
Disisi lain
Nadine terlihat menggeliat pelan dari tidur nya, rasanya kepalanya saat ini berdenyut-denyut tidak menentu, tidak tahu kenapa tapi rasanya begitu sakit dan... entahlah.
Dia berusaha untuk membuka perlahan bola matanya namun rasanya begitu berat, seolah-olah kelopak matanya sama sekali tidak ingin terbuka sejak tadi.
Gadis itu berusaha untuk menggerakkan tubuhnya secara perlahan, tiba-tiba tangan nya menyentuh tubuh seseorang.
Nadine yang awalnya kesulitan membuka bola matanya jelas langsung terbelalak kaget saat dia ingat soal kejadian semalam.
No...!?.
Bill Rowland membuat seseorang menjebak dan menyeret dirinya menuju ke kamar laki-laki tersebut ketika dia mulai kehilangan kesadaran nya.
Ketika rasa cemas dan takut menghantam dirinya, seketika bola matanya terbelalak kaget saat dia sadar siapa yang ada dihadapan nya saat ini.
"Sudah merasa baikan?"
Suara bariton tersebut terdengar memenuhi gendang telinga nya, bola mata indah berwarna abu-abu persis seperti milik nya tersebut menatap nya begitu hangat.
Bisa dia lihat Azlan berbaring tepat di sisi kanan nya, menatap nya dengan posisi miring kesamping ditemani oleh bantal mendominasi berwarna putih.
Sejenak Nadine berusaha mengerut kan keningnya, dia fikir kenapa laki-laki itu ada di sini?!.
__ADS_1
Bukankah semalam?!.
Jutaan pertanyaan menghantam kepalanya.
Dia ingin berusaha bangun tapi tubuhnya terasa begitu lelah dan lemas.
Apakah sesuatu yang buruk terjadi?!.
Dia berusaha untuk bergerak secara perlahan.
"Jangan memaksa kan diri, tidak ada hal yang buruk terjadi, bukankah aku sudah pernah bilang? aku tidak akan melakukan nya meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun hingga ijab kabul terucap"
Kata-kata Azlan seketika membuat Nadine terdiam.
Gadis itu bertanya pelan kearah Azlan, membiarkan mata mereka saling beradu dan bertemu.
Mencari sesuatu didalam sana yang disebut dengan cinta.
Tidak ada hasrat karena emosionalisme sesaat atau keinginan memiliki karena gai..rah, hanya tatapan cinta tulus yang melumbah memenuhi pandangan mereka.
Bola mata mereka masing-masing menangkap bayangan tubuh mereka dimana didalam lingkaran nya terdapat sosok masing-masing yang saling mencintai atas dasar saling menghargai dan ingin memiliki.
Azlan bukan seorang laki-laki alim ulama yang hidup di jaman purba, dia hanya laki-laki biasa yang mencintai gadis yang telah lama terikat bersama dirinya dalam kisah masa lalu hingga dipertemukan kembali kemasa kini.
__ADS_1
Dia hanya laki-laki biasa yang cukup baik akhlak dan iman nya, masih memegang teguh prinsip tidak tergoyahkan untuk tidak menyentuh sesuatu yang di anggap nya haram seperti minuman atau pun rokok, tidak berkutat dengan dunia malam yang satu hari bisa membawa orang tua nya ke jalan pintu neraka.
Tapi tidak dipungkiri dia tidak menyentuh lembut tangan atau wajah gadis yang dia sukai tapi tidak pernah berfikir untuk meniduri nya sebelum kata sah terucap dari bibir semua orang setelah dirinya mengucapkan kata saya terima nikahnya.
Bahkan meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun seperti semalam, dia masih berlindung dibawah akal warasnya, menghargai Nadine sebagai seorang gadis baik-baik yang di besarkan dengan penuh cinta oleh orang tua nya.
Jadi dia masih tahu dengan jelas dimana batasan nya.
Meskipun dia akan melamar gadis itu dalam waktu dekat.
Karena hal yang paling harus ditakuti dimuka bumi ini saat dia tidak tahu kapan akal menjemput seseorang.
Jangan meninggalkan dosa dimalam hari dan mati dalam keadaan kotor serta hina Hingga menimbulkan fitnah.
"Bukankah aku sudah bilang? jangan pergi kemana pun tanpa pengawasan seseorang"
Ucap Azlan kemudian.
"Bill Rowland nyaris menyentuh mu jika semua orang tidak dengan cepat melindungi kamu, bahkan hayat terpaksa mengganti posisi mu semalam karena dia tidak lagi punya cara untuk mengulur waktu menunggu kedatangan kami"
Mendengar kata-kata Azlan yang berikutnya seketika membuat Nadine membulatkan bola matanya.
"Maksud nya?"
__ADS_1
Gadis itu jelas mengerut kan keningnya.