

"Jadi, ada keperluan apa pak Bayu datang kemari?"
Sidiq, lelaki berusia enam puluh tahun itu menyambut kedatangan Bayu dan Sonya di siang hari ini. Sidiq kenal betul siapa Bayu. Baginya, Bayu adalah seorang lelaki dermawan yang dulu sering berbagi sembako di kampungnya ini. Namun ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini ia tidak pernah lagi berbagi. Sidiq ingat terakhir kali Bayu membagi-bagikan sembako tiga bulan yang lalu bersama sang istri.
Bayu dan Sonya saling melempar pandangan dan tersenyum simpul. Dalam hati, mereka percaya bahwa pak Sidiq bisa menolongnya.
"Pak Sidiq, maksud kedatangan saya dan ibu saya di sini yang pertama adalah untuk silaturahmi. Dan yang kedua, saya ingin meminta tolong kepada pak Sidiq," ucap Bayu menjelaskan.
"MashaAllah ... saya secara pribadi menerima kedatangan pak Bayu dan bu Sonya untuk bersilaturahmi. Lantas, apa yang bisa saya lakukan untuk pak Bayu dan bu Sonya?" ucap Sidiq dengan sopan.
"Begini Pak, saya kebetulan akan kedatangan tamu istimewa. Nah, tamu ini nantinya akan membantu saya dalam pengucuran modal usaha. Oleh karena itu, saya minta izin kepada pak Sidiq untuk menjalankan skenario dengan saya."
Dahi Sidiq berkerut dalam dan kelopak matanya menyipit. Ia tidak terlalu paham dengan apa yang Bayu sampaikan. "Menjalankan skenario? Skenario apa ya Pak?"
Lagi-lagi Bayu hanya tersenyum. Sejatinya, dalam hati ia merasa sangat gugup sekali. Takut jika Sidiq tidak mengizinkannya. Namun ia tetap yakin, yakin bahwa lelaki ini bisa diajak kerja sama.
"Saya meminta izin untuk mengaku bahwa pabrik kerupuk yang pak Sidiq miliki adalah milik saya. Tenang saja Pak, ini tidak akan lama. Mungkin hanya sehari saja. Di mana tamu itu mengunjungi tempat ini. Setelah itu saya pastikan tidak akan lagi saya meminta pertolongan seperti ini."
"Tapi, bukankah itu sebuah kebohongan Pak? Jatuhnya tidak akan berkah," ujar Sidiq dengan bijak.
"Pak Sidiq ....," panggil Sonya yang ingin berusaha membujuk Sidiq. "Saya dan anak saya benar-benar minta tolong. Hanya sekedar mengakui di depan tamu istimewa itu saja Pak dan hanya sekali. Saya pastikan setelah ini tidak akan berlanjut lagi. Tolong ya Pak. Anak saya ini sedang berupaya untuk bangkit dari keterpurukannya dan hanya dengan cara seperti itu Bayu bisa mendapatkan bantuan dana untuk kembali merintis usahanya," sambungnya pula.
Mendengar penjelasan Sonya membuat Sidiq berpikir sejenak. Ia merasa tidak akan ada kerugian jika hanya membantu Bayu mengakui pabrik miliknya menjadi milik Bayu. Pada akhirnya Sidiq menganggukkan kepala.
"Baiklah pak Bayu, bu Sonya, saya akan membantu kalian. Lalu, kapan tamu istimewa itu akan datang kemari?"
Bayu dan Sonya kembali bertatap netra seraya tersenyum lebar. Mereka merasa sudah berada di ambang keberhasilan.
"Nanti sore Pak, nanti sore saya dan tamu istimewa itu akan datang kemari. Lebih cepat lebih baik. Dan sore hari bukankah waktunya para karyawan Pak Sidiq berproduksi? Ini akan menjadi waktu yang pas sekali," terang Bayu.
__ADS_1
"Baiklah, nanti sore Pak Bayu bisa datang ke sini lagi. Saya akan membantu Pak Bayu dan bu Sonya sebisa yang saya mampu."
"Terima kasih banyak Pak Sidiq, terima kasih. Semoga usaha Pak Sidiq semakin maju karena telah memberikan pertolongan kepada saya yang sedang kesusahan ini," ujar Sonya seraya memberikan doa terbaik untuk Sidiq.
"Aamiin!"
