
Rembulan nampak membulat sempurna di kanvas langit malam ini. Cahayanya yang lembut, terasa merasuk sampai ke dalam dasar hati. Dinda mendongakkan kepala, memandang hamparan langit luas di atas sana. Nyaman dan terasa begitu tenang. Namun malam yang seharusnya bisa ia lewati dengan penuh kedamaian sedikit terusik dengan belum sampainya sang suami di rumah. Malam sudah semakin larut, namun sang suami belum juga pulang.
"Bagaimana Din, apa Bayu bisa dihubungi?"
Tak jauh berbeda dari Dinda, Sonya juga nampak begitu cemas. Biasanya pukul sebelas malam seperti ini sang putra sudah tiba di rumah, namun entah apa yang terjadi malam ini ia belum tiba juga.
Dinda menggeleng pelan. "Belum Bu, mas Bayu tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif!"
"Sebenarnya kemana Bayu? Tidak biasanya dia seperti ini. Atau jangan-jangan Bayu....?"
Kedua bola mata Sonya terbelalak penuh sembari ia tutup bibirnya yang menganga lebar. Sebagai isyarat bahwa wanita paruh baya itu teramat terkejut.
Dinda menyipitkan kedua bola matanya. "Jangan-jangan apa Bu?"
"Jangan-jangan Bayu kecelakaan di jalan Din?"
"Hah?!" pekik Dinda yang juga tak kalah terkejut. "Astaghfirullah ... Ibu jangan mengatakan hal itu. Ucapan kita adalah doa, Bu!"
"Lalu, Bayu kemana Din? Kemana Dia? Jam segini biasanya Bayu sudah ngopi di rumah. Kemana dia Din?"
Sonya sampai meninggikan intonasi suara yang menandakan ia terlampau panik dibuatnya. Bahkan wanita itu berkali-kali menggigit ujung kuku jari telunjuknya untuk meredam segala kecemasan yang ia rasa.
"Tenang Bu ... tenang. InshaAllah mas Bayu akan baik-baik saja."
"Tapi Din...."
Ucapan Sonya terpangkas kala deru suara mesin motor mulai merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Sonya dan Dinda sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang seketika membuat seutas senyum terbit di bibir mereka. Akhirnya, seseorang yang mereka nanti sudah tiba di rumah dalam keadaan selamat, utuh tanpa kurang satu apapun.
__ADS_1
"Syukurlah Mas, kamu sudah sampai di rumah. Dari tadi aku dan Ibu begitu cemas menunggumu."
Dinda berjalan ke arah Bayu yang masih berdiri di sisi motor untuk melepas helm dan jaket yang ia kenakan. Lelaki itu hanya menatap wajah Dinda sekilas dan setelah itu ia berlalu begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun. Bayu berjalan gontai, memasuki area dalam rumah milik Dinda.
Dinda dan Sonya saling bertatap netra. Menandakan bahwa keduanya teramat heran dengan sikap yang ditampakkan oleh Bayu. Tak ingin terlalu larut dalam spekulasi, mereka memilih untuk mengekor di belakang punggung Bayu.
"Mas ... ada apa denganmu? Mengapa kamu nampak kacau seperti ini? Apakah ada masalah yang sedang kamu hadapi?"
"Iya Yu, kamu ini sebenarnya kenapa? Biasanya, meskipun merasa lelah, kamu tidak pernah bersikap seperti ini, tapi mengapa sekarang kamu nampak tidak biasa?"
Bayu masih bungkam. Ia menatap wajah ibu juga istrinya bergantian sebelum akhirnya ia memilih duduk di kursi ruang tamu. Bayu memijit-mijit pelipisnya yang terasa begitu pening sembari membuang napas berat.
"Uangku dibawa lari oleh Sony. Aku ditipu!"
"Apa? Ditipu bagaimana Bay?" tanya Sonya dengan ekspresi terkejut setengah mati. Ia yang sebelumnya berdiri, kini ikut duduk di kursi untuk mendengarkan cerita sang putra secara lengkap.
"Ya uangku dibawa kabur oleh Sony Bu. Uang yang aku berikan untuk modal namun kenyataannya ia bawa lari!" jawab Bayu yang belum terdengar detail.
Saat ini Bayu yang terkesiap karena pada akhirnya, sesuatu yang ia sembunyikan akan terbongkar. Lagi, Bayu menunduk dalam dan mengusap wajahnya frustrasi.
