
Di sebuah padang yang tandus, Erlan berjalan menyusuri jalanan berpasir ini. Netranya mengedar ke seluruh penjuru, mencoba mencari tahu ada di mana dirinya itu. Namun seberapa kuat ia mencoba mencari tahu, tetap saja tidak ia temui jawabannya. Tempat ini sungguh sangat begitu asing di dalam penglihatannya.
"Ini aku ada di mana? Jika melihat keadaan sekitar, aku seperti sedang berada di negeri timur tengah di mana banyak terdapat padang pasir seperti ini. Namun mengapa aku bisa berada di sini?"
Sejuta pertanyaan berkecamuk di dalam benak seiring dengan tak ia temii jawabannya. Merasa lelah karena mencari jawaban, akhirnya Erlan memilih untuk menghentikan sejenak langkah kakinya. Ia duduk di hamparan pasir putih ini seraya mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah untuk mengusir rasa panas yang tercipta.
"Huh .... Tapi ini terasa panas sekali. Bagaimana kalau aku berjalan lagi saja. Barangkali tak jauh dari tempat ini aku menemukan oase."
Erlan mulai melangkahkan kaki menyusuri tiap sudut yang ada di padang tandus ini. Entah sudah berapa jauh jarak yang ia tempuh untuk mencari sumber air. Namun tetap saja tidak ia temui sumber air itu.
Saat ia ingin menyerah, tiba-tiba saja ekor matanya menangkap bayangan seseorang. Ia menajamkan indera penglihatannya untuk mengetahui siapa orang itu yang terlihat semakin mendekat ke arahnya.
"Kamu mencari ini bukan? Minumlah!"
"Mak Erot?" pekik Erlan dipenuhi oleh keterkejutan. Ia tidak fokus pada air minum yang diberikan oleh mak Erot tapi justru fokus kepada kedatangan mak Erot ini.
"Iya, ini Emak, Cu! Ambilah!"
"Sebentar-sebentar Mak. Ini aku sedang berada di alam mimpi kan?"
"Iya benar Cu. Memang kenapa?"
Kedua bola mata Erlan terbelalak. "Kata mak Erot, aku akan bertemu dengan cinta sejatiku di dalam mimpi. Tapi mengapa yang aku temui adalah Mak Erot? Apakah itu artinya..."
"Artinya Emak ini yang merupakan cinta sejatimu, Cu!"
"Apa?" Erlan menggeleng-gelegkan kepalanya. "Tidak, tidak, tidak. Itu tidak mungkin Mak. Mak jangan bercanda!"
Mak Erot tergelak seketika. "Haaha haha santai Cu. Mak hanya bercanda. Mak menemuimu karena ingin memberitahu sesuatu."
"Sesuatu? Sesuatu apa itu Mak?"
"Ada seseorang wanita yang saat ini sedang membutuhkan pertolongan. Segera datangi dia Cu. Dia sedang berada di dalam kepelikan hidup. Setelah kamu bangun dari tidurmu ini, segera temui wanita itu. Dialah yang akan menjadi cinta sejatimu!"
"Seorang wanita? Siapa itu Mak?"
Mak Erot tersenyum penuh arti. "Tidak perlu Mak jawab siapa orangnya. Karena kamu bisa menanyakan hal itu pada hati kecilmu. Ia akan membisikkan nama wanita itu!"
Belum sempat Erlan mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba saja bayangan wanita berusia senja itu menghilang. Seketika, Erlan terbangun dari lelap tidurnya.
"Dinda!"
Erlan berteriak lantang sembari menyebutkan sebuah nama. Ia sedikit terkejut karena tanpa diduga nama Dinda lah yang ia sebutkan. Hal itulah yang membuat Erlan bertanya-tanya.
"Mengapa nama Dinda yang aku sebut? Apakah maksud mak Erot wanita itu adalah Dinda? Jika memang Dinda, lantas apa yang sedang Dinda alami saat ini? Kesulitan apa yang dimaksud oleh mak Erot?"
__ADS_1
Erlan semakin bingung sendiri. Ia melihat ke arah luar jendela dari homestay yang ia tempati. Nampak hari masih gelap dengan rinai air hujan yang jatuh ke bumi.
"Sepertinya Dinda memang sedang dalam masalah. Aku harus segera mencarinya!"
***
Hujan masih turun dengan lebatnya. Mereka seakan berlomba-lomba menjatuhkan diri mereka di atas bumi tanpa henti. Meskipun jatuh itu sakit, namun mereka semakin membabibuta menghujam bumi manusia dengan keberadaannya.
Kilat-kilat petir terlukis di hamparan langit yang menghitam. Menimbulkan suara menggelegar yang sanggup menggetarkan panel-panel jendela.
Dug... Dug... Dug...
"Bayu, buka pintunya!"
Dug... Dug... Dug...
Dinda yang baru beberapa saat bisa tertidur pulas, kini seakan kembali diusik oleh suara pintu yang digedor dengan kasar. Kesadaran wanita itu seakan ditarik paksa untuk bersegera bangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjapkan mata dan sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa begitu kaku.