****
"Akhirnya Bay , rencana kita mendapatkan kemudahan dari Tuhan. Apa mungkin ini sebagai pertanda bahwa jalanmu kembali menjadi orang kaya akan semakin terbuka lebar?"
Selepas bertandang ke rumah Sidiq, Sonya dan Bayu kembali ke kediaman mereka. Di teras, mereka sama-sama melepas lelah dan berbincang akan masa depannya.
"Itu sudah pasti Bu. Ternyata memang benar yang Ibu katakan bahwa Dinda adalah pembawa sial. Nyatanya sekarang, setelah aku memiliki rencana untuk membuangnya, nasibku akan kembali seperti semula. Aku akan kembali menjadi Bayu yang bergelimang harta."
Dengan tatapan menerawang ke arah pohon nangka yang tumbuh di halaman rumah, Bayu mengutarakan pendapatnya. Lelaki itu semakin mantap untuk meninggalkan Dinda yang dia rasa sudah tidak ia anggap sama sekali. Bahkan rasa cinta yang ada untuk sang istri terasa telah sirna semenjak ia bertemu dengan Maya. Sosok janda kaya dengan sejuta pesona.
"Hahahaha ... sekarang kamu mengakui bahwa apa yang Ibu katakan benar adanya kan? Sejak dulu Ibu tidak pernah merestui hubunganmu dengan Dinda, eh kamu malah seakan tutup mata," ujar Sonya dengan gelak tawa yang menggema.
"Ya, ya, ya, ya, Ibu percaya padamu Bay. Jadi, hari ini Ibu sudah bisa bertemu dengan calon menantu Ibu yang kaya raya itu?"
Bayu menganggukkan kepala mantap. "Tentu saja Bu. Tentu saja Ibi sudah bisa bertemu dengan Maya. Ibu sudah siap kan?"
Mendadak hati Sonya diliputi oleh rasa gugup setengah mati. Ia teramat takut tidak bisa membawa diri ketika bertemu dengan Maya yang notabene seorang janda kaya raya yang akan menjadi menantunya.
"Aduh, Ibu kok jadi gugup seperti ini ya Bay. Ibu harus mengenakan baju apa ya Bay biar tidak mengecewakan?"
"Ibu tenang saja, tidak perlu gugup. Semakin kita menampakkan wajah yang memelas karena tidak dihargai oleh Dinda, maka Maya akan semakin bertambah simpati. Dengan begitu, jalan kita akan semakin mulus," jelas Bayu.
"Benarkah? Kalau begitu, Ibu akan menampakkan wajah yang memelas."
Obrolan Bayu dan Sonya terpangkas kala dering suara ponsel milik Bayu berbunyi nyaring. Ia rogoh saku celananya dan di layar ponsel tertera nama Dinda.
__ADS_1
"Siapa Bay?"
"Dinda, Bu!"
"Dinda? Ayo buruan diangkat. Ini kan sudah awal bulan. Barangkali Dinda mau memberi kabar kalau dia sudah transfer uang."
Bayu mengangguk pelan. Gegas, ia menggeser icon warna hijau yang ada di layar.
"Hallo!"
"Hallo Mas, apa kabar kamu dan juga Ibu? Sehat kan?"
"Iya Din, aku dan Ibu sehat. Ada apa Din? Apa kamu mau memberi kabar kalau sudah transfer gajimu?"
"Iya Mas, aku sudah transfer gaji untukmu dan juga ibu. Nanti dicek ya Mas."
"Wah, wah, wah, bagus itu Din. Ibu senang karena kamu tidak melupakan janjimu untuk mengirimi Ibu uang. Ngomong-ngomong berapa yang kamu kirim ke Ibu? Banyak kan? Maksud Ibu semua gajimu kan?"
"Nanti di cek sendiri saja ya Bu. InshaAllah cukup dijadikan sebagai tabungan. Kalau begitu, Dinda kembali bekerja ya Bu. Ibu dan mas Bayu jaga kesehatan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam!"
"Bay, coba cek M-banking mu. Ibu mau lihat berapa yang dikirim Dinda untuk kita. Apakah gaji di Jakarta banyak? Atau malah sama saja dengan di sini!" titah Sonya seakan tidak sabar.
Bayu menuruti permintaan sang Ibu. Ia buka aplikasi M-banking yang ada di dalam ponsel dan terlihat di sana uang masuk dari Dinda.
"Apa-apaan ini? Mengapa hanya tiga ratus ribu yang dikirim oleh Dinda? Benar-benar keterlaluan!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...