkat dan martabat nya di tengah pergaulan yang begitu mengerikan dan bebas sangat sulit, selain pendidikan orang tua, pemahaman akan arti sebuah kesucian sudah nyaris dilupakan.
"Aku akan bergerak lembut"
Saat Azlan berbisik seperti itu, Nadine mengangguk pelan, jelas rasa perih mendominasi saat Azlan mulai bergerak pelan, sangat tidak nyaman dan sakit, tapi Azlan dengan cepat menautkan bibirnya kembali dengan lembut, kemudian bibir itu kembali turun ke ceruk lehernya disaat dibawah sana terus berpacu dalam melodi, rasa sakit dan perih tiba-tiba menjadi sesuatu yang berbeda, seakan-akan membuat seluruh isi perutnya digelitik dan terbang melayang-layang, rasa berbeda penuh ke..nik..matan mengganti Seketika, membuat Nadine mencoba memegang erat kepala Azlan yang tahu-tahu sudah berada di antara kedua dadanya.
sesuatu yang menggebu dan bergelora memenuhi has..rat nya, rasa nikmat tiada terus menyelam dibawah sana.
mereka bergerak berpacu dengan keadaan, bahkan keringat saling mengucur deras di balik wajah dan tubuh mereka.
Semakin Azlan bergerak cepat di bawah sana semakin membuat Nadine berkali-kali mencoba berusaha mencari pegangan, ingin menarik apapun yang ada disana, namun jemari-jemari halus nya secara berlahan di raih ke dua tangan Azlan, laki-laki itu menggenggam nya erat seakan-akan takut terlepas, jelas saja Nadine balik menggenggam erat telapak tangan laki-laki tersebut seketika terasa sesuatu akan tumpah lagi di bawah sana.
"Kakk...?"
Nadine fikir dia benar-benar tidak bisa menahan nya
"Bersama"
Bisik Azlan kemudian.
Dan benar saja sepersekian detik kemudian sesuatu kembali tumpah diikuti dengan gerakan Azlan yang semakin cepat dan dalam dan selang beberapa waktu kemudian tahu-tahu sesuatu yang hangat menghantam kantung rahim nya.
Laki-laki tersebut mengeratkan genggaman nya untuk beberapa waktu hingga kemudian Azlan mulai melemaskan tubuh nya.
"Terima kasih"
Bisik laki-laki itu hangat.
"I love you"
Dan percayalah kalimat itu benar-benar kalimat yang paling Nadine sukai yang di ucapkan Azlan untuk dirinya.
"I love you too"
Jawab Nadine sambil masuk kedalam pelukan Azlan dengan wajah tersipu-sipu malu.
*****
Catatan \=
Maafkanlah hamba mu ya Allah, benar-benar berdosa ngasih adegan begini di pagi hariπππ€£π€£π±π±ππππ.
Maaf kan makkk kasih part Hareudang buat kalian nya agak telat ππ»ππ»π€π€πβ€οΈ.
love you selangit cakrawala makkkkkπ€π€π€
muachhβ€οΈβ€οΈβ€οΈππππππ
apalah outhor tanpa readers nya
apalah penulis tanpa pembaca nya dan
apalah saya tanpa kalian semua
__ADS_1
πππ€ππ