Hati Yang Kau Lukai

Hati Yang Kau Lukai
Bab 75. Renternir


__ADS_3

"Apa, lusa kamu akan menikah?"


Raut penuh keterkejutan terlihat jelas di wajah Sonya setelah Bayu tiba di rumah di jam tiga sore ini. Masih belum mendapatkan jawaban akan ke mana perginya sang anak yang semalaman tidak pulang, kini ia justru semakin dibuat terhenyak dengan kabar yang disampaikan oleh Bayu.


"Iya Bu, lusa Maya meminta Bayu untuk menikahinya secara siri."


"Mengapa tiba-tiba seperti ini sih Bay? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tidak ada yang tiba-tiba Bu, ini semua sudah menjadi keputusan aku dan Maya. Lagipula jika aku dan Maya cepat-cepat menikah pastinya jauh lebih baik bukan? Kita bisa segera menjadi orang kaya."


Sonya sedikit merenungi ucapan Bayu. Wanita itu membenarkan semua yang dikatakan oleh anaknya ini.


"Baiklah, Ibu setuju dengan apa yang sudah kamu putuskan. Tapi, dari mana saja kamu semalaman? Mengapa baru pulang?"


Tatapan penuh selidik terlihat jelas di mata wanita paruh baya itu. Tidak biasanya anaknya ini pulang sampai berganti hari. Bahkan Sonya menangkap satu sinyal aneh di mana di bagian leher Bayu ada bekas kemerahan seperti digigit oleh serangga.


Bayu sama sekali tidak merasa berdosa ataupun bersalah karena telah menghianati pernikahannya. Bahkan lelaki itu menampakkan ekspresi bangga karena mungkin sebentar lagi ia akan menjadi orang kaya.


"Bayu semalaman terjebak di kawasan yang terkena longsor, Bu."


"Lalu, kalian menginap di salah satu losmen dan bercinta?" tebak Sonya langsung tepat sasaran.

__ADS_1


Bayu hanya sekilas nampak terhenyak, namun setelah itu ia hanya bisa tersenyum kikuk seraya menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal.


"Kok Ibu tahu kalau Bayu dan Maya bercinta?"


Sonya mendengus kesal seraya menunjuk ke arah leher anaknya ini. "Bagaimana Ibu tidak tahu jika di lehermu ada bekas kemerahan seperti itu. Kelakuanmu persis seperti ayahmu. Yang memiliki besar nafsu."


"Manusiawi Bu. Aku juga hanya lelaki biasa, yang mudah untuk tergoda akan kemolekan tubuh wanita. Apalagi suasana dingin yang semakin mendukungnya," seloroh Bayu dengan kekehan kecil dari bibirnya.


"Oke, Ibu maklumi itu. Lantas, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


"Mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahanku dan Maya, Bu."


"Baiklah kalau begitu, sekarang waktunya untuk melakukan rencana kita Bay."


"Maksud Ibu rencana untuk menjual rumah ini?"


"Tidak!" jawab Sonya penuh ketegasan. "Kita tidak akan menjual rumah ini, namun kita gunakan sebagai jaminan utang ke bank. Kalau kita jual pastinya akan sangat sulit untuk mendapatkan pembeli, namun jika kita pakai sebagai agunan di bank, pasti akan sangat mudah," sambung Sonya pula.


Bayu mencoba untuk mencerna semua usulan sang ibu dan ia pun menganggukkan kepala, menyetujui apa yang diusulkan oleh Sonya.


"Baiklah Bu." Sepasang mata Bayu menatap lekat jam dinding yang menempel di salah satu sudut ruangan. "Tapi Bu..."

__ADS_1


"Tapi kenapa Bay?"


"Aku rasa lebih baik jangan kita jaminkan sertifikat rumah ini di bank, karena pasti prosesnya juga akan lama dan kita tidak bisa mendapatkan uang secepatnya."


"Lalu bagaimana Bay? Apa rencanamu?"


Senyum lebar terbit di bibir Bayu. Ia merasa selalu mendapatkan kemudahan dalam menjalankan rencananya ini. Dan ia merasa bahwa inilah jalan yang dipilihkan oleh Tuhan agar ia dapat keluar dari semua penderitaannya.


"Kita jaminkan sertifikat rumah ini ke pak Agus, Bu!"


Dahi Sonya sedikit berkerut. Mencoba untuk mengingat siapa itu Agus. "Agus? Agus rentenir tetangga kita dulu?"


"Ya, aku yakin dari pak Agus, kita pasti akan bisa mendapatkan uang secara mudah dan cepat. Waktunya serba mepet, kita harus bergerak cepat Bu!"


"Baiklah, ayo kita ke rumah pak Agus!"


.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2