"Siapa orang-orang itu? Mengapa malam-malam seperti ini bertamu?"
Dengan menahan rasa kantuk yang teramat sangat, Dinda tetap memaksakan diri untuk membukakan pintu. Terdengar jelas di telinga wanita itu jika tamunya malam ini memanggil-manggil nama Bayu.
Ceklek....
Pintu terbuka dan betapa terkejutnya Dinda ketika melihat lima orang berbadan kekar bertandang di rumahnya.
"Aanda- Anda ini siapa?" tanya Dinda dengan suara bergetar. Baru kali ini ia berhadapan langsung dengan orang-orang yang dari perawakannya persis seperti preman. Di mana banyak tatto yang ada di tubuhnya.
Dinda sedikit terkejut. Sejak kapan mantan suaminya itu berteman dengan orang-orang dengan perawakan preman seperti ini.
"Bayu? Bayu tidak ada di sini."
Para preman itu terhenyak. "Tidak ada di sini? Jangan bohong kamu!"
"Benar. Bayu tidak ada di sini!"
Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dinda, tanpa basa-basi tiga diantara preman itu mulai merangsek masuk ke dalam rumah.
"Bayu! Keluar kamu! Jangan coba-coba lari dari tanggung jawab!" teriak salah satu dari preman itu.
Brak.... Brak... Brak!!!!
Dengan kalap, tiga preman yang masuk ke dalam rumah Dinda, mengacak-acak semua barang yang ada di dalam ruang tamu.
Meja, kursi, ditendang dengan kasar dan dijungkir balikkan. Ruangan yang sebelumnya terlihat begitu rapi, mendadak seperti kapal yang terbalik setelah dihantam oleh gelombang tsunami.
Dinda yang masih belum mengerti apa yang terjadi hanya bisa menatap heran apa yang dilakukan oleh para preman ini. Wanita itupun memilih untuk ikut masuk ke ruang tamu.
__ADS_1
"Sebenarnya ini ada apa? Mengapa Anda mengacak-acak rumah saya?" teriak Dinda dengan lantang.
Salah satu preman menatap lekat wajah Dinda. "Kamu istri Bayu?"
"Saya mantan istrinya dan sekarang dia sudah tidak tinggal di sini lagi."
"Lantas, mengapa kamu masih tinggal di sini?" tanya preman itu pula.
"Jelas saya tinggal di sini. Ini rumah saya. Memang salah jika saya menempati rumah saya sendiri?"
Para preman saling bertatap netra. Sejenak kemudian mereka terbahak bersama-sama.
"Ini rumahmu? Mana buktinya? Jika memang ini adalah rumahmu tunjukkan sertifikat rumah ini!"
"Tunggu sebentar. Akan saya ambilkan!"
Dengan langkah penuh percaya diri, Dinda melenggang memasuki kamar. Ia membuka almari dan mencari map yang berisikan sertifikat rumah.
"Kemana sertifikat itu? Rasa-rasanya aku simpan di sini!"
Dinda mengeluarkan semua isi pakaiannya berharap sertifikat itu terselip di salah satu lipatan baju. Namun sayang, sampai almari itu bersih dari pakaian, wanita itu sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari.
"Ya Allah ... Kemana sertifikat itu? Mengapa tidak ada?"
Mata Dinda tiba-tiba memanas. Hatinya berdegup kencang. Ia merasa ada hal buruk yang menimpanya.
"Jangan-jangan...."
"Bagaimana? Apa kamu temukan sertifikat itu?"
Belum selesai Dinda berspekulasi, tiba-tiba saja preman itu mendekati Dinda. Dinda sedikit terhenyak dan berbalik badan.
"Tunggu sebentar. Sepertinya saya lupa menaruhnya!"
Dinda mengayunkan tungkai kaki. Ia bermaksud untuk ke ruang tengah di mana ada meja televisi yang di bawahnya ada bermacam-macam berkas. Namun baru tiga langkah kakinya terayun....
"Kamu tidak akan pernah menemukan sertifikat itu karena sertifikat itu sudah ada di tanganku!"
Tubuh Dinda terperanjat seketika. Wanita itu bergegas menoleh ke arah para preman. Kedua netrnya terbelalak dan membulat sempurna kala sebuah map warna cokelat ditunjukkan oleh preman itu.
"I-itu....?"
"Ya, sertifikat rumah ini sudah diagungkan oleh Bayu untuk mendapatkan pinjaman dari juragan Agus. Bayu berjanji akan mengembalikan uang senilai tiga ratus juta rupiah selama tujuh hari namun jika sampai batas waktu itu dia belum bisa mengembalikan, maka rumah ini secara otomatis akan menjadi milik juragan Agus. Sedangkan hari ini sudah hari ke sepuluh. Itu artinya, rumah ini sudah menjadi rumah milik juragan Agus!"
"Apa???"
.
__ADS_1
.
. bersambung...