"Uang tabungan dan uang pesangon yang diberikan oleh kantor, Din. Uang itulah yang dibawa kabur oleh Sony!"
"Apa?" seru Dinda yang semakin dibuat terkejut oleh penjelasan sang suami. "Jadi, selama ini kamu mendapatkan uang pesangon dari kantor tanpa aku tahu sedikitpun Mas? Dan sekarang uang tabunganmu juga sudah habis dibawa kabur oleh Sony semua? Begitu?"
Bayu mengangguk pelan. "Iya Din. Uang pesangon dan tabungan sudah ludes semua dibawa kabur oleh Sony. Dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak."
"Astaghfirullah hal 'adziim..." Tiba-tiba saja tubuh Dinda terasa gemeteran. Ia memilih untuk ikut mendaratkan bokongnya di kursi yang masih kosong. "Mengapa bisa begitu Mas? Untuk apa uang itu sampai kamu berikan kepada Sony, hah? Untuk apa?"
Dinda, wanita yang selama ini dikenal sebagai wanita yang selalu bertutur kata lembut, kini seakan berubah. Ia naikkan intonasi suaranya satu oktaf sampai membuat Bayu dan Sonya sama-sama terhenyak.
__ADS_1
"Yang itu aku berikan kepada Sony untuk modal judi online. Namun pada akhirnya dia bawa kabur semua uang itu!"
Dinda membelalakkan mata. "Judi? Ya Allah ...."
Dinda seakan tak lagi mampu untuk berucap. Ucapannya benar-benar tercekat di dalam tenggorokan. Ia benar-benar tidak habis pikir jika sang suami sampai mengambil keputusan untuk berjudi.
Bayu masih hening tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu. Namun sepertinya ia mulai menyadari semua kekeliruan yang telah ia lakukan.
"Aku semakin tidak mengenalmu Mas. Aku merasa kamu sudah jauh berubah. Dulu, rencana sekecil apapun yang kamu buat untuk masa depan kita, kamu selalu melibatkan aku. Tapi sekarang apa? Diam-diam kamu mendapatkan uang pesangon dan aku sama sekali tidak mengetahuinya dan kamu menggunakan uang itu untuk berjudi akupun juga tidak mengetahuinya. Kamu anggap aku ini apa Mas? Aku ini istrimu yang seharusnya tahu akan semua langkah dan rencana yang kamu ambil."
Rasa amarah, rasa kesal dan rasa kecewa, tergambar jelas melalui deru napas yang keluar dari mulut Dinda. Kali ini ia benar-benar kecewa dengan sikap yang ditampakkan oleh sang suami. Bayu seakan tidak menghargai posisinya sebagai seorang istri dan seakan tidak pernah menganggapnya ada.
"Dinda, kamu jangan bersikap kurang ajar seperti itu kepada Bayu, Din. Dia itu suamimu yang tidak pantas kamu bentak-bentak dan kamu teriaki seperti itu. Dosa kamu!"
Sonya yang sedari tadi terlihat bungkam dan hening, kini mulai bersuara. Wanita paruh baya itu nampak tidak terima dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang menantu yang terkesan kurang ajar.
Dinda terkesiap. Seketika ia sadar bahwa saat ini Bayu masih suaminya yang harus ia perlakuan dengan baik. Ia hanya bisa mengurut dada sembari menghela napas panjang untuk bisa mengurai rasa emosi yang sudah menguasai hati dan juga kepala.
"Astaghfirullah hal 'adziim .... tapi sikap mas Bayu ini benar-benar sudah keterlaluan Bu. Dia sudah menyembunyikan sesuatu dariku yang seharusnya aku berhak untuk tahu!"
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Lagipula kita bisa apa? Uang yang dibawa kabur oleh Sony tentu tidak akan pernah bisa kembali," tutur Sonya mencoba untuk mengakhiri permasalahan ini.
Dinda hanya terdiam dan membisu. Sesekali, ia melirik ke arah Bayu yang juga dalam mode terpaku. Dinda merasa benar-benar sudah tidak lagi mengenal sosok suaminya ini.
Jika perihal uang pesangon saja mas Bayu bisa menipuku, lalu hal apa lagi yang kemungkinan besar yang akan ia sembunyikan di belakangku, Tuhan. Sungguh, saat ini aku benar-benar seperti kehilangan sosok mas Bayu yang selama tiga tahun menjalani hubungan denganku.
.
.
__ADS_1
. bersambung...